• Sastra
  • Trauma Kolektif dalam Ingatan Ikan-ikan
Sastra

Trauma Kolektif dalam Ingatan Ikan-ikan

Novel ini berhasil memadukan representasi trauma dengan perangkat naratif yang inovatif, simbolisme yang kaya, dan kritik sosial yang tajam.

Trauma Kolektif dalam Ingatan Ikan-ikan. Maharani Wulandari - sasti gotama - novel -resensi buku
Ilustrasi "Trauma Kolektif dalam Ingatan Ikan-ikan"

Oleh: Maharani Wulandari

Dosen UINSI Samarinda dan Anggota Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI Kalimantan Timur

 

 

Tragedi 1998 yang menimpa etnis Tionghoa di Jakarta menjadi memori kolektif yang tak bisa dilupakan begitu saja. Pun ketika Fadli Zon berusaha menyangkal semua itu, ingatan-ingatan tersebut terus dirawat agar kita tak mudah lupa terhadap kekerasan yang dilakukan negara. Hal semacam itulah yang coba dihadirkan Sasti Gotama dalam novelnya, Ingatan Ikan-ikan.

Ingatan Ikan-ikan menghadirkan representasi trauma personal dan kolektif yang berakar pada kekerasan rasial terhadap perempuan Tionghoa. Karya ini menempatkan diri dalam tradisi sastra Indonesia kontemporer yang berupaya membuka kembali ruang percakapan tentang tragedi Mei 1998, sebuah sejarah yang kerap direduksi, disenyapkan, atau dilembutkan demi kenyamanan politik dan sosial (Heryanto, 2006).

Novel ini berkisah tentang Lian, Ombak, dan sejumlah tokoh lain yang bergulat dengan ingatan, kehilangan, dan hasrat untuk melupakan. Namun, pada lapis yang lebih dalam, novel ini memetakan bagaimana trauma bekerja dalam tubuh, bahasa, dan relasi manusia setelah peristiwa kekerasan yang tidak terselesaikan. Melalui gaya puitis dan struktur naratif yang fragmentaris, Sasti Gotama memadukan realisme psikologis dengan simbolisme serta elemen fiksi ilmiah berupa teknologi ‘penghapusan ingatan’ untuk mengeksplorasi hubungan antara ingatan, identitas, dan penyembuhan.

Cathy Caruth dalam kajian memori (memory studies) sebagaimana dikembangkan oleh Marianne Hirsch dan Dominick LaCapra, menyatakan bahwa trauma sebagai pengalaman yang tidak sepenuhnya terserap oleh kesadaran pada saat kejadian. Karena itu, trauma kemudian kembali hadir secara repetitif dalam bentuk mimpi, sensasi tubuh, atau ingatan yang terpecah (Caruth, 1996). Trauma menurut Caruth bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan ‘a wound that cries out’, sebuah luka yang terus bersuara justru melalui ketidakhadirannya (Caruth, 1996). Kondisi ini tampak jelas pada tokoh Lian yang mengalami gangguan ingatan dan kilas balik tanpa pola yang stabil. Memori hadir bukan sebagai rekaman kronologis, melainkan sebagai retakan-retakan yang menyusup ke kehidupan sehari-hari. Ketidakmampuan Lian mengendalikan kemunculan ingatan menunjukkan bagaimana trauma mengganggu kontinuitas waktu dan identitas subjek.

Sementara itu, konsep postmemory dari Marianne Hirsch relevan untuk membaca bagaimana trauma dapat hidup dalam generasi berikutnya meskipun mereka tidak secara langsung mengalami peristiwa kekerasan (Hirsch, 2008, 2012). Novel ini memperlihatkan bagaimana rasa takut, kecemasan sosial, dan mekanisme menghindar diwariskan melalui narasi keluarga, keheningan, serta pola relasi antargenerasi.

Dengan demikian, trauma rasial 1998 tidak berhenti sebagai tragedi historis, melainkan menjadi warisan emosional yang membentuk identitas generasi baru Perempuan Tionghoa di Indonesia. Di sisi lain, gagasan Domminick LaCapra mengenai acting out dan working through membantu menjelaskan dilema para tokoh antara membekukan diri dalam trauma atau secara perlahan mengolah luka menuju kemungkinan pemulihan (LaCapra, 2001). Teknologi “penghapusan ingatan” dalam novel ini dapat dibaca sebagai bentuk ekstrem dari acting out, yakni keinginan untuk memutus hubungan dengan masa lalu secara radikal, namun narasi justru menunjukkan bahwa melupakan secara paksa berisiko meniadakan identitas, pengalaman, dan agensi sebagai penyintas.

Selain itu, bila dilihat dari sudut analisis struktural, novel ini dibangun melalui alur non-linear yang merepresentasikan mekanisme kerja trauma. Struktur cerita tidak tunduk pada konvensi kronologis, melainkan tersusun melalui fragmen-fragmen yang bergerak antara masa lalu dan masa kini. Teknik ini menurut hemat penulis bukanlah sekadar pilihan estetika, melainkan representasi langsung dari kondisi psikis tokoh yang tidak mampu mengontrol kapan ingatan traumatis muncul kembali.

Penggunaan sudut pandang multiple memberikan kedalaman pada tema trauma karena setiap tokoh membawa cara yang berbeda dalam menyimpan dan menafsirkan ingatan. Dalam terminologi strukturalisme, narasi novel ini lebih banyak bergerak melalui hubungan paradigmatik, yakni berupa asosiasi, pengulangan motif, dan resonansi makna, daripada hubungan sintagmatik yang linear (Lévi-Strauss, 1963; Barthes & Heath, 1977).

infografis ingatan ikan ikan sasti gotama
Infografis “Ingatan Ikan-Ikan” karya Sasti Gotama. (ProPublika.id)

Dalam konteks inilah motif air dan ikan mas koki dalam stoples, serta representasi tubuh sebagai medium pengalaman traumatis, berfungsi sebagai penanda struktural yang menjaga kohesi makna, meskipun alur narasi bergerak secara melompat dan tidak linear. Relasi manusia dengan ikan mas koki dihadirkan secara naratif langsung melalui keterikatan emosional antara Ombak, Lian, dan ikan tersebut sebelum peristiwa kerusuhan.

Pada titik ekstrem kekerasan, kehadiran ikan mas koki yang menggelepar di ujung kaki Lian ketika tubuhnya mengalami kekerasan seksual beroperasi sebagai paralel naratif yang sunyi tapi kuat, memperlihatkan kehancuran kehidupan dalam dua bentuk kerentanan yang berlangsung secara simultan. Adegan ini menandai titik retak yang memisahkan kehidupan pra-trauma dengan pascatrauma, sekaligus menunjukkan bahwa trauma tidak hanya bekerja pada tingkat ingatan, tetapi juga melalui pengalaman tubuh dan kehadiran material di sekitarnya. Selain itu, novel ini membangun ketegangan makna melalui oposisi-oposisi konseptual yang bersifat implisit, terutama antara ingatan dan pelupaan, serta pengalaman traumatis masa lampau dan keberlangsungan hidup subjek pada masa kini.

Sementara itu, dalam pendekatan semiotik, karya ini memperkaya pembacaan terhadap simbol-simbol kunci dalam novel ini. Ikan mas koki muncul sebagai simbol sentral dengan makna ganda. Dalam wacana populer, ikan mas koki sering diasosiasikan dengan mitos ingatan pendek, hanya tiga detik.

Novel ini memanfaatkan mitos tersebut untuk mengkritik kecenderungan sosial yang ingin cepat melupakan tragedi dan menyingkirkan ingatan kolektif yang traumatis. Dalam kerangka semiotik Charles Sanders Pierce, ikan dapat dibaca sebagai ikon karena merepresentasikan makhluk hidup nyata yang hadir secara material dalam cerita, sebagai indeks karena keberadaannya menunjuk pada kondisi mental tokoh yang berusaha melupakan atau menekan pengalaman traumatis, sekaligus sebagai simbol karena memuat makna kultural tentang ingatan dan pelupaan (Peirce, 1931-1958). Tubuh pada saat yang sama tampil sebagai teks yang menyimpan trauma melalui mimpi buruk, gangguan emosional, dan kesulitan membangun relasi intim. Melalui jaringan simbol ini, novel menunjukkan bahwa trauma bekerja tidak hanya melalui narasi verbal, tetapi juga melalui objek material dan pengalaman sensorik yang melekat pada tubuh subjek.

Elemen fiksi ilmiah berupa teknologi penghapusan ingatan menjadi aspek penting yang mengundang pembacaan filosofis dan etis. Meskipun hadir sebagai perangkat fiktif, teknologi ini berfungsi sebagai metafor sosial terhadap kecenderungan negara atau masyarakat untuk menyingkirkan sejarah kelam demi stabilitas dan ketertiban.

Prosedur penghapusan ingatan yang ditawarkan kepada penyintas mencerminkan logika quick fix terhadap trauma, seolah-olah penyembuhan dapat dicapai dengan menghapus pengalaman, bukan melalui refleksi, pengakuan, dan dukungan sosial. Novel ini menantang logika tersebut dengan menunjukkan bahwa melupakan bukan hanya menghapus memori, tetapi juga menghapus bagian diri, luka yang tidak diakui tetap bekerja secara laten dalam alam bawah sadar (Caruth, 1996).

Novel ini juga kuat dalam merepresentasikan identitas dan politik tubuh perempuan Tionghoa. Kekerasan seksual dan rasial tidak ditampilkan secara eksploitasi visual, melainkan melalui bahasa yang puitis dan sugestif, sejalan dengan kecenderungan sastra trauma yang menggunakan strategi indirection untuk menghindari pengulangan luka secara sensasional.

Representasi ini memperlihatkan bahwa tubuh perempuan sering kali menjadi medan politik dalam konflik etnis dan sosial. Melalui kisah Lian dan tokoh perempuan lainnya, novel ini menyoroti bagaimana kekerasan meninggalkan jejak bukan hanya pada tubuh individu, tetapi juga pada relasi sosial, rasa aman, dan kepercayaan dalam komunitas Tionghoa. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Ingatan Ikan-ikan memperkaya kajian feminisme interseksional dan studi etnis Tionghoa di Indonesia.

Secara keseluruhan, novel ini bisa dikatakan sebagai kontribusi penting dalam studi sastra Indonesia modern. Novel ini berhasil memadukan representasi trauma dengan perangkat naratif yang inovatif, simbolisme yang kaya, dan kritik sosial yang tajam. Dengan demikian, novel ini dapat ditempatkan dalam diskursus yang lebih luas mengenai memori kolektif, kekerasan rasial, representasi perempuan, serta politik pelupaan dalam sejarah Indonesia.

 

Referensi
Barthes, R., & Heath, S. (1977). Image, music, text: Essays (13. [Dr.]). Fontana.
Caruth, C. (1996). Unclaimed experience: Trauma, narrative, and history. Johns Hopkins Univ. Press.
Heryanto, A. (2006). State Terrorism and Political Identity in Indonesia: Fatally Belonging (0 ed.). Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203099827
Hirsch, M. (2008). The Generation of Postmemory. Poetics Today, 29(1), 103–128. https://doi.org/10.1215/03335372-2007-019
Hirsch, M. (2012). The Generation of postmemory: Writing and visual culture after the Holocaust. Columbia University Press.
LaCapra, D. (2001). Writing History, Writing Trauma. Johns Hopkins University Press.
Lévi-Strauss, C. (1963). Structural Anthropology. Basic Books.
Peirce, C. S. (1931). Collected papers of Charles Sanders Peirce (Vols. 1–8). Harvard University Press.
Picture of Ruang Sastra Kaltim
Ruang Sastra Kaltim
Konten ini merupakan kolaborasi ProPublika dengan Ruang Sastra Kaltim, komunitas sastra di Kalimantan Timur yang berbasis di Kota Samarinda. Berisi esai, resensi buku, hingga cerpen.
Bagikan
Berikan Komentar