BALIKPAPAN — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mengapresiasi langkah PT Shifa Naghari Indonesia dan Export Center Balikpapan yang berhasil membuka pasar baru bagi komoditas damar batu melalui ekspor perdana ke Sri Lanka. Asisten Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setdaprov Kaltim, Ujang Rachmad, menilai ekspor ini menjadi langkah penting dalam memperkuat struktur ekonomi daerah di luar sektor migas dan batu bara.
“Ekspor damar batu ke Sri Lanka ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat struktur ekonomi Kaltim, khususnya di luar ekspor migas dan batu bara,” ujar Ujang saat menghadiri pelepasan ekspor di Pelabuhan KKT Balikpapan, Kamis (21/11/2025).
Ujang menegaskan komitmen Pemprov Kaltim untuk mendorong diversifikasi komoditas ekspor. Menurutnya, keberhasilan ini menunjukkan bahwa pelaku usaha, termasuk UMKM, memiliki peluang besar menembus pasar global dan mampu memenuhi standar internasional. “Ekspor ini menjadi sinyal kuat bahwa Kaltim memiliki potensi besar di luar migas dan batu bara,” katanya.
Kinerja Ekspor Kaltim Turun pada September 2025
Meski terdapat kabar positif dari sektor nonmigas, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kinerja ekspor Kaltim pada September 2025 mengalami penurunan. Nilai ekspor tercatat 1.678,36 juta USD, turun 8,23 persen dibanding Agustus 2025.
Penurunan terjadi pada ekspor migas yang turun 16 persen, sementara ekspor nonmigas—yang didominasi batu bara—mencapai 1.532 juta USD atau turun 7,70 persen. Secara kumulatif Januari–September 2025, nilai ekspor Kaltim mencapai 15.242 juta USD, atau turun 14,67 persen dibanding periode yang sama tahun 2024.
Komoditas produk kimia, termasuk pupuk, masih menjadi penyumbang utama ekspor pada September. Sementara kelompok lemak dan minyak hewani/nabati, termasuk CPO, merosot hingga 57,74 persen.
“Kaltim tetap mencatat surplus perdagangan, meski turun 278,54 juta USD dibanding Agustus. Namun secara tahunan, surplus masih meningkat 42,75 juta USD,” kata Ujang.
Sektor Pertanian Tumbuh Meski Kontribusinya Kecil
Di tengah penurunan ekspor komoditas utama, sektor pertanian justru menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pada September 2025, nilai ekspornya mencapai 2,24 juta USD atau naik lebih dari 54 persen. Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya sektor ini sempat turun 27 persen. Namun kontribusi sektor pertanian dan kehutanan masih kecil, hanya 0,13 persen dari total ekspor Kaltim.
Ujang mengakui struktur ekspor Kaltim masih sangat bergantung pada komoditas tambang. Pada September 2025, ekspor nonmigas mendominasi dengan porsi 91 persen, terdiri dari batu bara 74,84 persen dan industri pengolahan 16,32 persen. Sektor migas menyumbang 8 persen, sedangkan pertanian dan kehutanan hanya 0,3 persen.
“Kita memang belum bisa menggantikan seluruhnya dari migas dan batu bara, namun pemerintah terus mendorong ekspor komoditas lain, termasuk dari UMKM, agar ketergantungan pada sumber daya alam dapat dikurangi bertahap,” ujar Ujang.
Baca juga :
