SAMARINDA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur mencatat pertumbuhan signifikan nilai ekspor pada Oktober 2025. Dibandingkan bulan sebelumnya, ekspor naik 11,23 persen menjadi US$1.866,84 juta. Kinerja ini menghasilkan surplus neraca perdagangan sebesar US$1.394,16 juta untuk bulan tersebut.
Kepala BPS Provinsi Kalimantan Timur, Yusniar Juliana, mengonfirmasi pertumbuhan ekspor yang terjadi di hampir semua sektor. “Ekspor migas Oktober 2025 tercatat sebesar US$199,44 juta, atau naik sebesar 36,50 persen dibandingkan dengan September 2025. Sementara itu, ekspor nonmigas tercatat US$1.667,40 juta, atau naik sebesar 8,82 persen,” kata Yusniar dalam siaran pers BPS Kaltim.
Komoditas Unggulan dan Tren Perdagangan
Lonjakan ekspor nonmigas, yang menyumbang sekitar 89,3 persen dari total ekspor Oktober, didominasi oleh satu kelompok barang. “Peningkatan nilai ekspor nonmigas terbesar terjadi pada golongan barang lemak dan minyak hewani/nabati yang naik sebesar US$115,92 juta atau 104,93 persen,” jelas Yusniar lebih lanjut.
Sementara itu, penurunan terdalam terjadi pada ekspor bahan kimia organik, yang menyusut US$6,21 juta (38,31 persen).
Meski mengalami pertumbuhan bulanan yang positif, performa ekspor Kaltim secara tahunan (year-to-date) masih berada di zona negatif. Secara kumulatif periode Januari hingga Oktober 2025, nilai ekspor tercatat US$17.107,47 juta, atau turun 14,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
“Komoditas hasil tambang tetap menjadi andalan ekspor Provinsi Kalimantan Timur dengan peranan sebesar 69,60 persen selama periode Januari-Oktober ini. Hasil industri di posisi kedua (20,59 persen), dan migas di posisi ketiga (9,70 persen),” tambah Yusniar.
Peta Mitra Dagang dan Gerbang Ekspor
China konsisten menjadi pasar utama bagi produk-produk Kaltim, dengan menyerap ekspor senilai US$5.088,51 juta atau 32,94 persen dari total ekspor nonmigas sepuluh bulan terakhir. India menyusul di posisi kedua (US$2.600,67 juta; 16,84 persen), diikuti oleh Filipina (US$1.288,38 juta; 8,34 persen).
Dari sisi logistik, tiga pelabuhan memberikan kontribusi terbesar terhadap total ekspor Oktober 2025, yakni Pelabuhan Balikpapan (US$487,96 juta), Pelabuhan Samarinda (US$339,22 juta), dan Pelabuhan Bonthan Bay (US$293,36 juta).
Dinamika Impor dan Neraca Perdagangan
Di sisi impor, nilai yang tercatat pada Oktober 2025 adalah US$472,68 juta, naik 7,82 persen dari bulan sebelumnya. Kenaikan ini terjadi baik pada impor migas (naik 5,31 persen menjadi US$394,79 juta) maupun nonmigas (naik 22,64 persen menjadi US$77,89 juta).
Fenomena menarik terlihat pada impor nonmigas. “Peningkatan nilai impor nonmigas terbesar terjadi pada golongan barang pupuk yang mengalami kenaikan fantastis sebesar US$7,32 juta dari sebelumnya yang hanya mengimpor senilai US$52,” urai Yusniar. Sementara penurunan terdalam terjadi pada impor kapal dan struktur terapung.
Secara penggunaan, impor barang konsumsi mengalami peningkatan tertinggi sebesar 97,06 persen, diikuti bahan baku/penolong (8,08 persen), dan barang modal (2,38 persen). Negara asal impor nonmigas terbesar selama periode Januari-Oktober 2025 adalah Tiongkok (34,81 persen), Jerman (9,09 persen), dan Amerika Serikat (8,22 persen).
Gabungan dari kinerja ekspor yang kuat dan impor yang masih terkendali menghasilkan surplus perdagangan yang sehat. Namun, neraca tersebut terpolarisasi. Sektor nonmigas mencatat surplus besar US$1.589,51 juta, sementara sektor migas justru mencatat defisit sebesar US$195,35 juta.
Baca juga :
