Esai
tulisan bertema gerakan 30 September 1965 atau G30S/pki.
Esai

Membaca Ulang Gerakan 30 September 1965: Kelindan Militer, Intelijen, dan Kekuatan Asing

Narasi alternatif mengenai fakta lapangan gerakan 30 September 1965 (G30S): keterlibatan perwira militer, intelijen, dan kekuatan asing.

Dinepalkan: Dari Amuk ke Revolusi Terorganisir - Ubaidillah. (Foto: Getty Images)
Esai

Dinepalkan: Dari Amuk ke Revolusi Terorganisir

Kehadiran kata dinepalkan dalam leksikon politik Indonesia bukan sekadar tren linguistik semata, melainkan alarm yang berdetak kencang.

80 Tahun Indonesia: Jalan Panjang Menuju ‘Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia’ - M Luthfi K A
Esai

80 Tahun Indonesia: Jalan Panjang Menuju ‘Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia’

Indonesia relatif tertinggal dari negara-negara yang merdeka di periode hampir sama. Apa sebabnya dan bagaimana mengatasinya?

Belajar Bernegara dari Sebuah Lakon Wayang - M Luthfi K A
Esai

Belajar Bernegara dari Sebuah Lakon Wayang

Dalam masyarakat tradisional yang penuh hirarki, seni menghadirkan cara untuk menegur kekuasaan tanpa harus mengangkat senjata.

Kemunduran Ideologis Kaum Terpelajar: Refleksi atas Elite Modern Indonesia di Era Kapitalisme - Hidayatullah Rabbani
Esai

Kemunduran Ideologis Kaum Terpelajar: Refleksi atas Elite Modern Indonesia di Era Kapitalisme

Pendidikan sejatinya medan perjuangan. Elite terpelajar hanya berarti sejauh pengetahuannya digunakan menantang kekuasaan yang menindas.

Ke Mana Intelektual Publik Selama Protes Rakyat? - Hidayatullah Rabbani. (Ilustrasi: ProPublika.id)
Esai

Ke Mana Intelektual Publik Selama Protes Rakyat?

Sunyi yang terlihat netral sejatinya bukanlah ketidakberpihakan. Ia adalah sikap keberpihakan kepada yang zalim.

Demonstrasi, Anarkis, dan Kerusuhan: Upaya Negara Melegitimasi Kekerasan terhadap Massa Protes - Hidayatullah Rabbani. (Ilustrasi dikolase oleh ProPublika.id)
Esai

Demonstrasi, Anarkis, dan Kerusuhan: Upaya Negara Melegitimasi Kekerasan terhadap Massa Protes

Demonstrasi, betapapun kerasnya, lahir dari kebutuhan untuk didengar. Negara seharusnya hadir sebagai pendengar, bukan sebagai pemukul.

Presiden Prabowo Subianto memberikan keterangannya bersama pimpinan lembaga negara dan ketua umum partai politik di Istana Merdeka, Jakarta, pada Minggu, 31 Agustus 2025. (Foto: BPMI Setpres/Kris)
Esai

Gagal Paham Prabowo Memahami Protes Rakyat: Tanda Krisis Legitimasi Kekuasaan

Oleh rezim, rakyat turun ke jalan tidak dipandang sebagai individu-individu sadar menuntut keadilan, tapi massa yang dipolitisasi.

Simbol, Solidaritas, dan Ketegangan Struktural: Kelas Menengah dalam Demonstrasi - Esai Ubaidillah.
Esai

Simbol, Solidaritas, dan Ketegangan Struktural: Kelas Menengah dalam Demonstrasi

Demonstrasi ini dapat menjadi peringatan bahwa ketidakpuasan telah menjalar hingga ke kelompok yang selama ini menjadi penopang stabilitas.

Masih Perlukah TNI dan Polri di Negeri Ini? - Hidayatullah Rabbani.
Esai

Masih Perlukah TNI dan Polri di Negeri Ini?

Pertanyaan lebih mendasar kami ajukan: Masih perlukah tentara dan polisi dalam wajah dan watak seperti sekarang di negeri ini?