Setelah menyelesaikan studi, geolog Swiss Wolfgang Leupold melamar pekerjaan ke kementerian kolonial untuk kemungkinan bekerja pada perusahaan minyak. Dalam surat lamarannya, dia mengungkapkan sangat tertarik terhadap kepulauan Melayu.
Dia lalu berangkat ke Den Haag, Belanda, untuk menegosiasikan pekerjaannya dengan pemerintah kolonial dan perusahaan minyak. Bersama istrinya, Erika Bleuler, Leupold kemudian berangkat dari Antwerpen, Belgia, menggunakan kapal barang Djokia.
Mereka tiba di Batavia pada Desember 1921. Leupold menerima kontrak kerja selama enam tahun, 1921-1927.
Dalam tugasnya di Hindia Belanda, geolog kelahiran 1895 itu tak cuma mencatat, tapi juga mengabadikan semua yang dia lihat—masyarakat hingga alam—dalam jepretan kamera merek Contessa Nettel.
Di masanya, kamera tersebut tergolong modern dan cocok untuk cuaca tropis. Dokumentasinya itu lalu dikumpulkan Paola von Wyss-Giacosa dan Andreas Isler dalam buku Memori dari Kalimantan 1921-1927 (2013).
Dari Batavia, Leupold lantas ditugaskan ke timur laut Borneo—sekarang Provinsi Kalimantan Utara, persisnya di Tarakan. Beberapa tahun sebelumnya ditemukan sumber minyak di sana. Sejak 1906 sudah dimulai pencarian minyak bumi di Pulau Tarakan.
Leupold dan Erika berangkat ke Borneo selatan menggunakan kapal uap dari Pulau Madura. Lalu, mereka berlayar ke hulu Sungai Barito menuju Banjarmasin (sekarang Kalimantan Selatan).
Perjalanan selanjutnya menyusur pesisir Borneo timur hingga Tanjung Selor, ibu kota Kesultanan Bulungan. Setelah itu, mereka menetap di Pulau Tarakan. Alih-alih tinggal di kompleks perkantoran pemerintah, Leupold dan Erika memilih menyewa pondok sederhana.
“Di daerah lereng bukit, dibangun rumah dengan beranda terbuat dari kayu dan dinding daun. Di tepi pantai, dibangun pondok-pondok untuk para kuli dan pengangkut barang,” tulis Paola von Wyss-Giacosa dan Andreas Isler dalam Memori dari Kalimantan 1921-1927.
Sementara itu, Pulau Bunyu ada di timur laut Tarakan. Pulau kecil dengan panjang hampir 20 kilometer itu adalah lokasi prospek pencarian minyak selanjutnya.
Eksplorasi Pertambangan

Wyss-Giacosa dan Isler dalam buku yang sama menulis, Pulau Bunyu tak berpenghuni kala Leupold mengeksplorasi minyak pertama kali pada awal 1922. Lantas, dalam waktu beberapa tahun, pulau ini berkembang menjadi tempat penggalian.
Leupold menggunakan beragam metode untuk penelitian geologi, seperti ekspedisi lapangan, pengukuran topografi, serta penggalian dan pengeboran sampai muncul lapisan yang dibutuhkan.
Leupold mengawali eksplorasi di pantai bagian tenggara hingga utara Pulau Bunyu, terutama di lereng pantai dengan lapisan batu bara yang tersingkap. Dia menemukan fosil-fosil menarik, seperti foramninus besar dan nummulites. Itu menunjukkan era lapisan deposit yang menentukan adanya minyak bumi.
Selain Leupold, tampaknya ada beberapa ahli dari Eropa lainnya yang ikut dalam eksplorasi minyak bumi di Pulau Bunyu. Salah satunya ahli geologi dan vulkanologi Kemmerling.
De Indische Courant edisi 4 Oktober 1922 mencatat, pada Mei 1922 Kemmerling berangkat dari Jawa ke Tanjung Selor, Borneo, sebagai basis kegiatannya. Dari tempat ini, dia mulai berbagai eksplorasi.
Bagi Kemmerling, Tanjung Selor punya beberapa keunggulan. Selain tersedia rumah yang layak untuk disewa, daerah ini pun punya koneksi pelayaran Koninklijke Paketvaart-Maatschappij (KPM) sebanyak tiga kali dalam sebulan ke wilayah kepulauan yang lebih ramai.
Letak Tanjung Selor yang kurang lebih berada di tengah wilayah penelitian juga menjadi keuntungan tersendiri. Dari sini, ekspedisi pengintaian dapat dilakukan dengan lebih mudah. Untuk mendukung mobilitas, pemerintah menyediakan sebuah kapal kecil milik daerah bernama Leonora, yang meskipun sederhana, cukup terawat dan fungsional.
Eksplorasi pertambangan di Pulau Bunyu bukan perkara mudah. De Indische Courant menyebut, awal 1922 geolog bernama Von Steiger yang memulai penelitian mendalam di Borneo timur laut mati karena tak sanggup melawan iklim ekstrem.
Menurut laporan surat kabar itu, Pulau Bunyu punya kemiripan kondisi geologi dengan Pulau Tarakan, yang terlebih dahulu ditemukan minyak bumi dalam jumlah besar, terutama untuk bahan bakar kapal perang.
