Membaca Ulang Gerakan 30 September 1965: Kelindan Militer, Intelijen, dan Kekuatan Asing
Narasi alternatif mengenai fakta lapangan gerakan 30 September 1965 (G30S): keterlibatan perwira militer, intelijen, dan kekuatan asing.
Narasi alternatif mengenai fakta lapangan gerakan 30 September 1965 (G30S): keterlibatan perwira militer, intelijen, dan kekuatan asing.
Kehadiran kata dinepalkan dalam leksikon politik Indonesia bukan sekadar tren linguistik semata, melainkan alarm yang berdetak kencang.
Indonesia relatif tertinggal dari negara-negara yang merdeka di periode hampir sama. Apa sebabnya dan bagaimana mengatasinya?
Dalam masyarakat tradisional yang penuh hirarki, seni menghadirkan cara untuk menegur kekuasaan tanpa harus mengangkat senjata.
Pendidikan sejatinya medan perjuangan. Elite terpelajar hanya berarti sejauh pengetahuannya digunakan menantang kekuasaan yang menindas.
Sunyi yang terlihat netral sejatinya bukanlah ketidakberpihakan. Ia adalah sikap keberpihakan kepada yang zalim.
Demonstrasi, betapapun kerasnya, lahir dari kebutuhan untuk didengar. Negara seharusnya hadir sebagai pendengar, bukan sebagai pemukul.
Oleh rezim, rakyat turun ke jalan tidak dipandang sebagai individu-individu sadar menuntut keadilan, tapi massa yang dipolitisasi.
Demonstrasi ini dapat menjadi peringatan bahwa ketidakpuasan telah menjalar hingga ke kelompok yang selama ini menjadi penopang stabilitas.
Pertanyaan lebih mendasar kami ajukan: Masih perlukah tentara dan polisi dalam wajah dan watak seperti sekarang di negeri ini?