SAMARINDA – Kalimantan Timur (Kaltim) diminta segera menyiapkan strategi ekonomi baru untuk menghadapi transisi energi global. Anggota Komisi II DPRD Kaltim, Firnadi Ikhsan, menilai ketergantungan daerah pada sektor tambang dan minyak tidak bisa dipertahankan dalam jangka panjang.
“Kita tidak bisa terus-menerus bergantung pada sektor ekstraktif. Dunia sedang berubah. Kalau Kaltim tidak segera mengubah arah ekonomi, kita akan tertinggal,” ujar Firnadi, Rabu (5/6/2025).
Ia menegaskan bahwa provinsi ini memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Namun, kelemahan utama ada pada belum optimalnya proses hilirisasi. Banyak komoditas lokal masih dijual dalam bentuk mentah tanpa nilai tambah.
“Komoditas seperti kelapa, sawit, ikan air tawar, dan sapi lokal sebenarnya punya prospek besar. Tapi kita lemah di hilirisasi. Semua masih dalam bentuk bahan mentah,” jelasnya.
Firnadi mendorong agar transformasi ekonomi tidak hanya bertumpu pada proyek besar dan investor besar. Menurutnya, penguatan UMKM lokal harus menjadi langkah awal, dengan dukungan teknologi, permodalan, dan akses pasar yang memadai.
“Transformasi ekonomi itu bukan hanya proyek besar. Bisa dimulai dari pengolahan kelapa jadi santan kemasan, ikan jadi olahan beku, atau limbah sawit jadi energi alternatif. Yang penting, ada nilai tambah di sini,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun ketahanan ekonomi jangka panjang seiring menurunnya penggunaan energi fosil secara global. Bagi Firnadi, ini saatnya Kaltim mengambil peran dalam ekonomi hijau yang lebih berkelanjutan.
“Jangan sampai kita hanya jadi penonton ketika ekonomi dunia bergeser ke arah hijau dan berkelanjutan. Kaltim punya semua syarat untuk jadi produsen pangan, energi alternatif, dan produk lokal berdaya saing,” ujarnya.
Firnadi memastikan DPRD Kaltim akan mendukung kebijakan dan anggaran yang berpihak pada pembangunan ekonomi non-tambang. Ia mendorong pemerintah daerah segera menyusun roadmap ekonomi yang konkret, berbasis potensi lokal di tiap wilayah.
“Kita harus mulai sekarang. Ekonomi daerah ke depan harus produktif, inovatif, dan tidak tergantung pada apa yang digali dari dalam tanah,” tutup Firnadi.
Baca juga :
