• Cerita
  • Inovasi Cegah Kebakaran Gambut Sabet Juara di Siak Innovation Challenge 2025
Cerita

Inovasi Cegah Kebakaran Gambut Sabet Juara di Siak Innovation Challenge 2025

Sistem pemantau tinggi muka air gambut berbasis IoT, Peatronics, sabet gelar terbaik di Siak Innovation Challenge. Inovasi cegah kebakaran.

Tiga tim inovasi terbaik Siak Innovation Challange. (Dokumentasi Panitia Festival Inovasi Lestari Siak 2025)
Tiga tim inovasi terbaik Siak Innovation Challange. (Dokumentasi Panitia Festival Inovasi Lestari Siak 2025)

Siak Innovation Challenge 2025 yang menjadi puncak dari Festival Inovasi Lestari telah mengumumkan tiga inovasi terbaik yang berpotensi mendorong keberlanjutan lingkungan dan ekonomi lokal. Penghargaan tertinggi diberikan kepada Peatronics, sebuah sistem pemantauan tinggi muka air gambut berbasis Internet of Things, yang dikembangkan oleh tiga mahasiswa dari Politeknik Caltex Riau.

Inovasi yang digagas oleh Aris Saputra Pasaribu, Artika Azzarah Ahmad, dan Amanda Putri Kinanti ini dirancang untuk mengatasi risiko kebakaran lahan gambut, yang mencakup 57% wilayah Kabupaten Siak.

Sistem ini menggunakan sensor untuk mengukur ketinggian air gambut dan mengirimkan data secara *real-time* melalui jaringan nirkabel LoRa, yang dikenal hemat energi dan memiliki jangkauan luas.

Data dipublikasikan pada web dashboard dengan status aman, waspada, atau kering. Tujuannya adalah memberikan peringatan dini jika permukaan air turun di bawah batas aman, yang merupakan pemicu utama kebakaran.

Aris Saputra Pasaribu menyatakan bahwa sistem ini muncul dari kebutuhan mitigasi, mengingat Siak pernah mengalami kebakaran besar pada 2014.

“Teknologi ini dapat menjangkau area yang sangat jauh dan cocok digunakan di wilayah terpencil,” katanya dalam keterangan tertulis kepada redaksi, Kamis, 20 November 2025.

Wakil Bupati Siak, Syamsurizal, dalam sambutannya menekankan bahwa inisiatif ini adalah langkah strategis untuk mempercepat transformasi menuju Siak sebagai kabupaten hijau yang tangguh dan berdaya saing.

Siak Innovation Challenge 2025 merupakan bagian dari Festival Inovasi Lestari yang berlangsung pada 16-18 November 2025 di Gedung Kesenian Siak. Festival ini memadukan berbagai kegiatan, mulai dari eksibisi ramah gambut, pameran hilirisasi produk, pasar UMKM, talkshow, hingga pertunjukan seni.

Dua Inovasi Terbaik Lainnya

Salah satu peserta memamerkan ide inovasinya. (Dokumentasi Panitia Festival Inovasi Lestari Siak 2025)
Salah satu peserta memamerkan ide inovasinya. (Dokumentasi Panitia Festival Inovasi Lestari Siak 2025)

Selain Peatronics, dua ide lain juga berhasil meraih penghargaan sebagai inovasi terbaik, menunjukkan keragaman potensi kreatif di Siak.

Pertama, Mangalo FortiRice, inovasi pangan berkelanjutan berupa beras analog berbasis singkong yang difortifikasi dengan tepung bonggol pisang.

Inovasi ini menawarkan alternatif pangan rendah gula, memanfaatkan limbah pertanian, dan mengangkat pangan lokal suku Sakai. Tim pengembang berharap inovasi ini dapat memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi petani lokal.

Kedua, Harmoni Aroma Melayu, yakni konsep wisata aroma Siak dari kelompok Archiscape. Konsep ini mengangkat kekayaan bunga herbal Riau melalui wisata tematik edukatif yang berakar pada budaya Melayu Siak.

Inisiatif ini dipandang sebagai strategi pelestarian budaya sekaligus peluang ekonomi bagi UMKM berbasis lahan gambut.

Ekosistem Inovasi Lokal

Keramaian malam penutupan Festival Inovasi Lestari. (Dokumentasi Panitia Festival Inovasi Lestari Siak 2025
Keramaian malam penutupan Festival Inovasi Lestari. (Dokumentasi Panitia Festival Inovasi Lestari Siak 2025

Kepala Bapperida Siak, Budhi Yuwono, mengapresiasi para pemuda yang berkreasi. Inisiatif ini tidak terlepas dari dukungan ekosistem inovasi lokal yang kuat di Siak.

Peran komunitas seperti Haha Hihi Media dan Exploresiak sangat aktif dalam memproduksi konten sosial, menggelar event bertema lingkungan, dan membantu UMKM melakukan rebranding serta digitalisasi.

Selain itu, Sentra Kreatif Lestari Siak menjadi pusat pengembangan UMKM yang telah mendampingi lebih dari 30 pelaku usaha, menjembatani komunitas, dunia usaha, dan pemerintah.

Adapun usaha PT Alam Siak Lestari (ASL) yang mengembangkan produk turunan dari ikan, nanas, dan lebah, serta Pinaloka yang fokus mengolah nanas kelas B/C, turut memberdayakan pemuda dan membangun kemitraan dengan petani.

Festival Inovasi Lestari ini menunjukkan bahwa tantangan lingkungan yang kompleks membutuhkan kolaborasi multipihak—dari akademisi, komunitas, pelaku usaha, hingga pemerintah—untuk mencapai pembangunan berkelanjutan.

Baca juga:

Picture of FX Jarwo
FX Jarwo
Jurnalis dan penulis konten ProPublika.id. Menggemari isu lingkungan, masyarakat adat, dan hak asasi manusia. Ia pun menulis hal-hal ringan mengenai perjalanan, tips, dan pengetahuan umum dari berbagai sumber.
Bagikan
Berikan Komentar