BANJARMASIN – Korban meninggal dunia dalam kecelakaan KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo bertambah menjadi 6 orang hingga Minggu (13/9/2026) pukul 18.00 Wita. Tim SAR gabungan telah mengevakuasi 107 penumpang selamat. Sebanyak 130 orang lainnya masih dalam pencarian intensif di Laut Jawa.
Kapal berukuran 8.540 GT yang dikomandoi Nakhoda Arief Yunianto tersebut sebelumnya bertolak dari Surabaya menuju Banjarmasin pada Sabtu (12/9/2026) pagi. Namun, kapal dilaporkan miring (listing) dan hilang kontak pada Minggu sekitar pukul 02.00 WIB.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan, fokus utama pemerintah saat ini adalah pencarian korban.
“Dari 243 penumpang, tim evakuasi atau tim SAR yang dipimpin oleh Basarnas telah berhasil mengevakuasi sejumlah 107 penumpang yang selamat dan 6 orang meninggal dunia,” ujar Dudy Purwagandhi saat memberikan keterangan resmi di Posko SAR Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin.
Terkait penyebab musibah ini, pemerintah akan melakukan investigasi secara menyeluruh. Proses tersebut, kata Dudy, akan dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Proses pencarian
Sementara itu, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menjelaskan bahwa jarak tempuh dari Banjarmasin menuju titik lokasi memakan waktu sekitar 6 jam. Sementara tim SAR bergerak, pihaknya menghubungi kapal yang berada di sekitar lokasi kecelakaan.
Sejumlah kapal kemudian bergerak ke titik koordinat untuk menolong penumpang. Berdasarkan data sementara Basarnas, evakuasi dilakukan oleh beberapa kapal di sekitar lokasi. Kapal TB TCP mengevakuasi 6 orang (1 selamat, 5 meninggal dunia) dan MV Haida membawa 69 orang selamat.
Sementara itu, KM Cahaya Bahari Jaya mengevakuasi 22 orang selamat. Adapun kapal tanker MT Mauhau IX milik PT Pertamina Patra Niaga yang menyelamatkan 16 orang (15 selamat, 1 meninggal).
Tim gabungan saat ini masih fokus mencari 130 orang yang masih belum ditemukan. Operasi penyelematan ini juga didukung oleh alutsista udara dari Basarnas, Polri, TNI AL, hingga pesawat pemadam karhutla milik BNPB.
“Mulai tadi siang, kita diperbantukan satu pesawat yang sedang melaksanakan operasi pemadaman karhutla, yaitu pesawat Tarakan dari BNPB. Sejumlah kapal yang melintas langsung menolong para korban yang berenang dan mengambang di lautan,” ungkap Mohammad Syafii.
Di sisi lain, Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap aspek sains navigasi dalam pelayaran. Hal itu penting agar tak terjadi kecelakaan pelayaran berulang.
“Kepatuhan mutlak terhadap sains navigasi dan aturan baku pelayaran bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan benteng utama dalam melindungi nyawa jiwa manusia dan harta benda di laut. Nakhoda bertanggung jawab penuh memastikan kondisi stabilitas kapal berada dalam batas aman sebelum berlayar, serta menyiapkan rute darurat (passage plan) jika kondisi perairan memburuk secara drastis,” kata Daryono.
Baca juga:
