BALIKPAPAN – Seekor Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) berjenis kelamin jantan ditemukan terdampar di pesisir Pantai Belakang Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, Balikpapan Selatan, Selasa (21/7/2026) sore. Satwa dilindungi berukuran panjang 99 sentimeter dan lebar 76 sentimeter itu berhasil dilepasliarkan kembali ke laut hanya sekitar 30 menit setelah laporan masuk.
Penyu diduga terdampar akibat hempasan gelombang besar yang terjadi sejak malam hingga pagi hari, diperkuat fenomena pasang surut yang menyeret satwa tersebut cukup jauh dari garis pantai.
PS Panit 2 Binmasair Ditpolairud Polda Kaltim, Aipda Taufik Ismail bilang, warga sekitar yang menemukan penyu langsung menghubungi Direktorat Polisi Air dan Udara (Ditpolairud) Polda Kaltim. Petugas menerima laporan sekitar pukul 15.00 WITA dan penyu berhasil dilepas ke laut sekitar pukul 15.30 WITA.
“Warga sekitar menginformasikan ada penyu terdampar di pinggir pantai. Kami langsung berkoordinasi dan memantau kondisi satwa tersebut. Beruntung warga di kawasan ini sudah paham dan sadar akan perlindungan satwa,” ujar Aipda Taufik, Selasa.
Kondisi Sehat meski Dipenuhi Tiram
Saat ditemukan, kondisi fisik penyu tergolong sehat dan aktif. Namun terdapat banyak cangkang tiram dan teritip yang menempel di bagian mulut serta tempurungnya. Penyu sempat tertahan di area pantai karena kondisi air laut yang surut, sebelum akhirnya dilepasliarkan begitu air mulai pasang.
“Kami sempat membersihkan tiram dan teritip yang menempel pada penyu tersebut sebelum dikembalikan ke laut lepas,” kata Taufik.
Taufik menambahkan, kawasan pesisir Balikpapan—dari Pantai Belakang Bandara SAMS hingga kawasan Lapangan SPN Brimob Polda Kaltim—dikenal sebagai habitat alami sekaligus tempat bertelur (nesting site) bagi penyu, sehingga kemunculan penyu terdampar cukup sering terjadi di sepanjang garis pantai tersebut.
“Sering kali nelayan mendapati penyu tersangkut di jaring mereka dan langsung dilepaskan atau dilaporkan ke pihak berwenang,” ungkap Taufik.
Di sisi lain, Taufik juga mengapresiasi respons warga yang langsung melaporkan penemuan penyu ini kepada petugas. “Artinya sosialisasi yang selama ini kita lakukan dipahami dengan baik oleh warga,” jelas taufik.
Pesisir Balikpapan Rumah Tiga Jenis Penyu
Perairan Balikpapan selama ini memang dikenal sebagai rumah bagi tiga dari enam spesies penyu yang ada di Indonesia, yakni penyu lekang, penyu sisik, dan penyu hijau. Ketiganya masuk dalam daftar Apendiks I CITES yang melarang perdagangan internasional. Penyu lekang berstatus rentan (vulnerable), penyu hijau terancam punah (endangered), dan penyu sisik berstatus kritis (critically endangered).
Pengawas Perikanan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Balikpapan, Hery Saputro, menjelaskan kehadiran penyu vital bagi ekosistem laut—mulai dari mengendalikan populasi ubur-ubur, menjaga pertumbuhan terumbu karang, hingga menyuburkan padang lamun. Namun eksistensi mereka kini terancam oleh proyek infrastruktur pesisir.
“Penyu itu sebenarnya bisa naik dan bertelur di mana pun selama ada pasir yang lembut dan putih. Tetapi kalau sudah ada proyek reklamasi, disemen, dipasang barikade, atau pelindung pantai buatan, penyu tidak akan mau naik lagi. Mereka hanya mau bertelur jika kondisi pantai dibiarkan alami,” beber Hery.
Selain reklamasi, polusi laut dan aktivitas penangkapan ikan ilegal menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup penyu. Pemerintah kini mendorong nelayan tangkap menggunakan Turtle Excluder Device (TED) atau alat pelindung penyu untuk meminimalkan kematian akibat tersangkut jaring.
Sejauh ini DKP3 Balikpapan mencatat sedikitnya 65 ekor penyu pernah diselamatkan di perairan setempat—didominasi penyu lekang, disusul 7 hingga 8 ekor penyu hijau, dan 2 ekor penyu sisik. Pantai DEB, Pantai Seraya, Pantai APN-Brimob Polda Kaltim, dan Pantai Manggar menjadi beberapa lokasi alami yang tersisa sebagai tempat pendaratan dan peneluran penyu.
Baca juga :
