BALIKPAPAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Balikpapan tetap berjalan selama bulan Ramadan dengan penyesuaian skema distribusi. Mulai Senin (23/2/2026), menu yang biasanya disantap bersama di sekolah diganti menjadi paket makanan kering untuk dibawa pulang sebagai bekal berbuka puasa.
Kepala SMPN 18 Balikpapan, Guruh Widodo, mengatakan pelaksanaan MBG tetap normal karena tidak ada libur sekolah selama Ramadan.
“Jadwal libur MBG biasanya mengikuti jadwal libur anak sekolah. Selama Ramadan tetap berjalan karena siswa tidak libur,” ujarnya.
Menurut Guruh, perubahan hanya pada jenis menu. Di SMPN 18 Balikpapan, menu yang sebelumnya siap santap saat jam istirahat kini diganti dengan roti, kurma, telur rebus, dan susu agar lebih tahan lama.
“Bagi mereka yang non-Muslim diperbolehkan untuk menyantap MBG di sekolah, tapi biasanya mereka ikut membawa pulang paket MBG yang dibagikan,” jelasnya.
SMPN 18 Balikpapan merupakan salah satu sekolah penerima manfaat MBG sejak awal program berjalan. Selama lebih dari satu tahun pelaksanaan, Guruh menyebut tidak pernah ada kendala berarti dalam penyajian menu.
“Anak-anak juga tidak ada masalah. Memang ada yang memilih membawa bekal atau tidak memakan, tapi biasanya yang tidak dimakan akan diberikan ke siswa lain,” ungkapnya.

Meski menu berubah, siswa tetap antusias menerima paket MBG. Sekolah yang berlokasi di Jalan Manuntung, Sepinggan Baru, Balikpapan Selatan itu tetap mendistribusikan paket sesuai jadwal.
“Ini kami bawa pulang dan kami makan saat buka puasa,” kata siswa kelas IX SMPN 18 Ahmad Zaidan, Senin (23/2/2026).
“Menunya enak, setiap ada MBG selalu dimakan sampai habis,” tambahnya.
Tidak Pakai Ompreng, Menu Diganti Makanan Kering
Secara umum, penyesuaian menu MBG selama Ramadan juga berlaku di Kota Balikpapan dan Kalimantan Timur. Ketua DPD I Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makanan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) Kaltim, Adam Dustin Bhakti, mengatakan dapur MBG beralih ke menu kering untuk dua kelompok sasaran, yakni kelompok 3B (ibu menyusui, ibu hamil, dan balita) melalui posyandu serta anak sekolah.
“Ada beberapa konversi atau penyesuaian menu. Jadi menu-menunya adalah menu kering,” ujar Adam di Balikpapan, Minggu (22/2/2026).

Menu untuk siswa meliputi bubur kacang hijau, telur puyuh rebus, susu UHT, kurma, roti, kacang, dan kelengkeng. Menu tersebut dipilih agar tahan hingga waktu berbuka.
“Menu ini dibawa pulang untuk berbuka. Jadi bukan menu yang dalam beberapa jam sudah basi,” tegasnya.
Selama Ramadan, distribusi tidak lagi menggunakan ompreng, melainkan kemasan praktis. “Selama Ramadan ini tidak pakai ompreng. Setelah Idul Fitri, baru kita balik lagi ke ompreng,” lanjut Adam.
Distribusi di sekolah tetap mengikuti jam belajar, sedangkan teknis pembagian diatur masing-masing sekolah. Untuk kelompok 3B, menu difokuskan pada asupan protein tinggi seperti telur, abon ikan atau ayam, biskuit tinggi protein, susu, buah, dan kurma.
“Nanti kita tinggal koordinasi dengan posyandu. Karena satu posyandu membawahi beberapa RT,” jelasnya.
Adam menyebut distribusi bagi siswa hanya berlangsung sekitar dua minggu pada pertengahan Ramadan, menyesuaikan jadwal libur sekolah menjelang Idul Fitri yang ditetapkan pemerintah.
“Kita menyesuaikan libur anak sekolah yang dikeluarkan pemerintah, jadi mengikuti jadwal tersebut,” katanya.
Sementara itu, distribusi untuk kelompok 3B tetap berjalan sepanjang Ramadan. Ia memastikan operasional dapur tetap lancar karena perubahan hanya pada menu.
“Untuk dapur masih berjalan lancar. Penyesuaian hanya pada menu, bukan jadwal distribusi, jadi tidak terlalu signifikan,” ujarnya.
Ia menambahkan koordinasi dengan sekolah dan posyandu menjadi kunci kelancaran distribusi. “Kami dari pengelola dapur mengikuti pihak sekolah atau posyandu terkait waktu distribusi,” pungkasnya.
