KUKAR – Satgas Penanggulangan Aktivitas Ilegal di Wilayah IKN melakukan aksi pemulihan lingkungan di Taman Hutan Rakyat (Tahura) Bukit Soeharto, Selasa (28/4/2026) pagi. Sebanyak 100 bibit pohon ditanam di atas lahan seluas 1 hektare yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta KM 65, Desa Batuah, Kutai Kartanegara.
Lahan yang dipulihkan ini merupakan bagian dari Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Universitas Mulawarman (Unmul) yang sebelumnya dibabat secara ilegal oleh oknum tidak bertanggung jawab. Jenis bibit yang ditanam meliputi Gaharu, Meranti, Balangeran, Nyatoh, hingga Nyamplung.
Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam OIKN, Myrna Asnawati Safitri, mengungkapkan bahwa aksi perambahan ini tergolong nekat karena berada tepat di pinggir jalan poros Balikpapan-Samarinda. Selama ini, para pelaku kerap melakukan aksi “kucing-kucingan” dengan petugas patroli.
“Jika ada patroli mereka berhenti, lalu mulai lagi. Hari ini kami tunjukkan komitmen Satgas, Pemda, dan Unmul untuk menjaga Tahura. Areal yang terbuka akan secepatnya kami tanami kembali tanpa mengesampingkan proses hukum bagi pelaku pembalakan,” tegas Myrna.
60 persen kawasan Tahura dirambah
Berdasarkan pemetaan, sekitar 60 persen kawasan Tahura Bukit Soeharto telah mengalami perambahan. Motifnya beragam, mulai dari tambang batu bara ilegal, perkebunan sawit, hingga permukiman. Myrna mensinyalir banyak pihak memanfaatkan masa transisi OIKN menjadi Pemerintah Daerah Khusus (Pemdasus) untuk masuk dan menguasai lahan.
“Ada upaya mobilisasi warga luar daerah untuk membuka lahan. Tujuannya agar nantinya muncul narasi seolah pemerintah tidak memberikan ruang kepada masyarakat, padahal ini murni penyerobotan kawasan lindung,” tambahnya. Sejauh ini, sudah ada tiga kasus perambahan yang masuk ke proses hukum.
Unmul : llmu pengetahuan yang turut dibabat
Kekecewaan mendalam dirasakan oleh pihak akademisi. Kepala UPA Sumber Daya Hayati Hutan Tropis Lembab (SDHHTL) Unmul, Ibrahim, menyebut aksi pembabatan di lokasi tersebut bukan sekadar hilangnya tegakan pohon, melainkan hancurnya riset ilmu pengetahuan.
Lokasi yang dirambah merupakan plot penelitian tanaman Nyamplung yang disiapkan sebagai bahan baku energi baru terbarukan (EBT). Ibrahim menaruh kecurigaan bahwa pelaku pembabatan adalah pihak yang mengerti nilai strategis lahan tersebut.
“Petak ini habis total. Padahal yang dibabat bukan hanya hutan, tapi ilmu pengetahuan. Potensi pengolahan buah Nyamplung menjadi bahan bakar nabati hilang karena ulah mereka,” ujar Ibrahim.
Ia mengamati adanya pergeseran tren pembalakan di Tahura seiring hadirnya IKN. “Mereka menganggap lahan ini akan bernilai sangat tinggi karena menjadi kawasan berkembang penyangga IKN. Ini adalah motif penguasaan lahan secara ilegal,” pungkasnya.
