• Esai
  • Mengenang Pak Salim: Keikhlasan Sunyi dari Masjid Jamiatul Islam Balikpapan
Esai

Mengenang Pak Salim: Keikhlasan Sunyi dari Masjid Jamiatul Islam Balikpapan

Pasca-Lebaran, saya mengenang Pak Salim. Muazin di Balikpapan yang menjaga marwah masjid dengan keikhlasan.

Mengenang Pak Salim: Takmir, Muazin, dan Marbot Masjid Jamiatul Islam Balikpapan. (Ilustrasi: ProPublika.id)
Mengenang Pak Salim: Takmir, Muazin, dan Marbot Masjid Jamiatul Islam Balikpapan. (Ilustrasi: ProPublika.id)

Keriuhan silaturahmi dan hidangan khas Lebaran pelan-pelan mulai mereda, menyisakan ruang bagi saya untuk merenung: apa yang sebenarnya membekas dari Ramadan tahun ini?

Bagi saya, dan mungkin warga di sekitar Masjid Jamiatul Islam, Manggar Baru, Kota Balikpapan, Ramadan kali ini menyisakan ruang hampa yang ditinggalkan oleh sosok almarhum Pak Salim.

Pada 2016, saat masih bekerja sebagai jurnalis lokal, saya mewawancarai almarhum Pak Salim yang kala itu berusia 77 tahun. Beliau adalah sosok yang memancarkan keikhlasan lahir dan batin—seorang penjaga marwah di Masjid Jamiatul Islam.

Foto dari udara Masjid Jamiatul Islam dan rumah warga di pesisir Sungai Manggar. Foto : Januari, 2026. (Arsip Alfiansyah)
Foto dari udara Masjid Jamiatul Islam dan rumah warga di pesisir Sungai Manggar. Foto : Januari, 2026. (Arsip Alfiansyah)

Sejak 1988 hingga 2020, Pak Salim mengabdi dengan peran ganda sebagai takmir, muazin, sekaligus marbot. Setelah Ramadan 2026 lewat, ingatan saya kembali tertuju padanya. Saya terngiang suara khasnya saat membangunkan warga untuk sahur.

“Kalau sedang puasa, mungkin bisa dikatakan saya hampir tidak tidur,” tuturnya kala itu.

Kalimat itu bukan keluhan, tapi pernyataan tentang sebuah pilihan hidup. Di bulan puasa, Pak Salim hanya tidur tiga jam. Bisa dibayangkan, setiap Ramadhan, sejak tahun 1988, ia hanya meluangkan waktu tidur tiga jam: membagi waktu kerja, waktu untuk keluarga, dan menghidupi Masjid Jamiatul Islam.

Perannya bukan sekadar meneriakkan ajakan sahur di masjid yang terletak di Jl. Persatuan, Manggar Baru, Balikpapan Timur. Ia seperti orangtua yang detail mengingatkan anaknya untuk berpuasa.

Saya paham betul akan hal tersebut. Kebetulan, rumah saya dengan masjid hanya sepelemparan batu. Apalagi, dulu, ketika masih sekolah dasar dan beranjak remaja, saya biasa tidur di masjid bersama teman-teman sekampung.

Cara beliau membangunkan warga sangatlah khas: detail dalam menyebutkan menit menuju imsak, kental dengan aksen Madura, dan penuh semangat meski usianya tak lagi muda.

Pukul 00.00, Pak Salim sudah tiba di masjid dengan setelan khasnya: kopiah hitam, kemeja lengan panjang yang terkadang kancingnya belum rapi, sarung, dan bekal sahur. Langkah kakinya selalu tergesa, seolah tak ingin kehilangan waktu untuk beribadah.

Foto Masjid Jamiatul Islam Trans, Balikpapan Timur. Foto diambil sebelum adzan maghrib. Foto : Februari, 2026 (Arsip Alfiansyah).
Foto Masjid Jamiatul Islam Trans, Balikpapan Timur. Foto diambil sebelum adzan maghrib. Foto : Februari, 2026 (Arsip Alfiansyah).

Di dalam masjid, beliau lebih banyak duduk berzikir dalam remang lampu imam demi menghemat listrik. Sesekali ia menyapu lantai atau memeriksa peralatan masjid. Jika ia sedang bersantai di teras, kami—remaja nakal saat itu—sering mengolok-oloknya hingga beliau mengejar kami dengan gusar.

Tepat pukul 02.00, Pak Salim akan menyenter jam dinding dengan saksama agar tidak keliru, lalu menyalakan pengeras suara. Ia mulai mengingatkan para ibu untuk memasak. Ajakan itu diulang kembali pada pukul 02.30 dengan penekanan pada menit yang detail.

