• Cerita
  • Hikayat Taman Nasional Kutai: Dari Masa Belanda Hingga Era Industri
Cerita

Hikayat Taman Nasional Kutai: Dari Masa Belanda Hingga Era Industri

Sejarah Taman Nasional Kutai dari hutan lindung masa kolonial Belanda, perubahan status, hingga pengurangan luas demi industri.

taman nasional kutai
Pemandangan di Taman Nasional Kutai di Kalimantan Timur. (Foto: Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem)

Taman Nasional Kutai (TNK) di Kalimantan Timur memiliki sejarah panjang sejak masa penjajahan Belanda. Pada tahun 1930-an, geolog Belanda, Ir. H. Witkamp, menemukan satwa langka seperti badak Sumatra (punah 1980), orang utan, dan banteng di kawasan ini. Atas temuan itu, ia mengusulkan area tersebut sebagai hutan persediaan.

Pemerintah Belanda mengusulkannya sebagai Wildreservaat Koetai pada 1934 melalui SK No. 3843/AZ/1934. Luasnya 2 juta hektar. Dua tahun kemudian, Sultan Kutai ke-20, Aji Muhammad Parikesit, menindaklanjutinya.

Ia mengesahkan Suaka Margasatwa Kutai seluas 306.000 hektar via SK ZB No.80/22-ZB/1936. Kawasan ini juga dikenal sebagai area berburu dan rekreasi keluarga kerajaan.

Setelah Indonesia merdeka, status kawasan tetap dipertahankan. Menteri Pertanian Sadjarwo Djarwonagoro mengukuhkannya kembali melalui SK No.110/UN/1957 pada 1957. Luasnya sama, 306.000 hektar. Namun, era Orde Baru membawa perubahan drastis.

Pada 1982, status Suaka Margasatwa diubah menjadi calon taman nasional lewat SK Menteri Pertanian No.736/Mentan/X/1982. Luasnya dipangkas jadi 200.000 hektar. Suaka margasatwa merupakan area konservasi yang diperuntukan bagi perlindungan satwa.

Adapun taman nasional merupakan gabungan antara suaka margasatwa dan cagar alam yang pada bagian kawasan tertentu ada yang dapat dimanfaatkan untuk pariwisata—selama tidak berseberangan dengan tujuan konservasi.

Penyusutan TNK

Di kemudian hari penyusutan TNK terus terjadi untuk kepentingan industri. Sebanyak 106.000 hektar dilepas untuk pembangunan ekonomi: 60.000 hektar jadi kawasan industri pupuk dan gas di pesisir, 46.000 ha untuk HPH PT Kayu Mas.

Kawasan industri ini dan sekitarnya kemudian berkembang menjadi Kecamatan Bontang dan selanjutnya ditetapkan sebagai Kota Bontang pada 1999.

Pada 1991, TNK kembali dikurangi 1.371 ha untuk perluasan PT Pupuk Kaltim dan area Kecamatan Bontang (SK No.435/Kpts-VIII/1991). Tahun 1995, SK Menteri Kehutanan No.325/Kpts-II/1995 menetapkan luas TNK 198.629 ha. Penyusutan terus berlanjut: 1997 (198.694 ha) hingga 2014 (192.709,55 ha).

Berdasarkan analisis spasial 2024, TNK kini tersisa 191.681,28 hektar—menyusut 1.028,27 ha dalam 10 tahun. Kawasan ini membentang di tiga wilayah: Kota Bontang, Kutai Timur, dan Kutai Kartanegara. Ekosistemnya mencakup hutan mangrove hingga hutan hujan tropis.

Perubahan status dan luas TNK mencerminkan tarik-menarik antara konservasi dan kepentingan industri. Data Balai TNK menunjukkan, alih fungsi lahan pun terjadi di Kawasan TNK yang dilakukan oleh pendatang dan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Migrasi penduduk ke Taman Nasional Kutai

Secara administratif, sebagian kawasan TNK masuk dalam Kecamatan Teluk Pandan yang dihuni penduduk. Sebelumnya, Kecamatan Teluk Pandan merupakan kawasan TNK seluruhnya.

Perubahan ini bermula sejak terjadinya gelombang migrasi pertama penduduk ke area TNK pada tahun 1924. Tercatat ada 10 orang suku Bugis Pangkep dari Sulawesi Selatan berdatangan dan bermukim di Sangkima.

Migrasi ini terus berlanjut sampai tahun 1936 karena adanya operasi minyak Pemerintah Belanda yang mendatangkan para pekerja dari Jawa dan mempekerjakan penduduk lokal di Sangatta Selatan dan Sangkima.

Gelombang kedua migrasi ke TNK tercatat pada tahun 1960. Warga dari Sulawesi keluar daerah asalnya karena dipicu konflik politik-agama di Sulawesi Selatan. Konflik tersebut membuat masyarakat mengalami kesulitan ekonomi, baik berkebun, bertani, atau mendapat penghidupan lain.