“Di bagian selatan Pulau Bunyu, tempat didirikannya sebuah bivak (tenda perkemahan), ditemukan dua struktur kubah tanah yang sangat menjanjikan. Formasi seperti ini biasanya menjadi tempat akumulasi minyak dalam jumlah besar,” tulis De Indische Courant.
Tantangannya, bagaimana teknik pengeboran bisa mengangkat minyak ke permukaan. Itu bukan soal gampang. Pengalaman di Tarakan, diperlukan waktu bertahun-tahun hingga akhirnya ditemukan metode pengeboran yang tepat. Apalagi ladang-ladang minyak di Pulau Bunyu semuanya terdapat di sepanjang pesisir pantai, sebagian besar di medan rawa yang sulit diakses. Beberapa bagian wilayah pun sangat tidak sehat (higienis).
Tak puas hanya di Tarakan dan Bunyu, pemerintah kolonial saat itu juga mengincar Pulau Nunukan, Sebatik, dan Mandul. “Di Pulau Mandul, pengeboran sudah mulai dilakukan Bataafsche Petroleum Maatschappij,” tulis De Indische Courant.
Sedangkan di Nunukan, sebuah tenda perkemahan sudah didirikan untuk menjelajahi wilayah itu. “Mengingat tepat di seberang perbatasan di wilayah Inggris (Malaya dan Brunei) ditemukan batu bara muda (bruinkool) yang berkualitas baik, maka diharapkan pencarian mineral ini di bagian wilayah Belanda di pulau ini juga dapat membuahkan hasil,” sebut De Indische Courant.
Ambisi Kolonial dan Perginya Leupold
Wyss-Giacosa dan Isler dalam Memori dari Kalimantan 1921-1927 menulis, pengeboran di Pulau Bunyu dilakukan berkali-kali percobaan. Yang sederhana, dilakukan dengan cara menggantungkan besi pengebor pada batang pohon. Dengan peralatan sederhana ini, pengeboran bisa dilakukan sedalam 30 meter per hari.
Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië, 23 Februari 1925 menulis, sejak Januari 1923 sudah dilakukan pengeboran di Pulau Bunyu. Pekerjaan itu dipimpin seorang insinyur bernama J. Veldkamp.
Akan tetapi, baru pada 1925 minyak benar-benar berhasil ditemukan di Pulau Bunyu—meski jumlahnya hanya sedikit, sebagian besar hanya berupa gas bumi. Usaha kolonial menemukan sumber kekayaan bumi yang berharga itu terwujud.
Dinas Pertambangan Mijnwezen milik pemerintah kolonial sangat gencar melakukan eksplorasi minyak bumi dan batu bara sejak 1921. Pemerintah kolonial ingin, lahan-lahan yang memenuhi syarat diperiksa Mijnwezen. Tujuannya, agar lahan-lahan yang dinilai potensial oleh para geolog bisa dikelola pemerintah atau dikembangkan lewat kontrak dengan pihak ketiga. Dengan cara itu, pemerintah kolonial mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi.
“Hingga saat ini, di wilayah divisi selatan dan timur Borneo telah ditetapkan suatu kawasan cadangan yang cukup luas, mencakup beberapa sub-divisi penting, yaitu Bulungan termasuk wilayah Tidung, Berau, serta Pasir dan Tabalong,” tulis De Indische Courant, 4 Oktober 1922.
“Terutama di sub-divisi inilah, menurut perkiraan departemen pertambangan, terdapat lahan minyak dan batu bara yang sangat besar.”
Namun, di balik eksplorasi pertambangan pemerintah kolonial, ada sebuah hal yang perlu jadi perhatian. Menurut laporan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) bertajuk Small Islands of Indonesia, The Land of Mines: Report on the Destruction of the Entire Bodies of Small Islands of Indonesia by Mineral and Coal Mines, mulanya Pulau Bunyu dan pulau-pulau di sekitarnya, termasuk dalam wilayah Kerajaan Tidung, lalu Kesultanan Bulungan. Kerajaan Tidung berakhir pada 1916 karena politik adu domba Belanda untuk memecah belah sebuah wilayah.
Pusat Kerajaan Tidung ada di Pulau Tarakan, sedangkan pusat pemerintahan Kesultanan Bulungan ada di Tanjung Palas yang terletak di daratan Pulau Kalimantan.
“Belanda mengadu domba Kerajaan Tidung dengan Kesultanan Bulungan, yang telah lama terlibat dalam konfrontasi, karena mengetahui ada kandungan minyak dan gas di wilayah Kerajaan Tidung,” tulis Jatam dalam laporan itu.
Selesai dari tugasnya, Leupold pindah ke Bandung pada 1926. Di kantor pusat Dinas Geologi kota itu, dia harus menyelesaikan laporan akhir tertulis dengan perpanjangan masa kerja beberapa bulan. Tapi, dengan alasan kondisi kesehatan keluarga yang memburuk, dia menolak perpanjangan kontrak. Leupold, Erika, dan anaknya, akhirnya kembali ke Eropa pada awal 1927.
