Selama ini, Kalimantan dijuluki sebagai pulau paling aman dari bencana geologi di Indonesia. Namun, rentetan aktivitas seismik sepanjang awal tahun 2026 di Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi alarm bahwa stabilitas tektonik pulau ini bersifat relatif, bukan absolut.
Dua gempa dangkal yang mengguncang Kabupaten Sekadau dan Sintang menjadi bukti bahwa di balik tenangnya permukaan, terdapat struktur patahan tua yang menunjukkan eksistensinya: Sesar Adang.
Catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan frekuensi beberapa gempa yang dirasakan di Kalbar. Pada 23 Januari 2026, gempa berkekuatan M 4.8 mengguncang Sekadau pada pukul 14:27 WIB dengan kedalaman 10 km.
Gempa dangkal itu getarannya dirasakan pada skala III-IV MMI, menyerupai truk besar yang melintas. Selanjutnya pada 13 Maret 2026 gempa terjadi di Kayan Hilir, Sintang. Berkekuatan M 5 pada pukul 03:04 WIB, episenter gempa berada di sekitar sisi timur pusat gempa sebelumnya.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut memiliki mekanisme pergerakan geser atau strike slip,” ujar Rahmat Triyono, Pelaksana Tugas Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, pada 13 Maret 2026.
Mengenal Sesar Adang: Raksasa Tua yang Terjaga

Kedua gempa tersebut, menurut BMKG, dipicu Sesar Adang. Ia adalah salah satu struktur patahan regional signifikan di Pulau Kalimantan.
Menurut Daryono dari Pusat Studi Gempa Nasional, jalur sesar ini membentang dari Teluk Adang di Kalimantan Timur hingga ke bagian barat laut Kalimantan (wilayah Lupar).
Secara geologis, Sesar Adang berkembang sejak Zaman Tersier (66 – 2,6 juta tahun lalu). Meski bukan sesar Kuarter yang sangat aktif, pergerakannya tetap tercermin dari kejadian gempa-gempa kecil hingga menengah yang terjadi secara periodik.
Para ahli geologi memiliki dua pandangan mengenai sesar ini:
- Teori Kontinu: Menyebut Sesar Adang adalah jalur yang menyambung dari Laut China Selatan melintasi daratan Kalimantan hingga ke Sulawesi.
- Teori Terpisah: Menyebut Sesar Adang di Kaltim tidak tersambung dengan Jalur Lupar di Kalbar karena minimnya bukti jejak lapangan.
Pentingnya Mitigasi di “Pulau Teraman”
Meskipun berada di Paparan Sunda yang jauh dari zona subduksi agresif seperti Jawa dan Sumatra, ancaman gempa di Kalimantan tidak boleh diabaikan. Sebagai shallow crustal earthquake (gempa kerak dangkal), getarannya bisa sangat merusak jika terjadi di dekat atau sekitar pemukiman.
Daryono mengingatkan bahwa infrastruktur modern seperti jembatan bentang panjang, bendungan, hingga kawasan industri di Kalimantan memerlukan pendekatan mitigasi berbasis risiko. “Stabilitas tektonik Kalimantan bersifat relatif, bukan absolut” tegasnya.
Pemahaman mengenai jalur sesar dan karakternya sangat krusial guna memetakan risiko bencana di masa depan, terutama di tengah pesatnya pembangunan di Pulau Kalimantan.
