• Cerita
  • Kisah Pilu Orangutan Mauliyan dan Ariandi: Bertahan Hidup di Sisa Pulau Hutan Kutai Timur
Cerita

Kisah Pilu Orangutan Mauliyan dan Ariandi: Bertahan Hidup di Sisa Pulau Hutan Kutai Timur

Terperangkap di jalur hauling tambang Kutai Timur akibat fragmentasi lahan, induk orang utan kurus kering akhirnya dilepasliarkan.

Sempat pingsan akibat malnutrisi ekstrem di sisa hutan lanskap Karaitan, orang utan Mauliyan dan bayinya kini kembali ke alam liar. (Foto : BKSDA Kaltim)

BALIKPAPAN – Ruang gerak satwa endemik Pulau Borneo kembali berada di titik nadir akibat impitan aktivitas pembangunan ekonomi. Sebuah rekaman video yang memperlihatkan satu induk orang utan (Pongo pygmaeus) bersama bayinya melintas di jalan angkut (hauling) tambang dalam kondisi kurus kering memprihatinkan, sempat viral dan memicu sorotan tajam dari publik internasional.

Berdasarkan informasi dari Jaringan Penulis Alam (JPA), forum jurnalis yang fokus pada isu konservasi lingkungan, kedua primata malang tersebut teridentifikasi melintas di wilayah perbatasan konsesi pertambangan batu bara milik PT Ganda Alam Makmur dan PT Indexim. Secara administratif, lokasi penemuan berada di Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Kawasan ini merupakan bagian dari lanskap Karaitan yang mencakup tiga kecamatan penting, yakni Bengalon, Kaubun, dan Kaliorang. Wilayah tersebut sejatinya adalah rumah bagi meta populasi orang utan, namun kini kondisinya telah mengalami fragmentasi hebat akibat kepungan izin konsesi pertambangan batu bara seluas puluhan ribu hektar, perkebunan kelapa sawit, hingga Hutan Tanaman Industri (HTI). Alih fungsi lahan massal ini hanya menyisakan hutan sekunder dalam bentuk pulau-pulau kecil terisolasi yang tidak saling terhubung, memaksa satwa liar bertahan hidup di tengah minimnya ketersediaan pakan alami.

Merespons kedaruratan tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama tim penyelamat dari Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) bergerak cepat melakukan evakuasi pada 25 September 2023. Proses penyelamatan di lapangan berjalan dramatis karena tim penyelamat harus bermalam tepat di bawah pohon tidur satwa untuk membatasi ruang gerak mereka. Tim evakuasi bahkan sempat meleset tiga kali saat melepaskan jarum bius menggunakan senapan khusus karena kondisi tubuh sang induk yang terlampau kurus dan hanya menyisakan tulang.

Terperangkap di jalur hauling tambang Kutai Timur akibat fragmentasi lahan, induk orang utan kurus kering akhirnya dilepasliarkan. (Foto : BKSDA Kaltim)

Setelah dievakuasi, induk orang utan yang kemudian diberi nama Mauliyan (17 tahun) dan bayinya, Ariandi (3 tahun), langsung dilarikan ke pusat rehabilitasi yang dikelola oleh Centre for Orangutan Protection (COP) di Kabupaten Berau.

Manager Pusat Rehabilitasi Orangutan COP, Widi Nursanti, mengungkapkan bahwa kondisi fisik Mauliyan saat pertama kali tiba di klinik sangat memprihatinkan akibat mengalami malnutrisi berat dan dehidrasi akut. Nilai evaluasi kondisi tubuh atau Body Condition Score (BCS) Mauliyan berada di angka 1,5 dari skala maksimal 5. Angka tersebut mengindikasikan bahwa satwa kekurangan massa otot secara ekstrem hingga tulang-tulangnya menonjol jelas, matanya cekung, serta kulitnya mengelupas hingga merusak pertumbuhan rambut di sekujur tubuh.

“Ketika tim memeriksa saat proses evakuasi, ternyata air ASI yang keluar dari putingnya sangat sedikit, padahal dia memiliki anak yang masih sangat butuh perawatan. Tentu situasi itu menyusahkan sang induk dalam merawat anaknya di area pertambangan yang minim sumber pakan,” kata Widi Nursanti saat dikonfirmasi.

