KEDIRI — Sebuah era sarat memori di kubu Persik Kediri resmi berakhir. Manajemen Macan Putih dengan berat hati mengumumkan perpisahan resmi dengan Faris Aditama, pemain tertua sekaligus salah satu figur paling karismatik di dalam skuad.
Pemain asli kelahiran Kediri tersebut memutuskan menyudahi masa baktinya setelah total menghabiskan 11 musim mengenakan jersi kebesaran Persik Kediri. Catatan kesetiaan yang luar biasa ini menyamai rekor milik legenda besar klub lainnya, Harianto, di mana keduanya juga pernah dipercaya mengemban ban kapten tim di era yang berbeda.
“Faris Aditama merupakan sosok yang tidak hanya menjadi panutan, tetapi juga teladan nyata di dalam maupun luar lapangan. Banyak pemain muda yang bergabung dengan Persik Kediri menjadikan sosok Faris sebagai mentor utama mereka, baik dari segi teknis permainan hingga bersikap,” ujar Manajer Persik Kediri, Rachmad Tri Kuncara.
Romantisme Dua Periode dan Gelar Juara
Kisah cinta Faris bersama publik Stadion Brawijaya terbagi dalam dua periode emas. Masa bakti pertamanya diukir pada periode 2010–2015, di mana Faris muda menjadi pilar penting yang membantu perjuangan Macan Putih bersaing di kasta tertinggi Indonesia Super League (ISL) musim 2014/15.
Setelah sempat merantau membela sejumlah klub domestik, takdir membawa sang putra daerah pulang ke tanah kelahirannya pada musim 2018/19. Saat itu, Persik baru saja merangkak naik dari Liga 3 ke Liga 2.
Kepulangan Faris menjadi suntikan magis. Di akhir musim, ia sukses memimpin rekan-rekannya merengkuh trofi juara Liga 2 sekaligus membawa klub masa kecilnya kembali ke habitat aslinya di Liga 1. Prestasi membanggakan ini menandai dimulainya periode kedua pengabdiannya, di mana ban kapten dengan setia melingkar di lengan pemain kelahiran 1988 tersebut.
Warisan Statistik Nomor Punggung 13
Selama berkostum Persik Kediri, pemain yang sangat identik dengan nomor punggung 13 ini menorehkan statistik impresif dengan total 111 penampilan di berbagai ajang resmi, serta menyumbang sembilan gol dan enam assist.
Faris juga memegang catatan unik di lini serang. Sejak musim 2019/20 hingga 2023/24, namanya tidak pernah absen menghiasi papan skor di setiap musimnya. Salah satu gol krusialnya tercipta pada pekan ke-33 musim 2023/24, saat sepakannya membawa Persik unggul dramatis dalam laga yang berakhir imbang 4-4 kontra PSS Sleman. Kendati keran golnya terhenti di musim 2024/25, ia tetap berkontribusi lewat sumbangan satu assist.
“Waktu 11 musim itu sangat panjang. Faris Aditama adalah simbol nyata dari loyalitas, komitmen, serta semangat pantang menyerah seorang pesepak bola. Namanya sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah emas Persik Kediri,” tutur Kuncara dengan nada emosional.
“Hanya klub legenda yang memiliki pemain legenda. Faris akan selalu memiliki tempat khusus dan abadi di hati para suporter serta manajemen klub,” pungkasnya.
Baca juga :
