Tahun 2025 pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dibuka oleh protes digital masif generasi muda. Kita bisa mendaftar panjang bagaimana keterlibatan politik anak muda di Indonesia justru mengambil peran oposisi. Kini, akhir 2025, Prabowo mesti bergelut dengan gerakan solidaritas anak-anak muda membantu korban bencana di Pulau Sumatera dengan cara mereka sendiri. Gerakan mereka yang lekat dengan kamera gawai dan akses internet berimplikasi kepada citra pemerintah dalam menangani kasus tersebut, terlebih karena tak kunjung menetapkan status bencana nasional.
Dinamika politik Indonesia 2025 justru muncul karena tegangan diskursif antara gerak pemerintah dan isu yang digulirkan di sana. Partai-partai yang tidak menjadi koalisi besar pendukung Prabowo-Gibran justru tidak secara signifikan mendinamiskan gerak politik dalam pengambilan keputusan eksekutif maupun legislatif. Padahal dinamika demikian yang menebalkan prinsip deliberatif dalam demokrasi kita. Sepanjang 2025 pemerintahan Prabowo-Gibran seolah mendapat pengawasan melalui parlemen jalanan dan virtual terus-menerus.
Keterlibatan politik anak muda, terutama generasi Z (1997-2012) yang kerap disebut digital native, tidak melulu terjadi dalam situasi tegang seperti demonstrasi jalanan yang berpotensi mengalami eskalasi menjadi kerusuhan karena berbagai faktor, entah itu sabotase atau kelelahan fisik dan mental yang membuat aparatur pengamanan maupun demonstran sama-sama mengalami pendek akal. Anak-anak muda merawat ingatan politik dalam aktivitas keseharian digital mereka dalam bentuk sirkulasi meme, video pendek, komentar, atau bentuk lain yang memanfaatkan fitur yang disediakan platform internet, seperti kecerdasan buatan. Generasi Z dapat mengajukan kritik substantif dengan riang gembira.
Politik riang gembira anak muda digital ini terus konsisten mewarnai demokrasi Indonesia pada 2024-2025. Pada 2024, gerak politik itu menguntungkan Prabowo-Gibran. Politik riang gembira itu menjadi strategi resmi banyak diucapkan oleh tim kampanye pasangan tersebut pada masa kampanye dulu untuk menarik generasi muda yang menguasai lebih dari separuh daftar pemilih tetap pemilu 2024. Kampanye akbar yang diisi joget gemoy maupun pemanfaatan tokoh kartun sebagai perwujudan karakter Prabowo dan Gibran masih menjadi realisasi strategi tersebut. Arus balik politik gembira ini harus dihadapi keduanya sepanjang 2025.
Semakin masih keterlibatan politik anak muda dalam melalui platform digital seharusnya menjadi angin segar bagi koalisi pengusung Prabowo–Gibran yang mengusung narasi kampanye ‘memberi kesempatan anak muda untuk memimpin’. Para ketua atau elit partai kala itu banyak menyampaikannya dalam wawancara media. Habib Luthfi bin Yahya pun menyampaikan pernyataan serupa pada masa kampanye dulu. Kehadiran Ferry Irwandi yang memimpin gerakan swadaya anak-anak muda membantu korban-korban bencana di Sumatera pun berada dalam spektrum pernyataan politik tersebut. Kehadiran Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden termuda sepanjang sejarah Indonesia memicu kehadiran tokoh-tokoh muda dalam pelbagai aktivitas politik, meski spektrum geraknya berlawanan dengan posisi Gibran.
Dialektika anak muda berpolitik dalam posisinya masing-masing ini justru perlu dilihat dengan perspektif positif karena semakin mendemokratisasi politik Indonesia. Internet pada tahun-tahun menjelang Reformasi 1998 dan tahun-tahun setelahnya banyak disebut para ilmuwan turut menjadi instrumen demokratisasi di Indonesia. Trajektori itu, ditambah peran internet, terus berlanjut hingga 2025 ini. Masifnya gerakan digital anak muda 2025 ini menunjukkan internet menumbuhkan kesadaran politis mereka sebagai warga negara dalam sistem demokrasi.
