SEMARANG – Manajemen PSIS Semarang langsung tancap gas menyongsong musim baru. Meski kompetisi Pegadaian Championship 2025/2026 baru saja ketuk palu, skuad Mahesa Jenar bergerak cepat dengan meresmikan Widodo Cahyono Putro sebagai juru taktik anyar mereka untuk mengarungi musim kompetisi 2026/2027.
Pelatih yang akrab disapa WCP ini mendarat di Semarang dengan modal mentereng. Ia merupakan aktor utama di balik keberhasilan Garudayaksa FC merengkuh gelar juara Pegadaian Championship 2025/2026. Kedatangan WCP sekaligus menggeser posisi Kas Hartadi, pelatih interim yang sebelumnya sukses menyelamatkan PSIS dari jurang maut di penghujung musim lalu.
Reputasi WCP sebagai spesialis pengantar tim menuju kasta tertinggi memang tidak perlu diragukan. Sebelum membawa Garudayaksa FC berjaya, pelatih karismatik ini tercatat sukses mengantarkan Persijap Jepara promosi ke Liga 1 pada musim 2024/2025, serta meloloskan Persita Tangerang ke kasta tertinggi pada musim 2019 silam.
“Bertepatan dengan momentum hari ulang tahun ke-94 PSIS Semarang, dengan bangga kami memperkenalkan Widodo C Putro sebagai pelatih kepala untuk musim depan. Berbekal rekam jejak dan pengalamannya yang berulang kali membawa tim promosi, kami berharap beliau mampu membawa Mahesa Jenar kembali ke kasta Liga 1, sejalan dengan target utama kami,” tegas Asisten Manajer PSIS, Moch. Reza Handhika, Senin (18/5) malam.
Evaluasi Musim Lalu: Lepas dari Kejaran Berdarah Persiba
Langkah agresif PSIS di bursa transfer pelatih ini merupakan buntut dari performa minor mereka sepanjang musim 2025/2026. Mahesa Jenar menyudahi kompetisi dengan finis di peringkat ke-8 dari 10 kontestan yang menghuni Grup 2 (Grup Timur).
Dari total 27 pertandingan yang dilakoni, PSIS tampil terseok-seok dengan hanya mengemas 23 poin. Statistik mencatat mereka memetik enam kemenangan, lima hasil imbang, dan menelan 16 kali kekalahan. Lini pertahanan juga menjadi rapor merah setelah kebobolan hingga 50 gol dan hanya mampu membalas 22 gol.
Kendati demikian, performa di penghujung musim di bawah asuhan Kas Hartadi sudah cukup untuk menyelamatkan PSIS dari jerat babak Playoff Degradasi. Sebelum mengamankan posisi aman, PSIS sempat terlibat aksi saling sikut yang sangat sengit dengan Persiba Balikpapan hingga laga-laga final fase pendahuluan.
Nasib sial akhirnya harus diterima Beruang Madu—julukan Persiba Balikpapan—yang finis di peringkat ke-9 dan dipaksa berjuang hidup-mati di babak Playoff Degradasi melawan wakil Grup 1 (Grup Barat), Persekat Tegal. Sementara bagi PSIS, keberhasilan bertahan hidup ini langsung direspons dengan proyek besar bersama WCP demi mengembalikan kejayaan klub ke kasta tertinggi sepak bola tanah air.
Baca juga :
