NUSANTARA – Wajah Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak hanya dibangun melalui kemegahan infrastruktur modern dan teknologi pintar. Unsur pelestarian seni budaya serta penguatan ekonomi kreatif masyarakat lokal kini mulai diintegrasikan secara masif sebagai bagian dari identitas kota masa depan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kolaborasi Otorita IKN bersama Bank Indonesia dalam menggelar Workshop Pengembangan Motif Batik bagi Pengrajin Wastra di Ibu Kota Nusantara yang berpusat di Kantor Kemenko 1 IKN.
Agenda intensif ini menjadi wadah bagi 50 pengrajin lokal yang tergabung dalam sembilan kelompok batik di sekitar delineasi IKN untuk mentransformasikan imajinasi visual mereka tentang Nusantara ke dalam sehelai kain wastra berkarakter kuat.
Direktur Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Otorita IKN, Muhsin Palinrungi, memaparkan bahwa industri wastra di sekitar Kalimantan Timur sebenarnya sudah tumbuh secara swadaya, namun memerlukan intervensi kualitas desain agar memiliki daya saing makro.
“Wastra di sekitar IKN sudah berkembang. Namun, tentu masih perlu penguatan agar produk yang dihasilkan memiliki nilai jual tinggi dan mampu bersanding sejajar dengan batik-batik legendaris luar daerah yang sudah dikenal luas,” ujar Muhsin dalam keterangan resminya, Sabtu (27/6/2026).
Metode Modern untuk Desain Etnik Kalimantan
Dalam pelatihan ini, para pengrajin tidak sekadar diajarkan teknik membatik konvensional. Mereka dibimbing langsung oleh tim ahli dari pengembang batik Tepa Selira untuk menerapkan metode desain modern, mulai dari pencarian ide dasar lewat skema mind mapping, penyusunan moodboard, pengembangan elemen visual komparatif, hingga penyempurnaan desain grafis motif.
Kepala SKB Bank Indonesia IKN, Aura Pandu Wirawan, menekankan bahwa motif baru yang lahir dari rahim IKN harus mampu merepresentasikan semangat transformasi zaman, kesederhanaan, namun tetap anggun.
“Semakin hari aktivitas di IKN semakin ramai dan identitasnya perlu kita tonjolkan ke publik. Harapannya, desain yang lahir memiliki unsur modern karena IKN membawa spirit transformasi dan digitalisasi. Kita ingin karya yang sederhana, anggun, tetapi karakternya tetap melekat kuat,” kata Aura.
Inspirasi Baru bagi Pengrajin Samboja
Manfaat dari pelatihan intensif ini dirasakan langsung oleh Rusmayawati, salah satu peserta pelaku usaha batik asal Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara. Ia mengaku mendapatkan perspektif dan wawasan baru dalam memandang industri kain nusantara.
“Pelatihan ini membuka mata kami agar tidak memproduksi karya yang monoton. Kami belajar bagaimana mengubah imajinasi visual tentang rimba dan modernitas IKN menjadi sebuah karya nyata yang bernilai ekonomi,” ungkap Rusmayawati.
Melalui pengembangan wastra lokal ini, Otorita IKN berharap cerita sejarah dan filosofi ekologi Nusantara dapat terus hidup, tumbuh, dan berkembang secara inklusif berdampingan dengan peradaban modern masyarakatnya.
