• Cerita
  • Ulasan ‘Avatar: Fire and Ash’, Sisi Gelap Pandora yang Memukau
Cerita

Ulasan ‘Avatar: Fire and Ash’, Sisi Gelap Pandora yang Memukau

Ulasan "Avatar: Fire and Ash". Jelajahi sisi gelap Pandora melalui Klan Ash yang misterius. Cek jadwal dan harga tiket bioskop terbarunya.

Melalui “Avatar: Fire and Ash”, James Cameron kembali membawa penonton ke Pandora dalam sebuah petualangan baru. (Foto: Disney.id)
Melalui “Avatar: Fire and Ash”, James Cameron kembali membawa penonton ke Pandora dalam sebuah petualangan baru. (Foto: Disney.id)

Dunia Pandora kembali membara! Setelah penantian tiga tahun sejak The Way of Water, sutradara visioner James Cameron akhirnya merilis angsuran ketiga dari saga epik ini yang berjudul Avatar: Fire and Ash.

Film ini bukan sekadar sekuel biasa; ia membawa penonton menjelajahi sudut Pandora yang lebih kelam, memperkenalkan klan baru, dan menyajikan visual yang melampaui standar industri film saat ini. Mari kita bedah apa yang membuat film ini menjadi perbincangan global.

Sinopsis: Munculnya Suku “Ash”

Melalui “Avatar: Fire and Ash”, James Cameron kembali membawa penonton ke Pandora dalam sebuah petualangan baru. (Foto: Disney.id)
Poster “Avatar: Fire and Ash” karya James Cameron (Foto: Disney.id)

Berbeda dengan dua film sebelumnya yang berfokus pada keindahan hutan dan laut, Fire and Ash memperkenalkan kita pada Klan Ash (Suku Abu).

Dipimpin oleh sosok karismatik namun kejam bernama Varang, suku ini menunjukkan sisi agresif dari bangsa Na’vi. Dalam perkembangannya di film, Varang kemudian bekerja sama dengan manusia untuk menangkap Jake Sully (Sam Worthington) dan Neytiri (Zoe Saldana).

Jake dan Neytiri harus menghadapi ancaman yang lebih personal sekaligus menegangkan. Konflik tidak lagi hanya sekadar “Na’vi melawan manusia”, melainkan perselisihan internal antar klan yang mempertanyakan moralitas dan kelangsungan hidup di Pandora.

Konflik internal di dalam keluarga Jake pun terjadi. Hal itu tergambarkan ketika mereka dihadapkan pilihan apakah tetap menjaga Spider atau menyingkirkannya.

Pada Avatar ketiga ini, Spider yang merupakan manusia mengalami perubahan biologis. Ini membuatnya bisa bertahan hidup di Pandora tanpa masker. Jake khawatir jika hal ini diteliti manusia, banyak manusia bisa tinggal di Pandora dan membawa kerusakan.

Mengapa Anda Wajib Menonton ‘Avatar: Fire and Ash’?

Melalui “Avatar: Fire and Ash”, James Cameron kembali membawa penonton ke Pandora dalam sebuah petualangan baru. (Foto: Disney.id)
Cuplikan “Avatar: Fire and Ash” (Foto: Disney.id)

1. Visual yang Melampaui Batas

James Cameron kembali membuktikan kelasnya sebagai “Raja Visual”. Penggunaan teknologi motion capture yang semakin halus membuat emosi wajah para karakter terasa sangat nyata. Partikel api, debu, dan abu di film ini dirancang dengan detail yang sangat tinggi, memberikan pengalaman imersif terutama jika ditonton dalam format IMAX 3D.

2. Perkembangan Karakter yang Emosional

Kisah kali ini lebih berfokus pada generasi muda keluarga Sully, terutama Lo’ak dan Kiri. Misteri tentang asal-usul Kiri mulai terkuak sedikit demi sedikit, memberikan sentuhan spiritual dan mistis yang mendalam pada alur cerita.

3. Durasi yang Padat Aksi

Meski memiliki durasi sekitar 197 menit (3 jam lebih), tempo film ini terasa lebih cepat dibandingkan pendahulunya. Setiap babak diisi dengan ketegangan yang naik-turun, membuat penonton tetap terpaku di kursi bioskop.

Cara Cek Jadwal Film ‘Avatar: Fire and Ash’ Terbaru

Film ini masih tayang di berbagai jaringan bioskop besar di Indonesia. Untuk memastikan Anda mendapatkan kursi terbaik, Anda bisa mengecek jadwal tayang secara real-time melalui tautan resmi berikut:

Jaringan BioskopCara Cek & Link Pembelian
Cinema XXICek jadwal di seluruh Indonesia melalui 21cineplex.com atau aplikasi m.tix.
CGV CinemasCek ketersediaan kursi dan jadwal di cgv.id.
CinépolisCek jadwal penayangan reguler maupun VIP di cinepolis.co.id.
TIX IDAplikasi praktis untuk cek jadwal semua bioskop dalam satu layar: tix.id.

Avatar: Fire and Ash adalah sebuah mahakarya teknis yang wajib dinikmati di layar lebar. Meski beberapa kritikus menyebut formulanya sedikit repetitif, kekuatan emosional dan spektakel visualnya tetap menjadikan film ini sebagai pengalaman sinematik terbaik tahun ini.

Baca juga:

Picture of FX Jarwo
FX Jarwo
Jurnalis dan penulis konten ProPublika.id. Menggemari isu lingkungan, masyarakat adat, dan hak asasi manusia. Ia pun menulis hal-hal ringan mengenai perjalanan, tips, dan pengetahuan umum dari berbagai sumber.
Bagikan
Berikan Komentar