MANADO – Wilayah Laut Maluku punya catatan khusus dari para ahli geologi dan kebencanaan. Sebagai salah satu kawasan dengan aktivitas seismik aktif di Indonesia, Laut Maluku memiliki karakteristik unik yang dikenal sebagai sistem subduksi ganda (double subduction).
Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa rentetan gempa dengan mekanisme sesar naik (thrust fault) di wilayah tersebut bukan tanpa alasan. Hal ini merupakan dampak langsung dari “jepitan” tektonik yang sangat kompleks.
Laut Maluku secara tektonik sangat istimewa karena diapit oleh dua busur subduksi yang aktif secara bersamaan. Lempeng Laut Maluku tersubduksi (menunjam) ke arah barat di bawah Busur Sangihe, sekaligus menunjam ke arah timur di bawah Busur Halmahera.
“Gempa-gempa dengan mekanisme sesar naik di wilayah Laut Maluku merupakan konsekuensi langsung dari dinamika tektonik kompleks pada zona konvergensi ganda yang unik di kawasan ini,” ujar Daryono dalam keterangan tertulis, Jumat (3/4/2026).
Kondisi “terjepit” dari dua arah ini, menurut Daryono, memicu tekanan luar biasa besar. Kondisi ini menyebabkan akumulasi tegangan kompresi yang sangat intens pada kerak bumi.
Bagaimana Sesar Naik Terbentuk?
Dalam dunia mekanika batuan, sesar naik terjadi ketika ada gaya dorong horizontal yang sangat kuat sehingga memaksa satu blok batuan bergerak naik melewati blok lainnya. Di Laut Maluku, sumber gempa ini biasanya berasal dari:
- Bidang Kontak Antarlempeng (Megathrust): Pergeseran tepat di titik pertemuan lempeng.
- Deformasi Internal Slab: Patahan yang terjadi di dalam lempeng yang sedang menunjam.
.
Uniknya, meski gempa di wilayah ini sering terjadi pada kedalaman menengah hingga dalam, mekanismenya tetap menunjukkan pola sesar naik.
Secara geofisika, lanjut Daryono, karakteristik ini konsisten dengan hasil analisis moment tensor yang menunjukkan dominasi komponen kompresional (P-axis) hampir horizontal, serta bidang nodal yang mencerminkan geometri penunjaman lempeng.
Baca juga: Ganti CEO, Persiba Balikpapan Gratiskan Tiket Pertandingan Kontra Persipura Jayapura
Ancaman Tsunami dan Signifikansi Mitigasi
Mengapa pemahaman mengenai sesar naik ini begitu penting? Jawabannya ada pada potensi tsunami. Berbeda dengan sesar geser, sesar naik memiliki pergerakan vertikal yang signifikan.
“Dari perspektif kebencanaan, gempa thrust di Laut Maluku memiliki signifikansi tinggi karena berpotensi menghasilkan deformasi dasar laut secara vertikal, yang dapat memicu tsunami,” jelas Daryono.
Risiko tsunami ini akan meningkat apabila:
- Gempa terjadi pada kedalaman dangkal.
- Melibatkan pergeseran besar pada bidang patahan.
- Kekuatan gempa (magnitudo) yang cukup besar untuk menggerakkan kolom air laut.
.
Baca juga: Laga PSS Sleman vs Persipal FC: Panpel Hanya Siapkan 7.000 Tiket di Stadion Maguwoharjo
Interaksi antara dua sistem subduksi yang saling berhadapan (arc-arc collision) di Laut Maluku memperkuat intensitas deformasi batuan. Itu membuat frekuensi gempa sesar naik di wilayah ini menjadi cukup tinggi.
Daryono menekankan bahwa pengawasan dan edukasi mengenai karakter gempa ini adalah kunci keselamatan bagi masyarakat di Indonesia Timur.
“Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif terhadap mekanisme ini menjadi krusial dalam upaya mitigasi risiko bencana di kawasan Indonesia timur,” pungkasnya.
Glosarium Singkat:
- Sesar Naik (Thrust Fault): Patahan di mana salah satu blok batuan terdorong ke atas.
- Subduksi: Proses salah satu lempeng tektonik masuk ke bawah lempeng lainnya.
- Deformasi: Perubahan bentuk atau posisi batuan akibat tekanan tektonik.