Ini menyebabkan kesulitan ekonomi bagi masyarakat, baik dalam berkebun, bertani, maupun mata pencaharian lainnya. Sebagian dari mereka yang tidak dapat bertahan akhirnya mengungsi ke TNK yang saat itu berstatus Suaka Margasatwa Kutai, tepatnya di daerah Sangkima, Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur, untuk mencari penghidupan dan keamanan yang lebih baik.

Gelombang migrasi ketiga

Gelombang migrasi ketiga terjadi pada tahun 1974 dan berkembang pada tahun 1977, dengan lokasi yang berpusat di Kampung Selimpus/Kandolo. Tiga gelombang migrasi itu akhirnya membuat banyak titik kawasan TNK dihuni masyarakat.

Melalui Surat Keputusan Gubernur No. 06 Tahun 1997 tanggal 30 April 1997, tiga daerah tersebut yang sebelumnya masuk satu Desa Sangatta, akhirnya dimekarkan sebagai tiga desa definitif, yaitu Desa Teluk Pandan, Desa Sangkima, dan Desa Sangatta Selatan.

Selanjutnya, wilayah kawasan TNK mengalami beberapa kali program enklave, yang mempertimbangkan kebutuhan warga. Pengajuan enklave pertama kali dimulai tahun 2000 oleh Pemerintah Kutai Timur seluas 17.000 hektar ke pemerintah pusat.

Baru tahun 2013 atau 13 tahun kemudian, pemerintah pusat menyetujui usulan enklave, tetapi hanya menyetujui 7.816 hektar saja dari total 17.000 hektar yang diajukan.

Program enklave terakhir dilaksanakan oleh Bupati Kutai Timur pada tahun 2023. Pada Juni 2023, Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menjanjikan bahwa program enklave eks-TNK di Kecamatan Teluk Pandan dan Sangatta Selatan seluas 14.600 hektar akan diselesaikan.

Ardiansyah juga menyebutkan bahwa sebelumnya program enklave mencakup 17.500 hektar. Jika dijumlahkan, total lahan enklave selama masa kepemimpinannya mencapai 32.100 hektar, janji kampanyenya yang berkomitmen pada program enklave seluas 23.000 hektar.

Khusus di Desa Teluk Pandan, warga memanfaatkan lahan enklave untuk komoditas karet, sawit, pisang, kakao, pertanian hortikultura, dan sawah. Hal itu terlihat dari Jalan Poros Bontang-Sangatta yang membelah kawasan TNK sisi timur.

Flora penting di TNK

Taman Nasional Kutai adalah kawasan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah dengan ketinggian 0-400 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tipe vegetasi yang terdapat di kawasan ini adalah tipe hutan dataran rendah yang didominasi oleh ulin (Eusideroxylon zwageri), meranti (Shorea sp), dan kapur (Dryobalanops sp).

Selain itu, terdapat hutan rawa yang didominasi oleh tumbuhan perupuk (Lophopethalum sp), hutan mangrove yang didominasi oleh Rhizophora mucronata, R. apiculata, Sonneratia alba, S. caseolaris, dan lain-lain. Ada pula hutan kerangas dan hutan pantai.

Salah satu alasan utama kawasan ini ditunjuk sebagai taman nasional adalah karena keanekaragaman hayati yang tinggi, baik keanekaragaman hayati tingkat genetik, spesies, maupun ekosistem.

Lebih dari 1.200 jenis tumbuhan hidup di kawasan ini, dengan tumbuhan khas yaitu ulin (Eusideroxylon zwageri) dan 8 dari 10 genus famili Dipterocarpaceae di dunia, yaitu: Anisoptera sp., Cotylelobium sp., Dipterocarpus sp., Dryobalanop ssp., Hopea sp., Parashorea sp., Shorea sp. dan Vatica sp.

Kekayaan fauna

Selain kekayaan flora, Taman Nasional Kutai juga memiliki fauna beragam. Terdapat 80% dari seluruh jenis burung di Borneo di TNK, yakni 380 jenis, baik burung penetap maupun burung migran yang singgah pada musim tertentu.

Terdapat 8 jenis enggang atau rangkong. Selain itu juga terdapat jenis burung endemik Kalimantan, yakni paok kepala-biru (Hydrornis baudii) yang menjadi salah satu indikator TNK sebagai Daerah Penting bagi Burung.

Tak hanya itu, terdapat lebih dari separuh jenis mamalia Borneo di TNK. Ada 80 jenis mamalia Borneo di sini dan di antaranya adalah 11 dari 13 jenis primata Borneo, termasuk orangutan (Pongo pygmaeus) dan satwa endemik bekantan (Nasalis larvatus).

Orangutan yang hidup di Taman Nasional Kutai adalah Pongo pygmaeusmorio yang merupakan salah satu sub spesies orangutan Kalimantan dan hanya hidup di bagian timur Pulau Kalimantan.