Gerakan politik generasi Z semakin diperhitungkan dalam perbincangan global. Council of Foreign Relation mencatat sejak 2024 sampai 8 Desember 2025 generasi Z telah memimpin gerakan politik di Meksiko, Peru, Maroko, Kenya, Madagaskar, Serbia, Nepal, Indonesia, Filipina, dan Timor Leste. Daftar itu perlu ditambahi dengan Bulgaria yang mengalami gejolak akibat protes yang dipimpin generasi Z dalam menyoroti fenomena korupsi di sana. Korupsi dan ketimpangan ekonomi dapat dilihat sebagai faktor utama yang diperhatikan generasi muda. Indonesia bahkan mengalami kerusuhan pada Agustus-September lalu karena dipicu ketimpangan tersebut.
Gerakan-gerakan anak muda global ini tidak berdiri sendiri. Gerakan-gerakan ini saling menginspirasi satu sama lain. Indonesia mengawali penggunaan bendera dalam serial anime One Piece sebagai simbol protes, kemudian simbol ini menyebar ke pelbagai negara seperti Nepal atau Prancis. Begitu pun anak muda Indonesia akhirnya mengimajinasikan kondisi Nepal sebagai jalan buntu ketika kanal aspirasi tersumbat dan perubahan menjadi lebih baik tidak kunjung terjadi.
Mereka menciptakan terminologi ‘dinepalkan’ untuk menandai jalan buntu tersebut. Kata ini disirkulasikan di kolom komentar. Sifat kolaborasi dan saling menginspirasi dapat menjadi konsekuensi logis dari mediatisasi internet yang diproyeksikan oleh Manuel Castell dapat membentuk Network Society. Milk Tea Alliance telah mencontohkan bagaimana aliansi antara anak muda dari Hong Kong, Taiwan, Thailand, dan Myanmar memperjuangkan demokrasi dan menentang otoritarian pada 2020.
Dari sini, kita bisa merefleksikan kembali bahwa strategi resmi politik riang oleh Prabowo-Gibran telah membantu untuk merumuskan bahwa mode komunikasi politik yang lentur dan efektif bagi anak muda digital. Jika pada 2024 “joget gemoy” berfungsi untuk mendekonstruksi citra keras dan mendekatkan figur, pada 2025 meme dan video pendek satire digunakan untuk mendekonstruksi kebijakan yang dianggap lamban atau tidak berpihak. Kritik substantif terhadap ketimpangan ekonomi dan korupsi yang menjadi faktor pendorong global gerakan Generasi Z dikemas dalam format budaya pop yang mudah dicerna dan diviralkan, membuatnya sulit dibendung dengan pendekatan keamanan konvensional. Keberanian mereka tidak lagi terletak pada benturan fisik di jalanan, tetapi pada ketajaman narasi di ruang digital yang mampu menggerakkan solidaritas dan membentuk opini. Dalam konteks ini, Ferry Irwandi dan gerakan swadaya bencana adalah manifestasi aksi nyata di lapangan yang dokumentasi dan narasinya dikelola secara mandiri, menciptakan kanal bantuan dan informasi paralel yang bersaing dengan narasi resmi.
Keterhubungan gerakan muda Indonesia dengan jaringan global merupakan kekuatan baru mereka. Anak muda Indonesia menjadi bagian dari network society global yang peka terhadap isu-isu seperti keadilan iklim, anti-korupsi, dan kesenjangan ekonomi. Solidaritas ini menciptakan tekanan yang bersifat transnasional, di mana kegagapan menangani bencana di Sumatera bisa dengan cepat menjadi bahan perbandingan dan kritik dari aktivis muda di negara lain ataupun sebaliknya. [*]
Baca esai lainnya di sini.