“Sahuuuuuuur! Sahuuuuuuuur! Bagi Bapak-bapak, Ibu-ibu, Adik-adik, kaum muslimin dan muslimat yang belum sahur, harap segera bersahur. Jam menunjukkan pukul tiga lewat satu menit. Sekali lagi, jam tiga lewat satu menit.”

Bagi sebagian orang yang akrab dengan alarm gawai, yang dilakukan Pak Salim tak begitu berarti. Namun, bagi para orangtua yang gagap teknologi dan tak menggunakan alarm, jasa Pak Salim sangat bermanfaat agar sahur tak terlewat.

Beliau sangat disiplin terhadap waktu. Setiap 15 menit, pengumuman serupa diulang. Mendekati waktu krusial (injury time), intensitasnya meningkat. Ia menyelingi pengumuman dengan salawat atau rekaman ceramah almarhum KH Zainuddin MZ.

Memasuki menit ke-20 sebelum imsak, ia akan menghitung mundur setiap beberapa menit: 15, 10, 7, 5, hingga 3 menit. Saat waktu imsak tiba, suaranya menjadi penegas batas:

“Imsaaaaaaaaak! Imsaaaaaaak! Tidak boleh makan, tidak boleh minum, dan tidak boleh merokok karena waktu imsak telah tiba!”

Pak Salim ketika memeragakan adzan di Masjid Jamiatul Islam. Foto : 2016 (Arsip Alfiansyah).
Pak Salim ketika memeragakan adzan di Masjid Jamiatul Islam. Foto : 2016 (Arsip Alfiansyah).

Setelah azan subuh, ia melanjutkan dengan puji-pujian. Ada dua zikir andalannya: “Ya Hayyu Ya Qoyyum” yang dilantunkan dengan nada cepat dan bersemangat, serta “Doa untuk Kedua Orang Tua” yang dinyanyikan dengan suara lirih, sedikit bergetar, dan menyentuh hati.

Pak Salim selalu menjadi orang terakhir yang meninggalkan masjid. Kakek dengan tujuh anak itu memastikan semua peralatan elektronik mati, keran tertutup rapat, sajadah tergulung rapi, dan pintu terkunci. Barulah sekitar pukul 06.00 ia pulang. Kadang berjalan kaki, kadang dijemput putra bungsunya, Lanto.

Suatu hari, Pak Salim bercerita bahwa sejak menderita penyakit komplikasi jantung beberapa tahun silam, ia hampir tidak bisa tidur sama sekali di malam hari. Namun, di tengah kondisi tersebut, ia masih sempatkan beberapa kali waktunya untuk mengurus masjid.

Seperti kebanyakan warga di Kelurahan Manggar, Pak Salim adalah nelayan tradisional. Kacong, putra sulung Pak Salim, menceritakan bahwa anak-anaknya telah melarang beliau melaut demi kesehatan.

Namun, Pak Salim bukan tipe orang yang bisa berdiam diri. Di teras rumahnya, kata Kacong, ayahnya tetap sibuk memperbaiki renggek (jaring nelayan) dan perlengkapan melaut lain (Saya akan menulis soal Kacong di kemudian hari).

Pak Salim bersama Lanto, putra bungsunya (Arsip Alfiansyah).
Pak Salim bersama Lanto, putra bungsunya (Arsip Alfiansyah).

Satu hal yang paling berkesan adalah keteguhannya menolak bayaran atas dedikasinya di masjid. Saat imam masjid, almarhum Pak Kojin, menawarkan gaji atau bantuan beras, Pak Salim menolaknya dengan halus.

“Saya sendiri tidak menyumbang uang di masjid, masa malah mau diberi uang masjid? Saya malu,” katanya. “Saya hanya minta didoakan agar sehat, panjang umur, dan selamat dunia akhirat.”

Pak Salim wafat pada 16 Juli 2021, empat hari sebelum Iduladha. Sejak saat itu, suasana Ramadan di wilayah Trans Manggar tidak lagi sama. Pak Salim adalah teladan pengabdian bagi saya pribadi.

Di tengah zaman ketika banyak orang menggunakan agama untuk mengejar materi atau kepentingan politik banal, Pak Salim memilih jalan sunyi keikhlasan. Beliau tidak mengejar bansos atau jabatan; beliau hanya mencintai rumah Tuhan.

Tenanglah di sana, Pak Salim. Gema pengabdianmu selalu abadi dan kami rindukan, seperti bulan suci yang baru saja pergi.

 


 

Baca esai Alfiansyah lainnya di sini.

 

Picture of Alfiansyah
Alfiansyah
Alfiansyah, kelahiran Balikpapan, 1993. Lahir, tinggal, dan menetap di Manggar Baru, Balikpapan Timur. Hobi menulis, memotret, membaca, dan menikmati musik. “Setiap Malam adalah Sepi” merupakan novel perdananya, bercerita tentang kehidupan urban para penikmat dan pekerja malam.
Bagikan
Berikan Komentar