SAMARINDA – Di tengah gencarnya pembangunan sektor pendidikan di pusat Kota Samarinda, Sekretaris Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, Darlis Pattalongi, menyoroti ketimpangan yang masih terjadi di daerah pinggiran. SMAN 4 Samarinda, yang berlokasi di Rapak Dalam, Kecamatan Loa Janan Ilir, menjadi contoh nyata dari ketidakseimbangan perhatian dan alokasi anggaran yang belum berpihak secara merata.
Selama lebih dari empat dekade berdiri, sekolah ini disebut belum pernah mendapatkan dukungan infrastruktur signifikan dari APBD Kaltim. Letaknya yang berada di kawasan padat dan cekungan rawa turut menjadi alasan minimnya perhatian pembangunan.
“Bayangkan, di ibu kota provinsi, masih ada sekolah negeri yang tak tersentuh pembangunan sejak berdiri. Ini bukan sekadar masalah fasilitas, ini soal keadilan dalam pembangunan,” tegas Darlis pada 19 Juni 2025.
Kasus Kematian Rusel Tak Kunjung Terungkap, DPRD Kaltim Tuntut Transparansi dan Keadilan
Ia menilai bahwa selama ini pendekatan pembangunan pendidikan masih berorientasi pada pusat kota, sementara sekolah-sekolah di kawasan pinggiran kerap luput dari perencanaan prioritas. Padahal, potensi dan semangat belajar di sekolah seperti SMAN 4 dinilai sangat tinggi meski harus berjibaku dengan keterbatasan.
Darlis menekankan bahwa distribusi anggaran tidak boleh diskriminatif. Setiap satuan pendidikan negeri berhak memperoleh fasilitas yang layak tanpa memandang lokasi geografisnya.
“Kita tidak bisa bicara peningkatan kualitas pendidikan kalau fasilitas dasar saja belum terpenuhi. Pemerintah harus hadir untuk menyamakan standar layanan, di pusat maupun pinggiran,” ujarnya.
Blank Spot Marak di Wilayah Kepulauan, Syarifatul Dorong Diskominfo Kaltim Bertindak Cepat
Untuk itu, ia mendorong agar Pemprov Kaltim segera mengalokasikan anggaran perbaikan dan pembangunan SMAN 4 pada APBD Perubahan 2025. Darlis juga mengingatkan perlunya pendekatan teknis yang adaptif terhadap kondisi wilayah, seperti membangun gedung panggung yang sesuai dengan kontur rawa agar tidak menimbulkan dampak lingkungan lebih buruk.
“Jangan samakan metode pembangunan dengan sekolah di kawasan kering. Wilayah seperti ini butuh pendekatan berbeda agar hasilnya benar-benar fungsional dan tahan lama,” jelasnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada para guru dan siswa SMAN 4 yang tetap menunjukkan semangat meski dalam keterbatasan. Menurutnya, inilah alasan mengapa sekolah tersebut layak menjadi prioritas pembangunan pendidikan.
“Kalau ingin mencetak generasi unggul, maka fasilitas pendukungnya harus memadai. Tidak boleh ada sekolah negeri di ibu kota provinsi yang merasa seperti dianaktirikan,” tutup Darlis.
