Mudik: Pertemuan antara Kerinduan dan Kefanaan
Mudik adalah kisah tentang manusia Indonesia di antara kota dan desa. Kota menjanjikan kesuksesan, desa jadi kerinduan.
Mudik adalah kisah tentang manusia Indonesia di antara kota dan desa. Kota menjanjikan kesuksesan, desa jadi kerinduan.
Kisah tentang suatu negeri yang ingin mengubah UU Ke-tentara-an. Ada yang melihat ini sebagai hal kecil dan biasa. Tapi, apa demikian?
Teror kepala babi dan bangkai tikus ke Tempo bukan sekadar aksi iseng atau teror biasa, tapi bisa dibaca sebagai fenomena mikrofasisme.
Maraknya travel gelap di hari libur dan hari biasa adalah cerminan kegagalan pemerintah menyediakan angkutan umum ke pelosok negeri.
Kehadiran teror babi dalam politik cerminan bahwa kekuasaan bisa berubah jadi alat represi, alih-alih sebagai alat kebebasan dan keadilan.
Bangkai babi-tikus ke Tempo akhirnya hanya catatan kaki tentang bangsa yang tak bisa dipenjara teror. Kata-kata beranak-pinak. Bangkai tidak.
Kekuatan mendengarkan perbedaan pendapat adalah hal penting guna menguatkan prinsip Asta Brata dalam Asta Cita yang digagas Presiden Prabowo.
Agar mudik aman dan nyaman, banyak hal perlu disiapkan oleh setiap pemudik. Ini bisa mengurangi potensi kemacetan hingga kecelakaan.
Bumi Manusia menjadi karya modern tentang Indonesia mencari identitas di hadapan hukum kolonial. Bisa jadi pijakan membaca kondisi hari ini.
Meski karya-karya Pramoedya dihilangkan, dilarang terbit di negerinya sendiri, dan mengalami pe-rumahkaca-an, ia tak dapat dikategorikan sebagai orang yang kalah oleh vandalisme kekuasaan.