Simbol, Solidaritas, dan Ketegangan Struktural: Kelas Menengah dalam Demonstrasi
Demonstrasi ini dapat menjadi peringatan bahwa ketidakpuasan telah menjalar hingga ke kelompok yang selama ini menjadi penopang stabilitas.
Demonstrasi ini dapat menjadi peringatan bahwa ketidakpuasan telah menjalar hingga ke kelompok yang selama ini menjadi penopang stabilitas.
Pertanyaan lebih mendasar kami ajukan: Masih perlukah tentara dan polisi dalam wajah dan watak seperti sekarang di negeri ini?
Intervensi algoritma justru berisiko menjadi alat politik untuk membingkai narasi dan meredam kritik di tengah krisis kepercayaan publik.
Ojek online telah mengubah wajah mobilitas kota, tetapi di balik kenyamanannya tersimpan pertanyaan besar tentang keselamatan, hukum, dan arah masa depan transportasi kita.
Pesta, tarian, atau tunjangan mewah pejabat yang bertabrakan dengan beban warga jadi percik api di tengah kesusahan rakyat.
Kereta Petani-Pedagang wujud empati PT KAI untuk memudahkan distribusi hasil bumi, meningkatkan ekonomi desa, dan menekan urbanisasi.
Arus balik performatif telah dimulai, dan gelombangnya dibawa oleh bendera-bendera fiksi yang tiba-tiba menjadi sangat nyata.
Selama negara abai pada luka rakyat, simbol-simbol alternatif akan terus muncul sebagai penjaga gawang cita-cita kemerdekaan.
Represi hanya memperkuat kegelisahan kolektif, layaknya jelmaan Pemerintah Dunia dalam jagat One Piece yang tiran dan takut kebenaran.
Kenapa praktik feodalisme tak hanya dilakukan elite, tapi juga rakyat biasa? Apa dampaknya bagi demokrasi di Indonesia?