JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan total akumulasi luasan lahan yang terbakar di wilayah Kalimantan mencapai 6,8 hektare dalam periode laporan 26-27 April 2026. Luasan tersebut mencakup titik api yang tersebar di Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
Berdasarkan data resmi, berikut adalah rincian luasan lahan yang terdampak di masing-masing wilayah:
| Wilayah | Lokasi Spesifik | Luas Lahan |
| Kalimantan Timur | Desa Empas, Kutai Barat | 1,5 Hektare |
| Kalimantan Timur | Desa Senaken, Paser | 1,0 Hektare |
| Kalimantan Selatan | Kelurahan Sungai Tiung, Banjarbaru | 4,3 Hektare |
| TOTAL | 6,8 Hektare |
Di Provinsi Kalimantan Timur, total luasan lahan yang hangus mencapai 2,5 hektar. Meskipun angka di Kabupaten Paser tercatat sebesar 1 hektare, kondisi di lapangan dilaporkan cukup sulit bagi petugas.
“Tim gabungan sempat kesulitan saat berupaya memadamkan api karena kondisi semak belukar, ilalang kering dan angin kencang,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan tertulis, 27 April 2026.
Seluruh api dilaporkan telah dipadamkan oleh tim gabungan BPBD, pemadam kebakaran, dan relawan masyarakat setempat. BNPB menegaskan bahwa pengawasan ketat diperlukan agar angka luasan lahan yang terbakar tidak terus bertambah, mengingat beberapa wilayah di Indonesia sudah memasuki kategori mudah terbakar.
“Dalam penanganan bahaya karhutla, pencegah dini merupakan langkah efektif untuk menghindari meluasnya area lahan yang terbakar,” kata Abdul.
Prakiraan kemarau
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balikpapan memperkirakan musim kemarau tahun 2026 di Kaltim tidak separah tahun-tahun sebelumnya. Fenomena El Nino di Kaltim tahun ini pada kategori lemah.
”Untuk Kaltim, polanya tidak sepenuhnya kering. Masih ada potensi hujan ringan hingga sedang selama periode April hingga Agustus 2026,” kata Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan Djoko Sumardiono.
Kendati demikian, BMKG mengingatkan potensi karhutla tetap ada. Terutama saat tak terjadi hujan berturut-turut dalam beberapa hari.
Selain itu, ada potensi kekurangan air bersih tetap ada saat kemarau di Kaltim. Karakteristik air hujan pada musim kemarau biasanya cepat mengalir sebelum terserap ke dalam tanah secara optimal.
BMKG mendorong warga memanen atau menampung air hujan saat hujan turun guna mengantisipasi kekeringan saat hujan tak turun. Selain itu, BMKG mencatat antisipasi karhutla perlu ditingkatkan saat hujan tak turun dalam beberapa hari.
Baca juga:
