• Cerita
  • Kisah Tuan Baud, Menara, dan Jembatan Kereta di Jatinangor
Cerita

Kisah Tuan Baud, Menara, dan Jembatan Kereta di Jatinangor

Jatinangor, kecamatan yang lekat dengan kampus dan mahasiswa, punya memori tentang perkebunan dan bangunan megah sisa penjajah.

Jembatan Cincin pada 1930-an, difoto Wijnand Kerkhoff. Foto repro buku Het Paradijs van Java.
Jembatan Cincin pada 1930-an, difoto Wijnand Kerkhoff. Foto repro buku Het Paradijs van Java.

Kawasan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, yang dikenal sebagai kawasan pendidikan—karena berdiri empat perguruan tinggi di sini, seperti Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Institut Koperasi Indonesia (Ikopin), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Padjadjaran (Unpad) serta ribuan mahasiswa rantau menetap selama masa studi—ibarat berlari kencang. Perubahan banyak terjadi, setidaknya dibandingkan masa saya berkuliah di sana, antara tahun 2002 hingga 2007.

Dahulu, hiburan kami hanya pergi ke warung internet yang bisa dihitung jari, ngopi di warkop, atau nongkrong hingga larut malam di gerbang utama Unpad—yang kini sudah dibongkar untuk perluasan jalan. Sekarang, Jatinangor tak hanya disibukkan dengan hilir-mudik bus antarkota, truk pengangkut barang, mobil-mobil pribadi, angkutan kota, dan sepeda motor—yang membuat penyeberang sedikit waswas karena tak ada jembatan penyeberangan. Namun, di Jatinangor sudah berdiri lima apartemen, berbagai kafe atau coffee shop, beberapa minimarket, dan kios-kios makanan kecil yang berdesakkan. Menjelang saya lulus, mal Jatinangor Town Square yang baru berdiri, kini semakin ramai pengunjung.

Di balik segala modernisasi—kalau tak mau dibilang pembangunan yang terkesan serampangan—itu, ada dua bangunan bersejarah yang masih berdiri: Jembatan Cincin dan Menara Loji. Jembatan Cincin letaknya persis di seberang tempat saya menimba ilmu dahulu, Fakultas Sastra—sekarang Fakultas Ilmu Budaya—Universitas Padjadjaran, yang merupakan akses pejalan kaki menuju Dusun Cikuda, Desa Hegarmanah. Sedangkan Menara Loji kini berada di lingkungan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) Jatinangor.

Banyak yang mengaitkan Jembatan Cincin dengan beragam cerita mistis. Begitu pula Menara Loji. Namun, sesungguhnya dua bangunan peninggalan masa kolonial itu adalah saksi bisu aktivitas perkebunan di wilayah Jatinangor.

Lahan Perkebunan

Pada masa kolonial, daerah ini bukanlah kawasan pendidikan, melainkan perkebunan. Tersebutlah nama Willem Abraham Baud atau orang-orang mengenalnya dengan Baron Baud sebagai penguasa perkebunan teh di Jatinangor.

Baud, menurut situs silsilah keluarga dunia Geneagraphie, lahir di Batavia pada 21 Juni 1816. Setelah menyelesaikan studinya di Utrecht, Belanda, pada 1842, ia kembali ke Jawa. Menjadi pengusaha perkebunan teh. Tahun 1861, ia membeli perkebunan teh Cikajang, Garut.1

Baud juga membuka lahan perkebunan teh di Jatinangor. Her Suganda dalam Jendela Bandung: Pengalaman Bersama Kompas2 menyebut, lahan perkebunan teh itu berada di bawah perusahaan bernama Cultuur Ondernemingen van Maatschappij Baud, dibuka pada 1841. Baud menjadi administratur di perkebunan itu. Namun, sumber lain, misalnya de Indische courant3 menulis, perusahaan Baud itu bernama N.V. Maatschappij tot Exploitatie der Ondernemingen. Selain di Jatinangor, Her menulis, ia membuka perkebunan teh juga di Bolang (Jasinga), Bogor, Cikasungka (Bandung), Ciumbuleuit (Bandung), dan Pamegatan (Garut).

