• Berita
  • Incar Pasar Timur Tengah, Indonesia Kembangkan I-GCC FTA untuk Dorong Ekspor Sawit hingga Otomotif
Berita

Incar Pasar Timur Tengah, Indonesia Kembangkan I-GCC FTA untuk Dorong Ekspor Sawit hingga Otomotif

Perundingan I-GCC FTA rampung 86,7%. Wamendag Roro Esti optimistis ekspor Indonesia ke Timur Tengah melonjak hingga 17,4%.

Wamendag Dyah Roro Esti berdiskusi dengan delegasi Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mengenai percepatan penyelesaian I-GCC FTA. Perjanjian dagang ini diproyeksi membuka akses pasar baru dan memicu pertumbuhan ekspor produk Indonesia hingga 17,4 persen. (Foto : Kemendah RI)

JAKARTA – Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas antara Indonesia dan Dewan Kerja Sama Teluk (Indonesia–Gulf Cooperation Council Free Trade Agreement / I-GCC FTA) menunjukkan kemajuan signifikan. Saat ini, sebanyak 86,7 persen naskah perundingan telah berhasil diselesaikan oleh kedua belah pihak.

Capaian tersebut diungkapkan Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, saat menerima kunjungan General Coordinator GCC, Raja Almarzoqi, di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Wamendag Roro menegaskan, GCC—yang menaungi Arab Saudi, Persatuan Emirat Arab, Kuwait, Oman, dan Qatar—merupakan mitra ekonomi strategis yang melengkapi struktur perekonomian Indonesia.

“Hadirnya I-GCC FTA tidak hanya memfasilitasi arus perdagangan yang lebih besar, tetapi juga mendorong kemitraan investasi, kerja sama industri, alih teknologi, serta rantai pasok regional yang lebih tangguh,” ujar Roro dalam keterangan resminya.

Apabila resmi diimplementasikan, I-GCC FTA diproyeksikan menjadi instrumen strategis untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional, sekaligus mendongkrak pertumbuhan ekspor Indonesia ke kawasan Teluk hingga 17,4 persen.

Sektor Unggulan dan Diversifikasi Komoditas

Melalui perjanjian ini, Indonesia berpeluang memperluas diversifikasi komoditas ekspor ke negara-negara anggota GCC.

Sektor yang berpotensi tumbuh pesat meliputi minyak kelapa sawit beserta produk turunannya, komponen otomotif, makanan-minuman olahan, produk perikanan, produk halal, tekstil, furnitur, produk kertas, farmasi, hingga peralatan listrik.

Di sisi lain, Indonesia menyambut baik komoditas impor pendukung manufaktur dari kawasan Teluk, seperti minyak mentah, gas alam cair (LNG), pupuk, aluminium, dan bahan baku plastik.

“Indonesia memiliki keunggulan kompetitif di sektor manufaktur dan pertanian, sementara GCC unggul di bidang energi, logistik, pembiayaan infrastruktur, dan investasi. Sinergi ini akan melahirkan pertumbuhan ekonomi yang saling menguntungkan,” tutur Roro.

Mitra Kunci Transformasi Ekonomi Teluk

Sementara itu, General Coordinator GCC Raja Almarzoqi menyatakan bahwa negara-negara Teluk memandang Indonesia sebagai aktor penting bagi transformasi ekonomi kawasan di Timur Tengah.

“GCC memandang Indonesia sebagai mitra strategis bagi transformasi ekonomi negara anggota. Ke depan, I-GCC FTA akan meningkatkan volume perdagangan dan investasi di kedua belah pihak secara signifikan,” jelas Raja.

Kemendag optimistis sisa materi perundingan I-GCC FTA dapat rampung sesuai jadwal yang disepakati guna memberikan kepastian hukum dan iklim investasi yang kondusif bagi para pelaku usaha kedua kawasan.

Baca juga :

Picture of Alfian
Alfian
Jurnalis ProPublika.id. Menulis berbagai hal mengenai kriminal, ekonomi, olahraga, dan lingkungan.
Bagikan
Berikan Komentar