• Cerita
  • Mengenal Trenggiling: Satwa Kritis yang Terancam Mitos Kesehatan
Cerita

Mengenal Trenggiling: Satwa Kritis yang Terancam Mitos Kesehatan

Nasib trenggiling di ujung tanduk. Diburu demi mitos medis, mamalia bersisik ini terancam punah meski berperan vital bagi alam.

Mamalia trenggiling atau Manis javanica
Trenggiling (Manis javanica). (Foto: WWF)

Trenggiling (Manis javanica) merupakan salah satu mamalia paling unik di dunia. Namun, nasibnya kini berada di ujung tanduk.

Di Kalimantan dan berbagai wilayah Indonesia lainnya, perburuan liar terus terjadi. Padahal, International Union for Conservation of Nature (IUCN) mencatat statusnya masuk dalam daftar kritis (critically endangered).

Satu langkah lagi menuju kepunahan, trenggiling terus diburu demi memenuhi permintaan pasar gelap. Mengapa satwa ini begitu diincar, dan apa sebenarnya peran penting mereka bagi alam?

Mitos Kesehatan vs Fakta Ilmiah

Pendorong utama perburuan trenggiling adalah kepercayaan turun-temurun mengenai khasiat medis bagian tubuhnya. Di beberapa negara Asia seperti China dan Vietnam, sisik trenggiling diyakini bisa mengobati penyakit kulit.

Sementara dagingnya dianggap sebagai makanan berkhasiat dan obat kuat. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan sebaliknya.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Reny Sawitri dan Mariana Takandjandji, mengulasnya dalam artikel ilmiah “Manis javanica, Nasibmu Tidak Semanis Namamu”.

Karya itu terbit dalam bunga rampai “Mengenal Lebih Dekat Satwa Langka Indonesia dan Memahami Pelestariannya” yang terbit pada 2023.

Mereka menulis, sisik trenggiling terdiri dari keratin. Ia adalah protein yang juga terkandung dalam kuku dan rambut manusia. Tidak ditemukan kandungan tramadol, zat penghilang rasa sakit, atau yang berkhasiat lain.

Sementara dagingnya tidak memiliki kandungan gizi yang lebih tinggi dari daging ayam. Mereka juga menulis klaim penyembuhan eksim melalui darah trenggiling hanyalah mitos tanpa bukti klinis.

Para peneliti menekankan bahwa mengonsumsi trenggiling tidak memberikan manfaat kesehatan khusus. Sebaliknya, perdagangan ilegal secara besar-besaran justru merusak keseimbangan alam secara permanen.

Peran Vital Trenggiling bagi Ekosistem

Trenggiling. (WWF)
Trenggiling. (WWF)

Jika trenggiling punah, hutan kita akan kehilangan “petani alami”. Satwa ini memberikan dua layanan ekosistem yang luar biasa.

Pertama, trenggiling berperan sebagai pengendali hama alami. Seekor trenggiling mampu mengonsumsi sekitar 70 juta serangga per tahun.

Jika di rata-rata, ia bisa makan sekitar 200.000 ekor serangga per hari. Mereka menjaga populasi rayap dan semut yang mereka konsumsi. Ini berperan mengendalikan populasinya agar tidak meledak dan merusak pepohonan di hutan.

Mamalia ini juga bisa berperan sebagai “arsitek tanah”. Saat mencari makan atau membuat sarang, trenggiling menggali tanah dengan cakar kuatnya.

Aktivitas ini membantu sirkulasi oksigen dan nutrisi di dalam tanah (aerasi), yang sangat penting bagi kesuburan tanaman di sekitarnya.

Karakteristik dan Reproduksi yang Lambat

Terdapat delapan spesies Trenggiling yang tersebar di seluruh dunia. Aalah satunya ada di Indonesia, yakni Manis javanica.

Panjang tubuhnya mencapai 58 cm dan panjang ekor mencapai 45 cm dengan bobot tubuh menyentuh 2 kilogram. Satwa jenis mamalia ini punya sisik tebal yang melapisi seluruh tubuhnya.

Di Indonesia, trenggiling (khususnya jenis Trenggiling Sunda/Manis javanica) dapat dijumpai di wilayah barat hingga tengah, terutama di pulau-pulau besar seperti Sumatera, Kalimantan, Jawa, serta pulau-pulau kecil sekitarnya seperti Bangka, Belitung, dan Nias.

Saat terancam, mereka menggulung diri. Hal ini efektif menghalau predator hutan. Namun, sayangnya, pertahanan ini justru memudahkan pemburu untuk langsung memungutnya.

Trenggiling umumnya hanya melahirkan satu anak per tahun. Masa sapih yang mencapai 3-4 bulan membuat pemulihan populasi di alam liar sangat sulit mengejar kecepatan angka perburuan.

Perlindungan Hukum di Indonesia

Infografis status trenggiling di dunia. (WWF)
Infografis status trenggiling di dunia. (WWF)

Di Indonesia, trenggiling dilindungi secara ketat melalui UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Segala bentuk perburuan, kepemilikan, dan perdagangan trenggiling adalah tindakan ilegal yang diancam pidana penjara dan denda.

Langkah strategis dari pemerintah, komunitas, hingga masyarakat adat sangat diperlukan untuk menjaga spesies ini tetap ada. Menghentikan konsumsi dan melaporkan perdagangan ilegal adalah cara terbaik untuk memastikan trenggiling tidak hanya menjadi legenda di masa depan.

 

Sumber
Sawitri. R, & Takandjandji. M (2023). Manis javanica, nasibmu tidak semanis namamu. Dalam T. Atmoko, & H. Gunawan (Ed.), Mengenal lebih dekat satwa langka Indonesia dan memahami pelestariannya (113–126). Penerbit BRIN. DOI: 10.55981/brin.602.c622, E-ISBN: 978-623-8372-15-7
WWF Indonesia. Trenggiling. http://www.wwf.id/id/blog/trenggiling. Diakses pada 14 Maret 2026.
WWF Indonesia. 7 Fakta tentang Trenggiling yang Mungkin Belum Anda Ketahui. Diakses pada 14 Maret 2026.
IUCN Red List. Sunda Pangolin. Diakses pada 14 Maret 2026.
Picture of FX Jarwo
FX Jarwo
Jurnalis dan penulis konten ProPublika.id. Menggemari isu lingkungan, masyarakat adat, dan hak asasi manusia. Ia pun menulis hal-hal ringan mengenai perjalanan, tips, dan pengetahuan umum dari berbagai sumber.
Bagikan
Berikan Komentar