Ancaman kematian sempat membayangi Mauliyan pada hari keenam masa perawatan intensif di klinik. Akibat akumulasi kelaparan panjang di sisa habitatnya yang gersang, kadar glukosa dalam darah Mauliyan merosot tajam hingga menyentuh angka 52 miligram per desiliter. Kondisi hipoglikemia ditambah kekurangan kalsium atau hipokalsemia akut ini sempat membuat Mauliyan jatuh pingsan dan kehilangan respons fisik total.

Paramedis COP, Miftachul Hanifah, menceritakan bagaimana tim medis berjibaku melakukan intervensi darurat demi menyelamatkan nyawa induk orang utan tersebut dari fase kritis sejak pagi hingga siang hari. Tim medis menerapkan terapi cairan infus dextrose secara masif, dikombinasikan dengan pemberian pasokan suplemen berkadar lemak tinggi seperti alpukat, susu kedelai kaya protein, serta minyak kelapa murni yang dicampur ke dalam pakan untuk mengembalikan kelembapan kulitnya.

“Mauliyan diberikan porsi makan dua kali lipat lebih besar dibandingkan orang utan lain. Syukur, pada sore hari setelah penanganan intensif, dia sudah siuman dan mau makan kembali. Pada Desember 2023 atau selang tiga bulan pasca-penyelamatan, berat badannya naik signifikan sebanyak 9 kilogram, dari yang tadinya hanya 19 kilogram menjadi 27 kilogram,” tutur Miftachul.

Terperangkap di jalur hauling tambang Kutai Timur akibat fragmentasi lahan, induk orang utan kurus kering akhirnya dilepasliarkan. (Foto : BKSDA Kaltim)

Berbeda dengan sang induk, kondisi sang bayi, Ariandi, terpantau relatif lebih baik dengan skor fisik ideal di angka 3 dari skala 5, meskipun sempat terdeteksi memiliki larva cacing pada pemeriksaan feses rutin yang kemudian langsung ditangani dengan obat cacing preventif. Selama masa pemulihan, pihak rehabilitasi menerapkan kebijakan interaksi minimum dengan manusia demi menjaga sifat liar alami keduanya tetap utuh.

Upaya pemulihan medis yang berjalan selama enam bulan tersebut membuahkan hasil positif hingga berat badan Mauliyan menyentuh angka normal 34 kilogram pada Maret 2024. Setelah dinyatakan lolos uji kesehatan menyeluruh dan bebas dari penyakit menular, tim medis merekomendasikan keduanya untuk segera dipulangkan ke habitat alami.

Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto, menegaskan bahwa langkah rehabilitasi yang diberikan kepada Mauliyan dan Ariandi murni ditujukan untuk pemulihan dan peningkatan status kesehatan fisik akibat malnutrisi, bukan untuk merehabilitasi perilaku atau tingkah laku satwa. Menurut Ari, insting dan sifat liar alami kedua individu tersebut masih terjaga dengan sangat baik dan agresif sehingga tidak memerlukan waktu adaptasi yang lama di kandang sekolah hutan.

“Keduanya mengalami malnutrisi, jadi difokuskan pada peningkatan nutrisi. Setelah beberapa bulan, menurut tim kami dan dokter hewan, kondisinya sudah cukup layak dari sisi perilaku maupun kesehatan untuk segera dilepasliarkan di kawasan hutan lindung yang dimiliki oleh rekan-rekan COP, yaitu di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kutai Timur. Kami akan terus memantau pergerakan kedua individu orang utan tersebut di sana,” pungkas Ari Wibawanto.

Kini, Mauliyan dan Ariandi telah resmi menjalani kehidupan barunya di belantara Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat sejak Maret 2024. Saat pintu kandang transportasi dibuka di tengah hutan, Mauliyan langsung terekam keluar memeluk batang pohon tinggi sembari menggendong erat Ariandi di dekapannya, lalu bergerak memanjat bersama menuju tajuk pohon, kembali ke rumah yang semestinya.

Picture of Alfian
Alfian
Jurnalis ProPublika.id. Menulis berbagai hal mengenai kriminal, ekonomi, olahraga, dan lingkungan.
Bagikan
Berikan Komentar