Sosok legendaris seni tradisi Lengger asal Banyumas, Jawa Tengah, yakni Maestro Dariah hadir dalam medium yang lebih modern. Melalui sentuhan teknologi Augmented Reality (AR), perjalanan hidup sang maestro diabadikan dalam novel grafis berjudul “Renjana: Dongeng Kehidupan Maestro Lengger Dariah”.
Peluncuran karya inovatif ini digelar di Ruang Gatra Hetero Space, Purwokerto, pada Rabu (25/2/2026). Proyek ini merupakan bagian dari program Dokumentasi Karya dan Pengetahuan Maestro, Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan tahun 2024.
Penggunaan teknologi AR dalam novel grafis memungkinkan pembaca merasakan pengalaman visual yang lebih interaktif. Ia bisa menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mengenal sejarah seni tradisi tanpa merasa kuno.
Rida Purnama Sari, penggagas novel “Renjana”, menjelaskan bahwa pemilihan format novel grafis berbasis AR bertujuan untuk membangun pusat data digital bagi seniman Lengger di Banyumas.
“Lewat buku ini, kami ingin menampilkan wajah penciptaan produk kreatif di Banyumas yang penuh kolaborasi lintas disiplin ilmu,” ujar Rida.
Perjalanan Lintas Zaman

Sosok Dariah dikenal sebagai penari lengger yang kiprahnya melintasi berbagai era besar di Indonesia. Ia menari sejak masa kolonial, era demokrasi terpimpin, masa orde baru, hingga era reformasi.
Dariah adalah seorang maestro kesenian lengger yang diperkirakan lahir pada tahun 1928 atau 1929 di Desa Somakaton, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Ia menerima anugerah kategori Maestro Seniman Tradisional yang diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2011.
Ini merupakan penghargaan negara karena Dariah konsisten melestarikan seni tradisi dalam perlintasan zaman. Dariah tutup usia pada 12 Februari 2018 di umur 98 tahun.
Dengan kiprah panjangnya, Dariah menjadi sumber inspirasi bagi para koreografer dan seniman kontemporer yang mendalami seni Lengger.
Dukungan Pemerintah dan Inovasi Budaya

Langkah pendokumentasian kisah Dariah menjadi penting sebagai arsip kesenian dan budaya. Annisa Rengganis, Staf Khusus Kementerian Kebudayaan RI, menyebutkan novel ini adalah medium yang tepat untuk memperkenalkan keteladanan Maestro Dariah kepada generasi Z dan Alpha.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas, Agus Anggraito, menilai karya ini sebagai langkah visioner.
“Ini adalah inovasi pelestarian budaya yang mampu menjembatani kearifan lokal dengan perkembangan teknologi,” ungkapnya.
Peluncuran novel grafis ini diisi dengan diskusi dan serangkaian kegiatan lain. Pemutaran film dokumenter disajikan guna memberi gambaran proses kreatif pembuatan novel.
Adapun demonstrasi AR dilakukan guna menunjukkan cara kerja fitur digital dalam buku. Selain itu, pementasan Lengger disajikan penari Otniel Tasman yang diiringi kendang Sukendar dan sinden Daisah.
Sebagai bentuk dukungan literasi, sebanyak 50 eksemplar novel dibagikan secara gratis kepada tamu undangan yang terdiri dari perwakilan sanggar tari, akademisi, hingga sekolah-sekolah di wilayah Kabupaten Banyumas.
Baca juga:
