Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, mengungkapkan bahwa narasi “Tsunami Atapupu” setinggi 25 meter tersebut merupakan sebuah kekeliruan interpretasi sejarah.
Berdasarkan penelusuran dokumen historis asli, peristiwa tersebut merupakan gempa tektonik kuat dan fenomena seaquake (gempa laut), bukan tsunami raksasa.
Menurut Daryono, merujuk pada laporan anonim tahun 1910, gempa terjadi setelah pukul 20.00 waktu setempat. Getaran hebat dirasakan di seluruh Pulau Timor, terutama di Atapupu, dengan durasi mencapai 3 menit—durasi yang sangat lama untuk ukuran gempa tektonik.
Dampak kerusakan di darat tercatat sangat nyata. Retakan dinding muncul di benteng pertahanan, tembok sepanjang 5 meter runtuh, dan rumah-rumah di pemukiman Tionghoa dilaporkan ambruk. Di sepanjang pesisir, ditemukan retakan tanah (deformasi) memanjang hingga 25 meter.
“Kesalahan interpretasi—misalnya menyebut seaquake sebagai tsunami—dapat menciptakan persepsi risiko yang tidak akurat. Ini bukan sekadar soal benar atau salah secara akademik, tetapi berdampak pada bagaimana masyarakat memahami ancaman di wilayahnya.” kata Wakil Ketua IABI Daryono dalam keterangan tertulis, Kamis, 26 Maret 2026.
Fenomena Seaquake, Bukan Gelombang Tsunami
Salah satu bukti kuat yang membedakan peristiwa ini dengan tsunami adalah kesaksian dari para pelaut. Nelayan di tengah laut merasakan guncangan kuat dalam durasi singkat, sementara kapal yang melintas di antara Pulau Timor dan Pulau Alor mengalami “hentakan” khas.
Fenomena ini diidentifikasi sebagai seaquake—getaran gempa yang merambat melalui kolom air. Berbeda dengan tsunami, tidak ada laporan resmi mengenai gelombang besar yang menerjang pantai (run-up) hingga puluhan meter seperti yang diklaim selama ini.
Dampak gempa ini tercatat sangat luas di Kepulauan Nusa Tenggara:
- Kupang: Dirasakan sebagai gempa terkuat sejak tahun 1881.
- Pulau Alor: Benda-benda di dalam kapal berjatuhan dan benda gantung berayun hingga 12 menit.
- Ende: Rantai jangkar kapal membentur dasar laut berulang kali akibat guncangan hebat.
- Jangkauan: Getaran terasa hingga Rote, Sawu, Bima, bahkan Merauke.
Pentingnya Akurasi Data untuk Mitigasi Masa Depan
Meskipun fakta tsunami 25 meter tersebut diluruskan, Dr. Daryono mengingatkan bahwa wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap merupakan zona tektonik yang sangat aktif. Keberadaan sistem subduksi dan patahan kompleks di Laut Banda membuat potensi gempa dan tsunami tetap menjadi ancaman nyata yang harus diwaspadai.
“Ketepatan informasi adalah fondasi utama mitigasi yang efektif. Tanpa itu, kita berisiko salah membaca masa lalu—dan lebih berbahaya lagi, salah mempersiapkan masa depan.”
Peristiwa Atapupu 1908 mengajarkan bahwa literasi sejarah kebencanaan sangat krusial. Meluruskan sejarah bukan berarti mengecilkan risiko, melainkan memastikan masyarakat bersiap berdasarkan fakta ilmiah yang akurat.
Ringkasan Fakta Gempa Atapupu 1908
| Detail Peristiwa | Keterangan Fakta |
|---|---|
| Waktu Kejadian | 23 Maret 1908, Malam hari |
| Durasi Gempa | ± 3 Menit |
| Fenomena Utama | Seaquake (Gempa Laut) & Tektonik Darat |
| Dampak Terparah | Kerusakan dinding bangunan & retakan tanah 25 meter |
