• Berita
  • Temukan Kasus Cacing Hati di Balikpapan, DKP3 Imbau Bagian Hati Sapi Tak Dibagikan
Berita

Temukan Kasus Cacing Hati di Balikpapan, DKP3 Imbau Bagian Hati Sapi Tak Dibagikan

Meskipun ditemukan cacing hati, kondisi daging sapi secara umum tetap aman dan tidak mengalami masalah untuk dikonsumsi.

Kabid Kehewanan dan Peternakan DKP3 Balikpapan, drh. Mohamad Bisri. (Foto : Propublika.id)

BALIKPAPAN – Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Balikpapan menemukan indikasi penyakit cacing hati (Fasciola hepatica) pada hewan kurban. Berdasarkan laporan tim pengawas di lapangan hingga Jumat (29/5/2026), parasit tersebut ditemukan pada organ hati milik 7 ekor sapi di lima lokasi penyembelihan yang berbeda.

Kabid Kehewanan dan Peternakan DKP3 Balikpapan, drh. Mohamad Bisri, mengonfirmasi temuan tersebut namun memilih untuk tidak merinci identitas masjid tempat penyembelihan berlangsung. Lima lokasi pemotongan hewan kurban yang terindikasi itu tersebar di tiga kecamatan, yakni Balikpapan Utara, Balikpapan Selatan, dan Balikpapan Kota.

Meskipun ditemukan cacing hati, Bisri menegaskan bahwa kondisi daging sapi secara umum tetap aman dan tidak mengalami masalah untuk dikonsumsi.

“Hanya bagian organ hati saja yang menjadi tempat berkembangnya cacing. Dari sisi kesehatan manusia sebenarnya tidak terlalu ditekankan, karena dengan pemanasan atau proses memasak yang cukup, cacing hati ini akan mati. Tapi ingat, jangan dibuat sate,” ujar Bisri.

Kendati cacing bisa mati melalui proses memasak yang benar, DKP3 Balikpapan tetap mengimbau panitia kurban agar tidak membagikan organ hati yang telah terinfeksi tersebut kepada para penerima kurban (mustahik). Hal ini dikarenakan bagian hati yang sudah terkena parasit dinilai sudah tidak layak konsumsi.

Penyebab dan Ciri Fisik Sapi Terinfeksi Cacing Hati

Bisri menjelaskan, penularan cacing hati pada hewan ternak sangat dipengaruhi oleh pola pemeliharaan dan faktor pakan. Cacing hati memiliki siklus hidup di area rawa. Oleh karena itu, peternak yang menyabit rumput di sekitar rawa atau menggembalakan sapinya langsung di dekat rawa memiliki risiko penularan yang jauh lebih besar.

“Dalam kondisi infeksi yang sudah parah, sapi akan mengalami gejala gondongan dan badannya tidak bisa gemuk,” jelasnya.

Selain faktor lingkungan dan pakan, pertumbuhan parasit ini juga dipicu oleh kelalaian dalam pemberian obat cacing secara berkala. Menurut Bisri, pemberian obat cacing secara rutin merupakan program dasar dan wajib dalam manajemen peternakan, baik untuk sapi maupun hewan ternak lainnya.

Masyarakat sebenarnya bisa mengidentifikasi indikasi awal cacing hati secara kasat mata melalui pemeriksaan fisik hewan, meskipun diperlukan pengamatan yang lebih teliti. Ciri-ciri utamanya dapat dilihat dari kondisi rambut atau bulu ternak. Sapi yang terinfeksi biasanya memiliki bulu yang kusam, berdiri, serta mudah rontok dan menempel saat diusap.

Hingga saat ini, DKP3 Balikpapan terus menyisir tempat-tempat pemotongan hewan untuk menjamin kualitas daging kurban. Dari target sekitar 450 titik pengawasan sepanjang periode Idul Adha, tim pengawas dinas sejauh ini telah memeriksa dan mengawasi jalannya penyembelihan di 260 titik kurban.

Picture of Alfian
Alfian
Jurnalis ProPublika.id. Menulis berbagai hal mengenai kriminal, ekonomi, olahraga, dan lingkungan.
Bagikan
Berikan Komentar