JAKARTA – Wilayah Kepulauan Kuril, Rusia, diguncang gempabumi tektonik kuat dengan magnitudo M 6,3 pada Selasa (13/1/2026) pukul 14.34.06 WIB. Meski memiliki kekuatan yang cukup besar, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa aktivitas seismik tersebut tidak berdampak pada wilayah perairan Indonesia.
Berdasarkan hasil analisis pemutakhiran BMKG, episenter gempabumi terletak pada koordinat 44.609°LU; 149.137° BT. Lokasi ini tepatnya berada di laut pada jarak 120 km arah Tenggara Kuril’sk, Rusia, dengan kedalaman dangkal yakni 21,1 km.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa gempa ini dipicu oleh aktivitas tektonik di zona subduksi.
“Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi ini merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng pada Palung Kurile-Kamchatka (Kurile-Kamchatka Trench). Gempabumi ini memiliki mekanisme naik (thrust fault),” ujar Daryono dalam keterangan tertulisnya, Selasa (13/1/2026).
Dampak dan Imbauan Masyarakat

Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gangguan tektonik di Pasifik Utara ini tidak menimbulkan ancaman gelombang pasang di tanah air. BMKG meminta masyarakat, khususnya yang berada di kawasan pesisir Indonesia, untuk tidak panik.
“Hasil analisis BMKG, gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami di wilayah Indonesia. Oleh karena itu, kepada masyarakat pesisir di wilayah Indonesia dihimbau agar tetap tenang,” tambah Daryono.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan di sekitar lokasi pusat gempa di Rusia. Selain itu, monitoring BMKG hingga pukul 15.00 WIB menunjukkan belum adanya aktivitas gempabumi susulan (aftershock).
Pihak BMKG terus memonitor perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan (stakeholder). Masyarakat diingatkan untuk tidak termakan isu yang tidak bertanggung jawab.
Informasi resmi BMKG bisa dirujuk melalui aplikasi InfoBMKG, situs resmi bmkg.go.id, atau akun media sosial terverifikasi @infoBMKG.
Baca juga:
