• Berita
  • Kaltim Siaga Karhutla: 77 Titik Panas Terdeteksi, BPBD Percepat Kesiapan Pompa dan Personel
Berita

Kaltim Siaga Karhutla: 77 Titik Panas Terdeteksi, BPBD Percepat Kesiapan Pompa dan Personel

BPBD Kaltim deteksi 77 titik panas di 6 kabupaten/kota. Antisipasi karhutla diperkuat sambil menunggu penetapan status siaga provinsi.

Ilustrasi kebakaran lahan dan hutan. (Foto : iStock/Walaiporn Sangkeaw)

SAMARINDA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur mulai menyalakan alarm kewaspadaan seiring terdeteksinya 77 titik panas (hotspot) di berbagai wilayah Bumi Etam. Langkah antisipasi ini diambil guna membentengi kawasan hutan dan lahan dari ancaman kebakaran (karhutla) menjelang transisi musim kemarau.

Koordinator Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kaltim, Cahyo Kristanto, mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini tengah menanti legalitas formal berupa Surat Keputusan (SK) Gubernur terkait penetapan status siaga bencana hidrometeorologi.

“Regulasi untuk penetapan status siaga sedang dalam proses. Kami berharap dalam waktu dekat SK tersebut sudah disahkan sebagai dasar penguatan langkah penanganan di lapangan,” terang Cahyo baru-baru ini.

Akselerasi Kesiapan Sarana Prasarana

Meski payung hukum masih berproses, BPBD Kaltim memastikan mesin birokrasi dan teknis tidak tinggal diam. Fokus utama saat ini adalah mematangkan persiapan sarana dan prasarana (sarpras) sebelum puncak kemarau yang diprediksi terjadi pada rentang Juli hingga September 2026.

Cahyo menjelaskan bahwa pengecekan intensif terhadap mesin pompa air dan alat pemadam lainnya menjadi prioritas. “Tujuannya adalah memastikan respons cepat tim di lapangan saat api mulai terdeteksi, sehingga kebakaran tidak meluas,” tambahnya.

Berdasarkan pemantauan terbaru, sebaran titik panas tersebut mencakup wilayah Kabupaten Paser, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, hingga sebagian Kota Bontang. Belajar dari evaluasi tahun 2023, karakteristik lahan gambut di wilayah-wilayah tersebut menjadi tantangan serius karena sifatnya yang sangat mudah terbakar saat kekeringan melanda.

Kolaborasi dan Edukasi Masyarakat

BPBD menekankan bahwa penanganan karhutla merupakan kerja kolektif. Sinergi antara pemerintah, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), sektor swasta perkebunan, hingga relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) menjadi kunci efektivitas pengendalian.

Di sisi lain, Cahyo memberikan imbauan keras kepada masyarakat agar meninggalkan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Meski saat ini curah hujan masih sesekali turun, risiko kebakaran tetap tinggi saat memasuki fase kering.

“Kami meminta kesadaran penuh dari warga. Jangan membuka lahan dengan cara dibakar karena risikonya sangat fatal, terutama di kawasan yang memiliki lapisan gambut tebal,” tegas Cahyo mengakhiri.

Picture of Alfian
Alfian
Jurnalis ProPublika.id. Menulis berbagai hal mengenai kriminal, ekonomi, olahraga, dan lingkungan.
Bagikan
Berikan Komentar