SAMARINDA – Rencana pembangunan jalan tol yang menghubungkan Kota Samarinda dan Kota Bontang terus menjadi perhatian publik dan dinilai sebagai salah satu proyek strategis Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Keberadaan jalan tol ini diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang terhadap berbagai permasalahan transportasi yang selama ini membebani jalur utama kedua kota tersebut.
Tak hanya soal efisiensi waktu tempuh, pembangunan tol ini juga dinilai akan memberikan dampak positif terhadap aspek keselamatan pengguna jalan, mengingat kondisi jalur poros Samarinda–Bontang saat ini kerap dilaporkan rusak parah dan menjadi titik rawan kecelakaan. Aktivitas angkutan berat di jalur tersebut turut memperparah kemacetan dan menurunkan kenyamanan berkendara.
Menyikapi hal itu, Anggota Komisi II DPRD Kaltim, Syarifatul Sya’diah, menyampaikan dukungan penuhnya terhadap proyek tersebut. Ia menilai kehadiran jalan tol dengan kondisi fisik yang baik dan bebas dari gelombang adalah langkah penting untuk menunjang mobilitas masyarakat maupun distribusi logistik.
“Sudah selayaknya Kalimantan juga memiliki akses tol layak seperti di Jawa atau Sumatera. Masa hanya satu-satunya di Kaltim, dan kondisinya pun belum maksimal,” ujarnya pada 12 Juni 2025.
Sebagai legislator dari daerah pemilihan Bontang, Kutai Timur, dan Berau, Syarifatul berharap proyek tol ini tidak berhenti hanya sampai di Bontang, melainkan dilanjutkan hingga ke wilayah Berau demi pemerataan pembangunan infrastruktur di kawasan utara Kaltim.
“Tentu harapannya jalan tol ini dirancang seefisien mungkin, cari jalur yang pendek supaya biaya pembangunan tidak terlalu membengkak,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa rute tol yang terlalu panjang bukan hanya akan membutuhkan investasi besar, tapi juga berpotensi menimbulkan tarif yang tinggi bagi pengguna.
Sejak Bontang ditetapkan sebagai kota industri penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), Syarifatul menegaskan komitmennya untuk terus mendorong percepatan realisasi proyek tol Samarinda–Bontang sebagai bagian dari persiapan infrastruktur pendukung kawasan tersebut.
“Semua sudah punya perannya masing-masing. Sekarang tinggal bagaimana kita bisa pastikan sarana dan prasarananya berjalan sesuai kebutuhan,” tegasnya.
