• Cerita
  • Pitrianti Norhan: Pendobrak Dominasi Maskulin di Sektor Pengepul Ikan Balikpapan Barat
Cerita

Pitrianti Norhan: Pendobrak Dominasi Maskulin di Sektor Pengepul Ikan Balikpapan Barat

Kisah Fitrianti, perempuan penggawa di Balikpapan Barat yang dobrak dominasi pria di bisnis pengepul ikan hingga tembus ekspor.

Pitrianti Norhan dan sang suami, Andi Dio, ditemui di rumahnya, Jalan 21 Januari RT 09, Kelurahan Baru Tengah, Balikpapan Barat, Jumat (5/6/2026) pagi. (Foto : Propublika.id)

BALIKPAPAN – Subuh belum sepenuhnya pecah di Jalan 21 Januari RT 09, Kelurahan Baru Tengah, Balikpapan Barat. Namun, bau amis yang tajam dan deru mesin pikap sudah menyudahi kesunyian pagi. Di halaman sebuah rumah sederhana yang menjadi tempat bongkar muat ikan itu, beberapa pria berbadan kekar sibuk menurunkan keranjang-keranjang berat berisi layang, nila hingga lele.

Di tengah riuh rendah kepulan asap rokok dan obrolan khas pesisir yang blak-blakan, berdiri seorang perempuan berusia 39 tahun. Tangannya cekatan memeriksa kualitas mata dan insang ikan, sementara suaranya terdengar lantang memberikan instruksi.

Ia adalah Pitrianti Norhan, atau yang akrab disapa Fitri. Di kawasan yang terkenal keras ini, Pitri adalah seorang “Penggawa”—sebutan lokal untuk bos atau pengepul besar ikan. Sebuah status disegani yang biasanya hanya melekat pada laki-laki.

Melawan Skeptisisme di Tepi Dermaga

Pitri tidak tumbuh dan besar di atas dermaga. Ia dulunya adalah pekerja kantoran yang terbiasa dengan kenyamanan ruangan ber-AC. Namun, jalan hidupnya berbalik pada Mei 2023, ketika sang ayah—pengepul ikan senior di Balikpapan Barat yang merintis usaha sejak 1980-an—berpulang.

Kepergian sang ayah sempat membuat aktivitas bisnis keluarga vakum hampir satu tahun. Pitri sempat didera kebimbangan. Namun, melihat usaha yang dirintis mendiang ayahnya selama lebih dari 40 tahun terancam gulung tikar, ia membulatkan tekad untuk turun langsung ke lapangan.

“Awal-awal saya masuk, saya sendirian perempuan di sini. Sempat minder sekali. Namanya dunia perikanan pesisir, persaingannya keras,” kenang Pitri.

Tantangan terberatnya di masa awal bukanlah soal modal, melainkan pandangan miring dari lingkungan sekitar. Tatapan meremehkan dari nelayan tua, kuli angkut, hingga sesama supplier menjadi santapan sehari-hari.

“Banyak sekali yang meremehkan. Saya sempat dengar selentingan, ‘Ngapain sih perempuan jadi penggawa? Anak perempuan tahu apa soal ikan?'” tuturnya dengan senyum getir.

Ujian mental tidak berhenti di situ. Perempuan 40 tahun ini juga harus berhadapan dengan gesekan persaingan bisnis yang tidak selalu sehat. Ada momen di mana ia merasa jatuh dan ingin menyerah.

Namun, alih-alih membalas dengan cara yang sama, Fitri memilih bertahan lewat pembuktian kinerja. “Kunci saya cuma memegang tanggung jawab dan jujur. Mau dijatuhkan seperti apa pun, kalau kita jujur, rezeki tidak akan tertukar,” tegas istri dari Andi Dio ini.

Konsistensi itu akhirnya membuahkan hasil. Keadaan berbalik. “Sekarang, orang-orang yang dulu meremehkan itu malah datang sendiri mengantar dan menjual ikan mereka ke saya,” tambah Pitri.

Pitri yakin perempuan juga bisa dan mampu memimpin di sektor sekeras apa pun. Kuncinya adalah jangan pernah berhenti belajar. (Foto : Propublika.id)

Pendekatan Persuasif

Memimpin pekerja yang mayoritas laki-laki dan berusia lebih tua membutuhkan seni tersendiri. Pitri sadar, menghadapi lingkungan yang mengandalkan otot tidak bisa dilawan dengan kekerasan yang sama. Ia justru memanfaatkan kepekaan dan pendekatan persuasif.

“Kalau laki-laki mungkin komunikasinya cenderung ngotot-ngototan. Kalau perempuan punya sisi keibuan, komunikasinya bisa lebih luwes dan persuasif,” jelasnya.

Meski bertindak sebagai pemilik usaha, Pitri bukan tipe bos yang hanya memantau dari balik meja. Jika pesanan sedang melimpah, ia tak segan ikut begadang hingga dini hari bersama para pekerjanya untuk “ngeloyang”—menyusun ikan ke dalam wadah sebelum dimasukkan ke dalam ruang pembekuan (freezer).

Membidik Pasar Eskpor

Di bawah kendali Pitri, usaha keluarga ini justru berkembang melampaui apa yang pernah dicapai generasi sebelumnya. Jika dulu sang ayah hanya memasok ke pasar tradisional dan satu perusahaan, di tangan Pitri, jaringan bisnisnya meluas hingga mengunci kontrak rutin dengan empat perusahaan besar yang bergerak di bidang katering tambang dan perhotelan.

“Sekarang saya lebih fokus bisnis ikan beku, sesekali saja menjual ke pedagang di pasar,” kata.

Ikan-ikan biasanya diterima Pitri dari berbagai daerah termasuk dari luar Balikpapan, seperti Handil (Kukar), hingga Gorontalo dan Palu.

Geliat pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur diakuinya ikut memberi imbas positif pada lonjakan permintaan pasar.

Bahkan, Pitri kini tengah bersiap melangkah ke panggung internasional melalui rencana ekspor perdana komoditas tenggiri ke Shanghai, Cina. “Permintaannya mencapai 15 ton per tiga minggu,” ungkapnya.

Saat ditanya apa motivasi terbesarnya untuk tetap bertahan di tengah bau amis dan dinginnya ruang pembekuan ikan, Pitri memberikan jawaban yang sederhana namun mendalam.

“Usaha ini sudah punya nama, sayang kalau disetop. Tapi yang lebih penting, pekerjaan saya ini menghidupi banyak orang. Ada pekerja di sini yang keluarganya bergantung pada usaha ini. Saya memikirkan nasib mereka juga,” tuturnya.

Bagi perempuan-perempuan lain di Balikpapan yang sedang atau ingin merintis usaha di sektor yang identik dengan pria, Pitri menitipkan sebuah pesan.

“Jangan pernah minder. Perempuan juga bisa dan mampu memimpin di sektor sekeras apa pun. Kuncinya adalah jangan pernah berhenti belajar,” tutup dia.

Baca juga :

Picture of Alfian
Alfian
Jurnalis ProPublika.id. Menulis berbagai hal mengenai kriminal, ekonomi, olahraga, dan lingkungan.
Bagikan
Berikan Komentar