SAMARINDA – Sistem pendidikan di Indonesia semestinya tidak hanya mengejar prestasi akademik, melainkan juga menjadi sarana dalam melestarikan nilai-nilai budaya lokal sebagai bagian dari penguatan identitas nasional.
Hal ini diungkapkan Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Agusriansyah Ridwan, yang menggarisbawahi perlunya penerapan pendidikan berbasis kearifan lokal untuk membentuk generasi muda yang tetap berakar pada identitas kebangsaan, meski berada dalam arus globalisasi dan pengaruh sistem pendidikan luar.
“Fungsi pendidikan adalah memperkuat karakter bangsa, bukan hanya meniru sistem luar. Kita punya sejarah dan budaya yang kaya yang bisa dijadikan dasar kurikulum nasional,” ucapnya pada 13 Juni 2025.
Agusriansyah juga menekankan pentingnya penguatan pendidikan karakter dalam kegiatan belajar-mengajar, agar siswa tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berintegritas dan memiliki kepedulian sosial.
“Yang kita butuhkan bukan sekadar generasi berprestasi akademik, tetapi mereka yang kuat secara nilai dan akhlak. Ini penting agar mereka tidak kehilangan akar budaya,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam mempertahankan serta meneruskan nilai-nilai kebangsaan. Menurutnya, anak muda perlu dilibatkan secara aktif dalam ruang demokrasi, tidak hanya menjadi pengamat, tetapi turut mengambil peran sebagai agen perubahan.
“Mereka perlu difasilitasi untuk menyuarakan gagasan secara cerdas dan bertanggung jawab. Sistem pendidikan kita harus membentuk kapasitas itu,” tambahnya.
Menanggapi tantangan era digital, Agusriansyah menyebut bahwa literasi digital harus dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa penguasaan teknologi harus disertai etika dan nalar kritis, agar pelajar tidak terjerumus pada informasi palsu atau budaya instan.
“Di era serba digital ini, mereka yang kuat secara intelektual dan etika adalah yang akan bertahan. Karena itu, pendidikan kita harus mampu menyiapkan itu sejak dini,” tutupnya.
