BALIKPAPAN – Video viral yang memperlihatkan seorang perempuan mengangkat dan menggoyangkan seekor mamalia air dipastikan bukan menampilkan pesut Mahakam, melainkan finless porpoise, spesies mamalia laut lain yang juga dilindungi.
Ahli pesut dari Yayasan Rasi, Danielle Kreb, menegaskan bahwa satwa dalam video tersebut bukan pesut Mahakam, mamalia air tawar endemik Sungai Mahakam yang kini berada di ambang kepunahan.
“Sekilas memang mirip, tetapi berbeda. Itu bukan pesut Mahakam, melainkan finless porpoise yang juga dilindungi,” ujar Danielle, Senin (12/1/2026).
Danielle menjelaskan, kesalahan identifikasi kerap terjadi karena kemiripan fisik kedua spesies. Namun, pesut Mahakam hanya hidup di perairan tawar Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, dengan populasi yang sangat terbatas dan terus menurun. Sementara itu, finless porpoise hidup di wilayah pesisir dan perairan laut, bukan di sungai air tawar.
Berdasarkan penelusuran Yayasan Rasi, lokasi kejadian dalam video tersebut dipastikan bukan di Kalimantan Timur. Peristiwa itu diduga terjadi di wilayah Jambi atau Sumatra, meski lokasi pastinya masih dalam pendalaman.
“Lokasi tepatnya belum diketahui, tetapi kemungkinan besar bukan di Kaltim. Kasus ini sudah dilaporkan ke pihak berwenang, dan akun TikTok pengunggah video tersebut juga sudah tidak aktif,” kata Danielle.
Meski bukan pesut Mahakam, ia menegaskan bahwa perlakuan terhadap satwa dalam video tersebut tetap bermasalah karena finless porpoise merupakan satwa yang dilindungi secara hukum. Interaksi fisik yang tidak tepat, terutama jika satwa dalam kondisi lemah atau mati, berpotensi menimbulkan risiko kesehatan.
“Baik dalam kondisi hidup maupun mati, mamalia laut dapat membawa bakteri atau virus. Karena itu, interaksi langsung tanpa pengetahuan yang cukup sangat berisiko,” ujarnya.
Sebagai upaya edukasi, Yayasan Rasi mengimbau masyarakat agar tidak menjadikan satwa liar sebagai objek tontonan. Jika menemukan mamalia laut terjerat jaring dalam kondisi hidup, masyarakat diminta segera melepaskannya dengan memastikan lubang pernapasan berada di atas permukaan air.
“Lumba-lumba dapat dibedakan dari ikan melalui sirip ekornya yang horizontal, bukan vertikal,” jelas Danielle.
Sementara itu, jika ditemukan mamalia laut dalam kondisi mati, masyarakat diimbau tidak menyentuh atau memindahkan satwa tersebut, melainkan segera melapor kepada aparat desa setempat untuk diteruskan ke Wilayah Kerja Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) terdekat atau melalui call center Kementerian Kelautan dan Perikanan di nomor 141.
Sebagai informasi, pesut Mahakam berstatus kritis (critically endangered) dalam Daftar Merah IUCN dan tercantum dalam Apendiks I CITES. Yayasan Rasi mencatat, populasi pesut Mahakam kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 60 ekor berdasarkan pendataan hingga akhir 2024.
