BALIKPAPAN – Bank Indonesia (BI) memprakirakan perekonomian Kalimantan Timur (Kaltim) tetap tumbuh positif pada sepanjang tahun 2026 dengan kisaran pertumbuhan antara 2,5 persen hingga 3,5 persen.
Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim, Bayu Adi Hardiyanto, mengungkapkan bahwa kinerja industri pengolahan diproyeksikan menjadi salah satu penopang utama ekonomi daerah, seiring meningkatnya kapasitas pengilangan minyak dan gas (migas) melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan.
Di sisi lain, aktivitas konstruksi dan investasi juga tetap memberikan kontribusi kuat yang didorong oleh keberlanjutan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), khususnya pengembangan ekosistem tahap kedua yang mencakup gedung legislatif dan yudikatif.
“Pengembangan proyek industri dan investasi swasta di kawasan industri maupun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Salah satunya kemajuan proyek Soda Ash di Bontang yang memperkuat aktivitas konstruksi,” ujar Bayu, seperti dikutip dari laman kaltimprov.go.id, Jumat (18/9/2026).
Bayu menambahkan, sektor berbasis sumber daya alam seperti pertanian dan pertambangan masih menjadi pilar penopang. Peningkatan permintaan crude palm oil (CPO) domestik untuk program biodiesel diyakini mendukung industri pengolahan kelapa sawit, sementara permintaan energi dari negara mitra dagang dan peluang relaksasi RKAB menyokong ekspor batu bara.
“Untuk menjaga momentum ini, perkembangan kuota produksi, biaya energi dan logistik, serta dinamika cuaca tetap harus dicermati secara ketat,” jelasnya.
Ke depan, BI berharap pergerakan ekonomi Kaltim makin sejalan dengan target Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional menuju 8 persen.
Guna memperluas basis perekonomian daerah agar tidak bergantung pada komoditas mentah, BI mendorong pengembangan sektor pariwisata sebagai alternatif sumber pertumbuhan ekonomi baru di Kalimantan Timur.
Baca juga :
