• Berita
  • Bukan Tsunami 25 Meter, Ini Sejarah Gempa Atapupu 23 Maret 1908
Berita

Bukan Tsunami 25 Meter, Ini Sejarah Gempa Atapupu 23 Maret 1908

Kesalahan interpretasi—misalnya menyebut seaquake sebagai tsunami—dapat menciptakan persepsi risiko yang tidak akurat.

Bukan Tsunami 25 Meter, Ini Sejarah Gempa Atapupu 23 Maret 1908
Bukan Tsunami 25 Meter, Ini Sejarah Gempa Atapupu 23 Maret 1908
Selama puluhan tahun, peristiwa kelam yang menimpa kawasan Pulau Timor pada 23 Maret 1908 sering kali dinarasikan sebagai salah satu bencana tsunami paling mematikan dengan ketinggian gelombang mencapai 25 meter. Namun, data terbaru mengungkapkan fakta yang berbeda.

Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, mengungkapkan bahwa narasi “Tsunami Atapupu” setinggi 25 meter tersebut merupakan sebuah kekeliruan interpretasi sejarah.

Berdasarkan penelusuran dokumen historis asli, peristiwa tersebut merupakan gempa tektonik kuat dan fenomena seaquake (gempa laut), bukan tsunami raksasa.

Menurut Daryono, merujuk pada laporan anonim tahun 1910, gempa terjadi setelah pukul 20.00 waktu setempat. Getaran hebat dirasakan di seluruh Pulau Timor, terutama di Atapupu, dengan durasi mencapai 3 menit—durasi yang sangat lama untuk ukuran gempa tektonik.

Dampak kerusakan di darat tercatat sangat nyata. Retakan dinding muncul di benteng pertahanan, tembok sepanjang 5 meter runtuh, dan rumah-rumah di pemukiman Tionghoa dilaporkan ambruk. Di sepanjang pesisir, ditemukan retakan tanah (deformasi) memanjang hingga 25 meter.

“Kesalahan interpretasi—misalnya menyebut seaquake sebagai tsunami—dapat menciptakan persepsi risiko yang tidak akurat. Ini bukan sekadar soal benar atau salah secara akademik, tetapi berdampak pada bagaimana masyarakat memahami ancaman di wilayahnya.” kata Wakil Ketua IABI Daryono dalam keterangan tertulis, Kamis, 26 Maret 2026.

Fenomena Seaquake, Bukan Gelombang Tsunami

Salah satu bukti kuat yang membedakan peristiwa ini dengan tsunami adalah kesaksian dari para pelaut. Nelayan di tengah laut merasakan guncangan kuat dalam durasi singkat, sementara kapal yang melintas di antara Pulau Timor dan Pulau Alor mengalami “hentakan” khas.

Fenomena ini diidentifikasi sebagai seaquake—getaran gempa yang merambat melalui kolom air. Berbeda dengan tsunami, tidak ada laporan resmi mengenai gelombang besar yang menerjang pantai (run-up) hingga puluhan meter seperti yang diklaim selama ini.

Dampak gempa ini tercatat sangat luas di Kepulauan Nusa Tenggara:

  • Kupang: Dirasakan sebagai gempa terkuat sejak tahun 1881.
  • Pulau Alor: Benda-benda di dalam kapal berjatuhan dan benda gantung berayun hingga 12 menit.
  • Ende: Rantai jangkar kapal membentur dasar laut berulang kali akibat guncangan hebat.
  • Jangkauan: Getaran terasa hingga Rote, Sawu, Bima, bahkan Merauke.

Pentingnya Akurasi Data untuk Mitigasi Masa Depan

Meskipun fakta tsunami 25 meter tersebut diluruskan, Dr. Daryono mengingatkan bahwa wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap merupakan zona tektonik yang sangat aktif. Keberadaan sistem subduksi dan patahan kompleks di Laut Banda membuat potensi gempa dan tsunami tetap menjadi ancaman nyata yang harus diwaspadai.

“Ketepatan informasi adalah fondasi utama mitigasi yang efektif. Tanpa itu, kita berisiko salah membaca masa lalu—dan lebih berbahaya lagi, salah mempersiapkan masa depan.”

Peristiwa Atapupu 1908 mengajarkan bahwa literasi sejarah kebencanaan sangat krusial. Meluruskan sejarah bukan berarti mengecilkan risiko, melainkan memastikan masyarakat bersiap berdasarkan fakta ilmiah yang akurat.

Ringkasan Fakta Gempa Atapupu 1908

Detail PeristiwaKeterangan Fakta
Waktu Kejadian23 Maret 1908, Malam hari
Durasi Gempa± 3 Menit
Fenomena UtamaSeaquake (Gempa Laut) & Tektonik Darat
Dampak TerparahKerusakan dinding bangunan & retakan tanah 25 meter
Picture of FX Jarwo
FX Jarwo
Jurnalis dan penulis konten ProPublika.id. Menggemari isu lingkungan, masyarakat adat, dan hak asasi manusia. Ia pun menulis hal-hal ringan mengenai perjalanan, tips, dan pengetahuan umum dari berbagai sumber.
Bagikan
Berikan Komentar