Beberapa jenis mamalia lainnya yang terdapat di TNK di antaranya adalah banteng (Bos javanicus), rusa sambar (Cervus unicolor), kijang (Muntiacus muntjak), kancil (Tragulus kanchil), beruang madu (Helarctos malayanus), trenggiling (Manis javanicus), macan dahan (Neofelis diardi).

Puluhan jenis reptilia termasuk buaya muara (Crocodylus porosus), 195 jenis kupu-kupu termasuk jenis Troides helena, Troides amphrysus, dan Trogonoptera brookiana yang dilindungi, 32 jenis semut, 25 jenis katak, serta ratusan jenis serangga dan satwa lainnya yang belum teridentifikasi hidup di kawasan ini.

Wisata edukasi alam dan biayanya

taman nasional kutai kalimantan timur
Orangutan di Taman Nasional Kutai di Kalimantan Timur. (Foto: Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem)

Terdapat sejumlah tempat yang bisa dikunjungi publik di TNK. Hal itu dilakukan untuk tujuan edukasi sekaigus wisata alam. Berikut adalah beberapa destinasinya.

Prevab: Rumah Orangutan Morio

Prevab, destinasi unggulan Taman Nasional Kutai, terletak di tepi Sungai Sangatta. Di sini, pengunjung bisa melihat orangutan morio liar yang mampu bertahan di kondisi ekstrim, seperti musim kemarau panjang. Satwa ini dikenal dengan bulu coklat kehitaman, rahang besar, dan otak kecil.

Kawasan ini juga berfungsi sebagai stasiun penelitian bernama Kamp Kakap dengan slogan “Let’s get closer to morio”. Selain mengamati orangutan, wisatawan bisa menikmati hutan hujan tropis atau ikut tur malam untuk melihat tarantula dan kehidupan liar tanpa mengganggu setelah gelap.

Sangkima: Keajaiban Pohon Ulin Raksasa

Taman Nasional Kutai di Kalimantan Timur
Salah satu pohon besar di Taman Nasional Kutai di Kalimantan Timur. (Foto: Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem)

Sangkima, di km 38 jalan Bontang-Sangatta, menawarkan kemudahan akses dan hutan alami penuh ulin. Daya tarik utamanya adalah pohon ulin berusia 1.000 tahun dengan diameter 2,49 meter. Pengunjung bisa menjelajahinya melalui jembatan kayu sepanjang 900 meter.

Dengan slogan “The wonder of giant ironwood”, Sangkima juga menyediakan canopy trail dan rumah pohon. Sensasi berjalan di jembatan goang serta petualangan jelajah hutan menambah keseruan wisata.

Bontang Mangrove Park: Harmoni di Tengah Industri

Terletak di Kota Bontang, Bontang Mangrove Park menggabungkan konservasi, edukasi, dan rekreasi. Jalur kayu ulin sepanjang 2,5 km memungkinkan pengunjung menikmati keindahan mangrove sambil mendengar kicau burung remetuk laut dan cekakak sungai.

Slogan “Feel the breeze, refresh your mind” tercermin dari menara pandang yang menyajikan pemandangan laut dan bumi perkemahan yang tertata rapi. Kawasan ini menjadi oase alam di tengah hiruk-pikuk industri.

Gua Lubang Angin & Sampe Marta: Pesona Bawah Tanah

Gua Lubang Angin memukau dengan lorong besar sedalam 219 meter dan angin yang bertiup lewat lubang-lubang alami. Stalagmit besar di lorong utamanya masih aktif tumbuh, menambah kesan magis.

Sementara itu, Gua Sampe Marta menawarkan petualangan menyusuri aliran air di dalam gua. Ornamen stalaktit dan lorong sempit dengan formasi batuan unik menjadi daya tarik utama bagi pencinta eksplorasi.

Biaya kunjungan

Biaya kunjungan TNK yang kami akses pada 5 April 2025 rinciannya ada di unggahan resmi Balai Taman Nasional Kutai di bawah.

Referensi:
Adimiharja, Kusnaka. 2004. Penyusunan Peta Permasalahan Taman Nasional Kutai Kaltim. Bandung: Kerja sama PT. Kaltim Prima Coal dan Universitas Padjadjaran.
Siburian, Robert. 2008. Taman Nasional Kutai dan Perebutan Sumberdaya Alam. Jurnal Masyarakat dan Budaya, Vol.10 No.2.
Lukas Adi Prasetya. Kompas.id, 2 Maret 2017. Warga di Taman Nasional Kutai Desak Tambahan Enklave.
Siaran Pers Pemkab Kutai Timur. Tuntas, Enclave Eks TNK Ditambah 14.600 hektar.
Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. Mengenal Flora dan Fauna Taman Nasional Kutai.
Picture of FX Jarwo
FX Jarwo
Jurnalis dan penulis konten ProPublika.id. Menggemari isu lingkungan, masyarakat adat, dan hak asasi manusia. Ia pun menulis hal-hal ringan mengenai perjalanan, tips, dan pengetahuan umum dari berbagai sumber.
Bagikan
Berikan Komentar