
Buku ini menyediakan lensa untuk mengaitkan ketimpangan masa kini dengan pola historis yang berulang dan beradaptasi.


Buku ini menyediakan lensa untuk mengaitkan ketimpangan masa kini dengan pola historis yang berulang dan beradaptasi.

Dialektika anak muda berpolitik dalam berbagai posisinya perlu dilihat positif karena semakin mendemokratisasi politik Indonesia.

Meme sawit dan “Shinra Tensei” menandai satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dipahami dalam kerangka anime.

“Disahronikan” bukan hanya kata, melainkan sebuah prasasti digital yang menuliskan: “Di sini pernah terjadi amuk. Hati-hati dengan kata-katamu.”

Gerakan masyarakat Pati jadi terisolasi secara digital & fisik, justru memproblematisasi kerapuhan basis material politik digital Indonesia.

Kehadiran kata dinepalkan dalam leksikon politik Indonesia bukan sekadar tren linguistik semata, melainkan alarm yang berdetak kencang.

Demonstrasi ini dapat menjadi peringatan bahwa ketidakpuasan telah menjalar hingga ke kelompok yang selama ini menjadi penopang stabilitas.

Intervensi algoritma justru berisiko menjadi alat politik untuk membingkai narasi dan meredam kritik di tengah krisis kepercayaan publik.

Pesta, tarian, atau tunjangan mewah pejabat yang bertabrakan dengan beban warga jadi percik api di tengah kesusahan rakyat.

Arus balik performatif telah dimulai, dan gelombangnya dibawa oleh bendera-bendera fiksi yang tiba-tiba menjadi sangat nyata.