• Cerita
  • Mengenang 208 Tahun Tragedi Gempa dan Tsunami Dahsyat Bengkulu 1818
Cerita

Mengenang 208 Tahun Tragedi Gempa dan Tsunami Dahsyat Bengkulu 1818

Mengenang tragedi 18 Maret 1818, saat gempa megathrust dan tsunami dahsyat menghantam Bengkulu. Memuat kesaksian Thomas Stamford Raffles.

Mengenang 208 Tahun Tragedi Gempa dan Tsunami Dahsyat Bengkulu 1818
Ilustrasi gempa dan tsunami. (Ilustrasi dibuat dengan AI)

Tanggal 18 Maret menyisakan rekam jejak kelam dalam sejarah kebencanaan pesisir barat Sumatra. Tepat 18 Maret 1818, sebuah gempa megathrust berkekuatan besar mengguncang Bengkulu.

Aktivitas gempa memicu tsunami yang meluluhlantakkan kawasan pesisir. Ia menjadi salah satu catatan seismik paling signifikan sejak abad ke-17.

Peristiwa ini bukan sekadar getaran biasa, melainkan bagian dari rangkaian panjang aktivitas tektonik di zona subduksi barat Sumatra.

Sumber gempa yang terletak di Samudra Hindia, sebelah barat Bengkulu, melepaskan energi masif yang memicu gelombang laut besar hingga menghantam daratan dengan kekuatan destruktif.

Dahsyatnya energi gempa saat itu terekam jelas dari kesaksian para pelaut yang sedang bertugas di perairan Samudra Hindia. Kapal Northumberland dan Sandbury dilaporkan terguncang hebat di tengah laut.

“Getaran gempa bahkan dirasakan oleh Thomas Stamford Raffles yang saat itu berada di atas kapal sejauh sekitar 350 km dari pantai barat Sumatra, menunjukkan luasnya jangkauan energi gempa ini,” ujar Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono dalam keterangan tertulis, 18 Maret 2026.

Hal ini membuktikan betapa luasnya jangkauan energi yang dihasilkan oleh patahan megathrust tersebut.

Kondisi mencekam

Di daratan, lanjut Daryono, situasi jauh lebih mengerikan. Wilayah Fort Marlborough dihantam guncangan pada malam hari dengan intensitas mencapai IX MMI. Skala ini menunjukkan getaran yang mampu merusak struktur bangunan secara masif.

Salah satu saksi mata menceritakan pengalaman traumatiknya saat dinding-dinding rumah mulai runtuh. Ia mengaku terbangun bukan karena suara, melainkan karena fisiknya terlempar dari tempat tidur akibat entakan bumi yang sangat keras.

Kehancuran belum berakhir pasca-gempa. Menjelang fajar, fenomena alam yang lebih mengkhawatirkan muncul di garis pantai.

Air laut tiba-tiba surut drastis hingga dasar laut terlihat jelas, membuat kapal-kapal yang sedang berlabuh terdampar seketika.

Tak berselang lama, air laut kembali dengan kekuatan besar dan menerjang daratan. Gelombang tsunami ini dilaporkan menjangkau jauh ke dalam daratan hingga merendam sebuah jembatan.

Dampak ini menegaskan bahwa tsunami 1818 memiliki daya rusak yang luar biasa.

Rangkaian Gempa Susulan dan Pesan Mitigasi

Berdasarkan catatan sejarah, Bumi tidak langsung tenang setelah kejadian utama. Guncangan susulan terus dirasakan warga hingga setidaknya tanggal 8 April 1818.

Rentetan kejadian ini menjadi bukti nyata bahwa Bengkulu merupakan kawasan dengan aktivitas seismik sangat tinggi akibat interaksi lempeng.

Daryono menekankan bahwa mengingat peristiwa ini adalah bagian dari upaya mitigasi.

“Melawan lupa bukan sekadar mengenang, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman serupa di masa depan,” pungkasnya.

Baca juga:

Picture of FX Jarwo
FX Jarwo
Jurnalis dan penulis konten ProPublika.id. Menggemari isu lingkungan, masyarakat adat, dan hak asasi manusia. Ia pun menulis hal-hal ringan mengenai perjalanan, tips, dan pengetahuan umum dari berbagai sumber.
Bagikan
Berikan Komentar