• Esai
  • Kepala Babi, Bangkai Tikus, dan Politik Teror ke Tempo
Esai

Kepala Babi, Bangkai Tikus, dan Politik Teror ke Tempo

Bangkai babi-tikus ke Tempo akhirnya hanya catatan kaki tentang bangsa yang tak bisa dipenjara teror. Kata-kata beranak-pinak. Bangkai tidak.

babi tikus tempo
Ilustrasi untuk: "Kepala Babi, Bangkai Tikus, dan Politik Teror ke Tempo". (Gambar: ProPublika.id)

Tak ada surat ancaman. Sebuah paket tiba tanpa nama ke sudut kantor Tempo di Palmerah, Jakarta. Di dalamnya: kepala babi tak berdosa dengan kuping terpotong. Bau busuk menguar dengan mata babi yang kosong. Setelah ramai dan menjadi perhatian, mungkin pengirimnya merasa berhasil. Si entah siapa kemudian mengirim bangkai tikus dengan kepala terpenggal pada Sabtu, 22 Maret 2025, pukul 08.00 WIB.

Tak ada surat ancaman. Mungkin tak perlu. Pesannya jelas: teror tak butuh kata-kata. Ia hanya perlu simbol yang menakut-nakuti, yang mengingatkan bahwa kekuasaan dan kekuatan bisa menjadi ritual barbar—tapi sebenarnya pertunjukan absurd.

Apa arti babi dan tikus dalam paket itu? Mengapa bukan pisau atau peluru? Sebab politik teror adalah bahasa yang tak ingin disebut terang-terangan. Ia bekerja sembunyi-sembunyi, dalam ketakutan yang dipelintir jadi teka-teki, yang kemudian berharap ditafsirkan sebagai laku keberanian.

Tapi apakah demikian? Teror dengan cara semacam itu adalah laku menimbulkan takut dengan cara pengecut: tak menunjukkan diri dan maksud.

Kita bisa menafsirkannya secara bebas. Dua binatang mati, ketika dikirim sebagai pesan, seolah menjadi pesan ancaman: kami tahu tempatmu, kami mengintaimu, dan kami bisa membelahmu.

Tapi ada yang lebih jahat dari ancaman itu sendiri: normalisasi teror sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari—seperti ungkapan ‘dimasak saja. Terlalu lama kekerasan di negeri ini dipertunjukkan dan menjadi bahan tertawaan mereka yang mapan.

Seolah-olah, di republik ini, sebuah pekerjaan patut dibayar dengan bangkai. Seolah-olah, ruang redaksi—sebuah tempat merawat kata-kata—pantas mendapat kiriman simbol-simbol kekejaman, tanpa kata-kata. Jika kebenaran diproduksi, lantas dianggap wajar jika dibalas dengan ancaman.

Parade kekerasan dan teror

Di masa Orde Baru, koran-koran dibredel dengan alasan “stabilitas”, tapi sesungguhnya ia adalah cara melindungi tikus yang dipelihara pembredel. Ketika sebuah kelompok tak sanggup menghadapi kata-kata, ia mengirim bangkai babi dan tikus sebagai peringatan: kami masih punya banyak bangkai yang kami simpan.

Apakah cara berbahasa rakyat jelata tak terbantahkan sehingga mesti membalasnya dengan teror?

Tapi babi dalam paket itu bukan sekadar ancaman. Ia juga parade kekerasan: mengolok-olok kita yang percaya demokrasi bisa diperjuangkan dengan kata-kata. Si pengirim paket seolah ingin menunjukkan demokrasi tak boleh berkembang sehingga mesti dijagal, sambil menyembunyikan pisau di balik punggung.

Bagi masyarakat Papua, babi adalah harta berharga dan kehormatan yang dihadirkan dalam setiap perayaan. Tapi di sini, di ruang redaksi Tempo, babi yang dikirimkan adalah potret entitas yang kebingungan—sehingga memilih bahasa binatang untuk menakut-nakuti manusia.

Ia tak sadar bahwa dengan mengirim bangkai, mereka justru membocorkan rasa takutnya sendiri: takut pada kata-kata, takut pada cahaya, takut pada rakyat jelata, takut pada mereka yang bekerja, takut pada demokrasi yang semestinya.

Tikus mati di paket itu mungkin adalah percobaan mengejek: “Kalian yang menceritakan kebenaran, lihatlah—hanya bangkai yang kalian dapat.”

Tapi bangkai tikus dan babi juga adalah cermin. Ia mengungkapkan siapa pengirim: bahwa mereka adalah penimbun berbagai bangkai.

Politik teror bukanlah monolit. Ia cair, seperti darah yang merembes dari paket itu. Ia bisa tampil sebagai kekerasan fisik, sebagai intimidasi, mengejek-ejek hukum, atau berlanjut ke serangan siber. Tapi esensinya tetap sama: upaya untuk mengubah kritik menjadi rasa bersalah, keberanian menjadi paranoia.

Imajinasi pengirim

Dengan mengirim simbol-simbol kematian, si pengirim ingin mengatakan: “Kami bisa mengontrol hidup dan mati.”

Tapi justru di situlah kelemahannya. Teror adalah pengakuan bahwa si teroris tak punya imajinasi tentang dirinya yang abadi—sebab takut hancur dengan kata-kata.

Bangkai-bangkai yang dikirim ke lorong redaksi itu menguarkan bau. Seperti bau zaman yang kita hirup setiap hari: zaman di mana kebenaran harus berhadapan dengan kekerasan. Zaman di mana jurnalis tak dibiarkan langgeng sebagai pencatat sejarah, tapi penyintas yang harus siap dicecar oleh parade kekejaman saat bekerja untuk kebenaran.

Dengan mengirim babi dan tikus, para pengirim justru mempertegas satu hal: bahwa kata-kata yang dimuat Tempo punya kekuatan. Masih sanggup mengusik, masih mampu membongkar.

Sebab, siapa yang perlu mengirim teror, kalau bukan mereka yang sedang ketakutan?

Apa kata kecerdasan buatan?

Jika peneror menggunakan bahasa teror, saya akan menggunakan bahasa lain: bahasa kecerdasan buatan. Entah dari mana, kecerdasan buatan yang saya pakai mengisahkan pertapa yang mendapat kiriman kepala anjing sebagai ancaman. Sang pertapa hanya tertawa: “Mereka mengira aku takut pada kematian. Padahal, yang kutakuti adalah hidup tanpa makna.”

Mungkin di sinilah letak kenormalan: tetap menulis, tetap membongkar, tetap menerbitkan—sebab setiap kata akan dianggap sebagai pembangkangan pada kezaliman. Sebab, selama masih ada yang mencatat, bangkai semacam itu akan dikubur dan menjadi pupuk penyubur. Orang lain akan menggandakan kata-kata dan catatan.

Esok hari, kata-kata dari lorong redaksi Tempo akan tetap terbit. Dan bangkai babi serta tikus dalam paket itu—seperti semua simbol kekerasan—pada akhirnya hanya akan menjadi catatan kaki dalam narasi besar tentang bangsa yang tak bisa dipenjara oleh teror. Sebab, kata-kata, pada akhirnya, akan beranak-pinak. Bangkai tidak.

Baca juga:

.

**) Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi menerbitkan ini sebagai wadah untuk diskusi, kebebasan berekspresi, dan kebebasan berpendapat.

Picture of Bien Thie Than
Bien Thie Than
Warga biasa. Buruh. Menulis dengan bantuan AI dan kemudian mengeditnya.
Bagikan
Berikan Komentar