Samarinda – Pulau Maratua di Kabupaten Berau, ikon wisata bahari sekaligus beranda perbatasan Indonesia di Kalimantan Timur, kembali mendapat sorotan DPRD Kaltim. Anggota Komisi III, Syarifatul Sya’diah, menilai pembangunan di pulau tersebut masih jauh tertinggal dibandingkan dengan potensi besar yang dimilikinya.
Menurutnya, Maratua ibarat mutiara yang belum digarap serius. Keindahan alam dan posisi strategis tidak diimbangi dengan infrastruktur yang memadai. Mulai dari akses jalan, ketersediaan air bersih, hingga penanganan abrasi pantai, semua masih menjadi pekerjaan rumah yang mendesak.
“Potensi wisata dan posisi geografis Maratua sangat penting. Tapi kalau kondisi infrastrukturnya masih seperti sekarang, bagaimana pulau ini bisa berkembang?” ujarnya, Kamis (17/7/2025).
Syarifatul menyoroti abrasi pantai yang kian mengkhawatirkan, bukan hanya di Teluk Harapan, tetapi juga merambah ke kampung-kampung lain seperti Payung-Payung. Menurutnya, dampak abrasi sudah nyata dirasakan masyarakat pesisir dan butuh penanganan segera.
“Garis pantai makin terkikis dan dampaknya nyata bagi masyarakat pesisir. Ini persoalan serius yang butuh penanganan segera dan terkoordinasi,” tegasnya.
Selain itu, kondisi infrastruktur jalan juga dinilai sangat buruk. Di Teluk Harapan, jalur utama hanya diperbaiki sebagian dengan beton, sementara sisanya rusak parah sehingga menghambat mobilitas warga maupun wisatawan.
“Bayangkan, jalan utama hanya diperbaiki sekitar 10 meter, selebihnya hancur. Sulit sekali membayangkan bagaimana pariwisata bisa tumbuh dengan kondisi seperti itu,” katanya.
Politisi ini menegaskan bahwa pembangunan Maratua tidak bisa hanya menunggu intervensi pusat atau provinsi. Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Berau, terutama dinas teknis seperti PUPR, untuk lebih proaktif.
“Harus ada inisiatif dari daerah. Jangan pasif menunggu program dari atas, karena masyarakat pesisir membutuhkan perlindungan sekarang juga,” ujarnya.
Menurutnya, jalan, air bersih, dan fasilitas penunjang pariwisata harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Dengan infrastruktur yang kuat, Maratua bisa tampil sebagai wajah depan Kalimantan Timur dan simbol perbatasan Indonesia yang membanggakan.
“Kalau benar pemerintah ingin mewujudkan pemerataan pembangunan, maka Maratua harus diprioritaskan. Ini bukan sekadar soal pariwisata, melainkan juga soal martabat dan masa depan masyarakatnya,” pungkas Syarifatul.
Baca juga :