Sementara itu, berdasarkan catatan yang ditulis seorang juru tulis atas perintah Patih Afdeling Sumedang sebagai bagian dari penyusunan dokumen peringatan 100 tahun Distrik Tanjungsari, yang terdapat dalam buku Sejarah Daerah Jatinangor: Dari Nama Perkebunan Menjadi Nama Kecamatan4 tahun 1841, Baud membuka perusahaan perkebunan di Kampung Cikeruh—wilayah Jatinangor. Perusahaan itu diberi nama Cultuur Onderneming Djatie Nangor.

Masyarakat menyebut Baud dengan Juragan Sepuh. Ia tinggal di rumah yang disebut sebagai gedong loji. Pada 9 Mei 1879, ia meninggal di Jatinangor.5 Menurut catatan itu, Baud dimakamkan di pekarangan gedong loji. Lalu dipindah ke Banyumas. Akan tetapi, situs web Geneagraphie—dilengkapi juga dengan foto nisan Baud—menyebut tuan tanah itu dimakamkan di Desa Bolang, yang kemungkinan ada di Bogor.

Widyo Nugrahanto, N. Kartika, dan Tanti R. Skober dalam Sejarah Daerah Jatinangor menulis, catatan itu adalah sumber sekunder karena disalin sekitar dua dekade awal abad ke-20 oleh seorang juru tulis. Terlepas dari itu, usai Baud meninggal, perkebunan Jatinangor kembali menjadi milik pemerintah kolonial. Beberapa kali perkebunan Baud mengalami reorganisasi. Her Suganda menulis, perkebunan teh di Jatinangor itu seiring waktu diganti dengan perkebunan karet.

Menara dan Jembatan Kereta

Bisa diduga, rumah loji yang disebut dalam catatan juru tulis yang dilampirkan di buku Sejarah Daerah Jatinangor adalah bangunan berbentuk huruf L yang punya 13 kamar—yang disebut Her dalam bukunya. Kini, menurut Her, bangunan itu sudah tak ada lagi. Di atasnya berdiri kerangka bangunan baru yang sudah lama dibiarkan terbengkalai. Rencananya, bangunan itu untuk sport centre.

Di sana, yang sekarang menjadi Taman Loji, berdiri sebuah menara yang dikenal sebagai Menara Loji. Menara itu saksi bisu aktivitas perkebunan di Jatinangor. Dahulu, tulis Her, menara itu berdiri di jalan masuk emplasemen perkebunan. Di ujung menara berbahan batu bata tersebut, di bagian puncak dahulu terdapat lonceng yang dibunyikan untuk memberi tanda para pekerja menoreh getah karet—atau mungkin juga memetik teh.

Menara Loji kemungkinan berdiri pada 1800-an atas inisiasi Baud sebagai infrastruktur pengawasan demi efisiensi kontrol produksi perkebunan. Menurut Hamdan Muhammad dalam Muslihat: Jurnal Sastra Eksperimental6, Menara Loji dirancang bergaya gotik Eropa abad pertengahan. Fungsi utamanya menyuarakan lonceng untuk tiga pergantian waktu, pukul 05.00, 10.00, dan 14.00 WIB. Lonceng itu dicuri pada 1981 oleh dua anak muda, yakni Itjang Djoedibarie dan Bonang P. Sirait. Disebutkan, Itjang adalah alumnus kriminolog Universitas Indonesia. Ia mengadaptasi crime pattern theory untuk memetakan pola keamanan menara. Sayangnya, Bonang menjual lonceng itu. Pencurian lonceng tersebut dikenang sebagai bentuk sabotase simbolik terhadap warisan kolonial.

Akan tetapi, kisah ini perlu diteliti lebih lanjut. Sebab, jika benar mereka adalah pencurinya, tak ada informasi lain—selain dari jurnal yang saya sebut—dalam berita media-media lokal. Dua orang tersebut juga mesti diselidiki lebih lanjut untuk mengetahui mereka benar-benar ada atau tidak. Yang jelas, menurut informasi lain, pencurian tersebut tak pernah terungkap hingga kini, tak jelas pula motifnya.

Tak jauh dari sana, jembatan kereta yang sekarang hanya berfungsi sebagai akses mahasiswa atau warga menyeberang ke Dusun Cikuda masih berdiri megah. Di balik cerita-cerita mistis perihal jembatan itu, tersimpan jejak sejarah jalur kereta yang menghubungkan Bandung dan Tanjungsari di Sumedang.

Proyek pembangunan jalur kereta api dan perluasannya di Bandung dipimpin seorang insinyur bernama L. Stegerwald. Jalur kereta Jatinangor-Cicalengka menjadi bagian dari sambungan rel menuju Rancaekek—yang menghubungkan jalur kereta api menuju Bandung. Seorang koresponden de Locomotief edisi 28 Agustus 1919 menulis, sejak akhir 1916 jalur kereta yang melewati perkebunan teh Jatinangor sudah beroperasi. Jalur itu punya 13 jembatan, yang sebagian besar terbuat dari kayu dilengkapi penyangga. Lalu pada 1919 sedang dibangun jembatan besi besar yang akan menjadi penghubung utama. Kemungkinan, sekarang jembatan itu dikenal dengan nama Jembatan Cincin. Dahulu disebut Jembatan Cikuda.

Koresponden de Locomotief itu menyebut, terdapat sekitar 800 orang kuli yang bekerja di proyek itu. Pekerjaan dijalankan seorang kontraktor Tionghoa, yang memantau langsung bersama para mandor. Mandor berasal dari Batavia, telah berkecimpung dalam pekerjaan serupa sekitar 30 tahun di lingkungan Staatsspoorwegen (SS). Dikemukakan, daerah Jatinangor sangat terpencil dan hampir tak ditemukan bahan bangunan. Oleh karenanya, bahan yang diperlukan didatangkan dari Leles, sedangkan kayu berasal dari Nagreg.

De Preanger-bode edisi 12 Februari 1921 menulis, jalur kereta Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari, dan perpanjangan lintasan hingga ke Cicalengka dilakukan dengan tujuan utama membuka wilayah yang belum berkembang dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Jalur itu diharapkan bisa mendorong perkembangan perkebunan dan perdagangan di wilayah pedalaman. Koran berbahasa Belanda itu menyebut, salah satu pekerjaan yang paling menonjol adalah pembangunan jembatan di atas Sungai Cikeruh—yang kini disebut Jembatan Cincin. “Jalur ini bukan hanya penting dari sudut pandang teknik dan ekonomi, tetapi juga menarik ditinjau dari segi arsitektur,” tulis De Preanger-bode.

De Preanger-bode mendeskripsikan jembatan itu: berada pada kemiringan 22,5 persen, tikungan jari-jari 200 meter, dan panjang keseluruhan 115,55 meter. Lalu, bentang bebas lengkung-lengkung atau kubah jembatan mencapai 14 meter. Titik terendah dasar jurang berada 24 meter di bawah permukaan rel. Dalam pembangunannya, digunakan sekitar 3.780 meter persegi pasang batu dan beton, serta 16 ton besi.

Kereta api yang melintas Jembatan Cincin, dengan latar belakang Gunung Geulis pada 1930-an masih bisa kita lihat dalam buku Het Paradijs van Java7 karya fotografer Belanda Wijnand Kerkhoff. Rel kereta di jembatan tersebut sudah sirna. Sebab, kata Her Suganda, pada masa pendudukan Jepang, rel kereta itu dibongkar, lalu diangkut ke Banten.

Jatinangor, sebuah kecamatan yang sekarang sudah lekat dengan perguruan tinggi dan mahasiswa, menyimpan jejak sejarah yang panjang. Memori tentang perkebunan dan bangunan megah sisa penjajah.

 


  1. geneagraphie.com (https://geneagraphie.com/getperson.php?personID=I479255&tree=1 diakses pada 9 Juli 2026).
  2. Suganda, Her. 2007. Jendela Bandung: Pengalaman Bersama Kompas. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
  3. de Indische courant, 5 November 1931.
  4. Nugrahanto, Widyo, N. Kartika, dan Tanti R. Skober. 2021. Sejarah Daerah Jatinangor: Dari Nama Perkebunan Menjadi Nama Kecamatan. Jatinangor: Unpad Press.
  5. Arnhemsche courant, 13 Mei 1879.
  6. Muhammad, Hamdan. 2025. “Sejarah Pencurian Lonceng Menara Loji” dalam Muslihat: Jurnal Sastra Eksperimental Vol. 1, No. 1, Mei 2025.
  7. Kerkhoff, Wijnand. tanpa tahun. Het Paradijs van Java. Leiden: Rijksmuseum voor Volkenkunde Leiden.
Picture of Fandy Hutari
Fandy Hutari
Fandy Hutari adalah penulis dan editor buku sejarah.
Bagikan
Berikan Komentar