BALIKPAPAN — Harga emas menunjukkan tren kenaikan sejak akhir 2025 dan berlanjut pada awal 2026. Kenaikan ini diikuti perubahan perilaku konsumen di Balikpapan, yang justru semakin aktif membeli emas meski harganya terus meningkat.
Deputy Bisnis Pegadaian Area Balikpapan, Tomy Djoko Tri Rahardjo, mengatakan tren kenaikan harga emas mulai terlihat menjelang akhir tahun lalu. Menurutnya, harga emas relatif stabil hingga tutup tahun sebelum kembali mengalami kenaikan setelah pergantian tahun.
“Kenaikan harga emas di awal tahun ini seperti hadiah tahun baru bagi kami yang bergerak di bisnis emas,” ujar Tomy, Kamis (8/1/2026).
Ia menjelaskan, sebelumnya harga emas Galeri Pegadaian berada di kisaran Rp2,5 juta per gram, sementara emas Antam sekitar Rp2,7 juta per empat gram. Namun, sekitar sepekan setelah tahun baru, harga emas kembali naik cukup signifikan.
“Saat ini Galeri 24 hampir Rp2,6 juta per gram. Antam sudah di Rp2,8 juta hampir Rp2,9 juta per gram, karena dalam sehari bisa naik dua sampai tiga kali,” katanya.
Menurut Tomy, kenaikan harga emas saat ini justru mendorong peningkatan pembelian. “Biasanya kalau harga naik orang mau jual. Tapi di kami justru sebaliknya, ketika harga naik orang ingin membeli karena khawatir harganya akan lebih tinggi lagi,” ujarnya.
Ia menilai konsumen masih memiliki ekspektasi harga emas akan terus meningkat. Dengan harga emas Galeri yang kini mendekati Rp2,6 juta per gram, pergerakan harga diperkirakan mengarah ke Rp3 juta per gram.
“Seperti tahun lalu, target harga Rp2 juta sebenarnya diperkirakan tercapai 2027, tapi tahun ini sudah tembus Rp2,5 juta bahkan lebih,” katanya.
Penjualan Emas Naik 10 Persen
Pada awal 2026, Pegadaian Area Balikpapan mencatat kenaikan transaksi sekitar 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Total penjualan emas pada awal tahun ini mencapai hampir 10 kilogram.
Secara nasional, penjualan emas Pegadaian sepanjang tahun lalu tercatat hampir Rp11 triliun. Khusus Area Balikpapan, nilai penjualan meningkat hingga sekitar 250 persen.
“Ini pengaruh kenaikan harga. Kalau sebelumnya harga di Rp1,3 juta di awal tahun, dengan volume penjualan yang sama nilainya sekarang bisa dua kali lipat,” jelas Tomy.
Proyeksi Penjualan Emas
Melihat kondisi ekonomi yang dinilai masih belum stabil, Tomy memperkirakan minat masyarakat untuk berinvestasi emas akan tetap tinggi sepanjang 2026.
“Orang masih akan membeli emas untuk investasi. Pilihannya juga beragam, bisa digital atau fisik. Emas masih menarik sebagai sarana investasi tahun ini,” ujarnya.
Terkait produk, Tomy menyebut emas Antam masih mendominasi penjualan dengan komposisi sekitar 60 persen, sementara Galeri 24 Pegadaian sebesar 40 persen. Meski demikian, komposisi penjualan Galeri 24 mulai menunjukkan peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Padahal secara kualitas sama. Bedanya, Galeri kami ready stok dan buyback-nya lebih tinggi dibanding Antam. Kini orang mulai mempertimbangkan beli yang harganya lebih murah tapi nilai buyback-nya lebih tinggi,” katanya.
Penyebab Kenaikan Harga Emas
Tomy menyebut kenaikan harga emas dipengaruhi berbagai faktor global, terutama kondisi geopolitik dan perekonomian dunia yang belum stabil. Ia menyinggung adanya gejolak global, termasuk kasus penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang turut memengaruhi pasar.
“Keadaan ekonomi dunia juga belum baik-baik saja. Pasar saham belum menarik, sehingga bank-bank besar masih menyimpan asetnya pada instrumen yang liquid dan aman atau safe asset,” ujarnya.
Selain itu, isu penurunan suku bunga turut mendorong bank-bank sentral menempatkan cadangan devisa pada aset yang dianggap aman, seperti emas. “Kondisi tersebut berdampak langsung pada aktivitas transaksi di Pegadaian,” tuntasnya.
