• Berita
  • Ratusan Gempa Guncang Kalimantan, Ancaman Kegempaan Menguat
Berita

Ratusan Gempa Guncang Kalimantan, Ancaman Kegempaan Menguat

Aktivitas gempa di Kalimantan meningkat tajam. Sepanjang 2025, lebih dari 200 kejadian tercatat, menandai ancaman kegempaan yang perlu diwaspadai.

Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan, Rasmid, menerangkan Kalimantan berpotensi mengalami gempa besar pada masa depan. (Foto : Propublika.id)

BALIKPAPAN — Aktivitas gempa bumi di Kalimantan Timur menunjukkan tren peningkatan tajam dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Sepanjang 2025, lebih dari 200 kejadian gempa tercatat di wilayah Kalimantan, sebuah kondisi yang menegaskan bahwa kawasan ini tidak sepenuhnya bebas dari ancaman kegempaan.

Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan, Rasmid, mengatakan lonjakan tersebut mematahkan anggapan lama bahwa Kalimantan merupakan wilayah yang relatif aman dari gempa bumi.

“Dalam dua sampai tiga tahun terakhir, aktivitas gempa di Kalimantan meningkat cukup signifikan, bahkan bisa dua sampai tiga kali lipat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Rasmid di Balikpapan, Selasa (30/12/2025).

Lebih dari 200 Gempa Sepanjang 2025

Ia menjelaskan, hingga akhir 2025, Stasiun Geofisika Balikpapan mencatat lebih dari 200 kejadian gempa bumi di Kalimantan. Dari jumlah tersebut, 148 gempa terjadi di wilayah Kalimantan Timur.

Jika ditarik lebih jauh, sejak awal pencatatan pada 1915, jumlah kejadian gempa di Pulau Kalimantan telah mencapai sekitar 850 hingga 900 kali.

“Kalau hanya tahun ini saja, sekitar 240 hingga 250 gempa yang terekam. Secara keseluruhan sejak 1915, jumlahnya sudah mendekati 900 kejadian,” jelas Rasmid.

Menurutnya, peningkatan aktivitas ini perlu menjadi perhatian serius karena gempa-gempa kecil sering kali menjadi pendahulu sebelum terjadinya gempa dengan magnitudo yang lebih besar.

“Biasanya sebelum gempa besar terjadi, akan muncul gempa-gempa kecil lebih dulu. Ini yang perlu kita antisipasi,” tegasnya.

Sesar Aktif Jadi Sumber Gempa

Rasmid menyebutkan, meningkatnya kegempaan di Kalimantan tidak terlepas dari aktivitas sejumlah sesar aktif. Di wilayah utara, terdapat Sesar Tarakan sepanjang sekitar 100 kilometer yang membentang dari Tarakan hingga Pulau Bunyu, dengan potensi gempa mencapai magnitudo 7,0.

Di bawahnya, Sesar Mangkalihat di Semenanjung Mangkalihat menunjukkan peningkatan aktivitas yang cukup tajam.

“Aktivitas di Sesar Mangkalihat meningkat dua sampai tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya.

Selain itu, terdapat Sesar Sangkulirang yang pada 1921 pernah memicu gempa besar bermagnitudo 7,0 disertai tsunami setinggi sekitar satu meter. Di Kalimantan Selatan, Sesar Meratus yang membentang di sepanjang Pegunungan Meratus juga memiliki potensi gempa besar hingga magnitudo 7,0.

Sementara itu, Sesar Adang, sesar terpanjang di Kalimantan, membelah wilayah dari Singkawang dan Pontianak hingga ke pesisir timur Kabupaten Paser. Gempa kecil bermagnitudo 2,2 yang terjadi belum lama ini diketahui bersumber dari aktivitas sesar tersebut.

Wilayah Rawan dan Gempa yang Dirasakan Warga

Rasmid menjelaskan, pusat-pusat gempa umumnya berada di sekitar jalur sesar aktif, seperti Tarakan, Berau, Kutai Timur, Bontang, Paser hingga wilayah Kalimantan Selatan. Adapun Kalimantan Tengah relatif lebih stabil karena berada di bagian tengah lempeng tektonik.

Salah satu gempa yang paling dirasakan masyarakat sepanjang 2025 terjadi di Tarakan dengan magnitudo 4,8 pada bulan lalu.

“Itu baru 4,8 saja sudah cukup terasa oleh warga. Padahal potensi gempa di wilayah ini bisa mencapai magnitudo 7,0,” ungkapnya.

Ia menambahkan, perbedaan energi antara gempa bermagnitudo 4,8 dan 7,0 sangat besar karena bersifat logaritmik. “Energinya bisa puluhan kali lipat lebih besar,” katanya.

Ancaman Berulang dan Mitigasi Mendesak

Berdasarkan catatan sejarah kegempaan, Rasmid menegaskan bahwa gempa besar di Kalimantan berpotensi terulang di masa mendatang.

“Gempa bumi itu akan berulang. Ketika stres tektonik sudah menumpuk, energinya akan dilepaskan kembali dalam bentuk gempa besar,” ujarnya.

Meski gempa belum dapat diprediksi secara pasti, ia menilai penguatan mitigasi menjadi langkah yang tidak bisa ditunda, termasuk edukasi kebencanaan serta pemetaan mikrozonasi, terutama di kota-kota besar seperti Balikpapan.

“Balikpapan sampai sekarang belum dilakukan mikrozonasi. Padahal ini penting untuk mengetahui karakter tanah dan dampaknya terhadap getaran gempa,” kata Rasmid.

Sebagai pembanding, kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi satu-satunya wilayah di Kalimantan yang telah dilakukan mikrozonasi dengan hasil relatif baik.

“Di kawasan IKN, batuannya cukup keras dan lapisan tanah penutupnya tipis, sehingga getaran gempa lebih cepat mereda dan risikonya terhadap bangunan menjadi lebih kecil,” jelasnya.

Ia pun mengingatkan pentingnya kesadaran kolektif terhadap potensi bencana gempa di Kalimantan. “Kalimantan tidak baik-baik saja soal gempa. Karena itu, mitigasi dan kesiapsiagaan harus menjadi perhatian utama,” pungkasnya.

Picture of Alfian
Alfian
Jurnalis ProPublika.id. Menulis berbagai hal mengenai kriminal, ekonomi, olahraga, dan lingkungan.
Bagikan
Berikan Komentar