BALIKPAPAN – Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur, Abdul Rahman Agus, resmi terpilih sebagai Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Kaltim periode 2026–2030. Dalam Musyawarah Provinsi (Musprov) yang berlangsung di Balikpapan pada Sabtu (16/5/2026) sore, Abdul Rahman sukses mengamankan pucuk pimpinan usai menang voting dengan meraih 7 suara, unggul dari rivalnya, Sapto Setyo Pramono, yang mengantongi 4 suara.
“Terima kasih atas amanah dan kepercayaan yang diberikan melalui 7 suara ini. Fokus utama kami ke depan adalah mendongkrak raihan prestasi kontingen Kaltim pada ajang PON 2028 mendatang,” tegas Abdul Rahman setelah hasil pemungutan suara disahkan.
Sanksi Tegas Antisipasi Boikot Atlet
Menakhodai organisasi baru, Abdul Rahman langsung memasang target pembenahan mentalitas dan komitmen para atlet. Ia menaruh perhatian serius pada rapor merah kepengurusan sebelumnya, di mana sejumlah pebiliar Kaltim sempat melakukan aksi boikot menjelang keberangkatan ke PON Aceh-Sumut lalu.
Guna memotong rantai masalah tersebut, POBSI Kaltim di bawah arahannya akan memperketat regulasi tertulis yang mengikat sebelum atlet resmi direkrut masuk ke dalam pemusatan latihan daerah.
“Pola pembinaan ke depan wajib mengedepankan aspek sportif dan diperkuat aturan hukum yang mengikat. Jika di kemudian hari masih ada atlet yang nekat melakukan boikot, kami dipastikan bakal menjatuhkan sanksi yang sangat tegas. Ini catatan evaluasi krusial bagi kami,” cetusnya.
Untuk skema penjaringan atlet potensial menuju PON 2028, POBSI Kaltim akan memantau performa para pebiliar di ajang Porprov Paser sebelum menyaringnya kembali melalui seleksi khusus.
Hapus Stigma Negatif, Dorong Izin Khusus Dispora
Berdasarkan data dari Ketua KONI Kaltim, Rusdiansyah Aras, benua etam sebenarnya memiliki modal besar dengan sebaran lebih dari 1.000 meja biliar—di mana sekitar 450 meja berada di Samarinda dan lebih dari 300 meja di Balikpapan. Namun, potensi ini dinilai belum optimal untuk melahirkan bibit prestasi karena mayoritas masih bergerak di sektor hiburan komersial (pool bisnis).
Mengatasi tantangan ini, Abdul Rahman berencana melobi Dispora Kaltim untuk pengadaan fasilitas pusat latihan mandiri agar para atlet tidak lagi menumpang latihan di tempat hiburan. Selain itu, ia juga akan berkoordinasi dengan PB POBSI terkait regulasi perizinan operasional.
“Kami ingin mengubah wajah biliar di mata publik. Selama ini izin tempat biliar rata-rata menyatu dengan Tempat Hiburan Malam (THM). Kami akan mendorong pemisahan klasifikasi; jika tempat itu murni untuk menggodok prestasi, maka izinnya harus dikeluarkan oleh Dispora,” urai Abdul Rahman.
Langkah strategis ini diambil demi mempermudah regenerasi atlet sejak usia dini tanpa bayang-bayang citra buruk. “Kalau status lokasinya masih dianggap THM, para orang tua pasti akan membatasi anak-anak mereka untuk berlatih. Kami butuh rumah biliar yang steril dan fokus mencetak prestasi,” tambahnya.
Estafet Kepengurusan dan Harapan KONI
Pelaksanaan Musprov yang tepat waktu pada bulan Mei ini mendapat respons positif dari mantan Ketua Pengprov POBSI Kaltim, Raymond Nirwan. Raymond memilih menyudahi masa baktinya setelah satu periode kepemimpinan yang berhasil memecah kebuntuan medali pada PON Aceh-Sumut.
“Harapan saya, nakhoda baru bisa melanjutkan fondasi program yang sudah berjalan baik, bahkan meningkatkannya, terutama dalam mengejar target raihan medali emas,” kata Raymond.
Dukungan serupa mengalir dari Ketua KONI Kaltim, Rusdiansyah Aras. Ia berharap kepengurusan anyar ini mampu melengkapi infrastruktur penunjang di daerah, termasuk pengadaan meja snooker yang populasinya masih sangat minim di kabupaten/kota.
“Biliar Kaltim punya ruang besar untuk merajai panggung nasional. Kami melihat ketua terpilih punya komitmen dan atensi tinggi sejak awal proses pendaftaran untuk memajukan olahraga ini,” pungkas Rusdiansyah.
