• Berita
  • Hadapi Risiko Geopolitik Global, Wamenkeu Juda Agung Tegaskan Strategi Fiskal Harus Adaptif
Berita

Hadapi Risiko Geopolitik Global, Wamenkeu Juda Agung Tegaskan Strategi Fiskal Harus Adaptif

Wamenkeu Juda Agung sebut strategi fiskal harus adaptif dan prudent demi serap guncangan geopolitik global di CB Fest 2026.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung memberikan paparan dalam acara Central Banking Service Festival (CB Fest) 2026 di Jakarta, Senin (28/9/2026). Wamenkeu menekankan pentingnya strategi fiskal adaptif dan penguatan KSSK guna menghadapi risiko geopolitik global. (Foto : Kemenkeu)

BALIKPAPAN – Pemerintah terus memperkuat ketahanan fiskal dan sektor keuangan nasional agar mampu menyerap berbagai guncangan geopolitik global sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan bahwa kebijakan fiskal harus berfungsi sebagai penahan guncangan (shock absorber) di tengah meningkatnya disrupsi teknologi, fragmentasi keuangan, dan kompleksitas rantai pasok global.

Hal tersebut disampaikan Wamenkeu saat memberikan keynote speech pada ajang Central Banking Service Festival (CB Fest) 2026 bertajuk “Strengthening Financial Services Resilience Amid Escalating Geopolitical Risk to Support Economic Growth” di Jakarta, Senin (28/9/2026).

“Strategi fiskal harus tetap adaptif, prudent, dan berorientasi pada pertumbuhan; melindungi perekonomian saat ini sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal di masa depan,” ujar Juda Agung.

Juda menjelaskan, berbagai risiko global saat ini saling terhubung secara kompleks. Ketegangan geopolitik dapat mengganggu rantai pasok minyak dunia dan memicu lonjakan harga energi, yang berimbas pada kenaikan inflasi, penyesuaian suku bunga global, hingga pergerakan nilai tukar.

Oleh karena itu, peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sangat krusial untuk melindungi daya beli masyarakat dan mendukung aktivitas produktif tanpa mengorbankan kredibilitas serta disiplin fiskal.

Perkuat Kerjasama Lembaga Keuangan lewat KSSK

Selain memperkuat APBN, pemerintah menilai efisiensi dan ketahanan sektor keuangan menjadi fondasi utama. Perbankan diimbau untuk tidak hanya menyalurkan kredit, tetapi juga aktif mendorong produktivitas UMKM, penciptaan lapangan kerja, serta memperdalam inklusi keuangan.

Guna mengantisipasi dampak dari transformasi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence), sektor keuangan tetap memerlukan buffers serta pengaturan kontingensi demi menjamin keberlangsungan layanan.

Untuk memperkuat respons kebijakan, koordinasi lintas lembaga antara kebijakan fiskal, moneter, dan regulasi sektor keuangan terus dioptimalkan melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

“Ketahanan bukan berarti tidak adanya guncangan. Ketahanan adalah kemampuan kita untuk menyerap guncangan, beradaptasi terhadap perubahan, dan terus bergerak maju tanpa kehilangan kredibilitas dan kepercayaan publik,” pangkas Juda.

Baca juga :

Picture of Alfian
Alfian
Jurnalis ProPublika.id. Menulis berbagai hal mengenai kriminal, ekonomi, olahraga, dan lingkungan.
Bagikan
Berikan Komentar